MAKALAH
FILSAFAT
ILMU
Dosen:
Dr. Maufur
Di
Susun oleh:
Nama:
Farida Fitrotun Nisa
Progdi:
Bimbingan dan Konseling
NPM:
111350060
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BIMBINGAN
DAN KONSELING
UNIVERSITAS
PANCASAKTI TEGAL
2014
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayahNya,
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan lancar. Shalawat dan
salam penulis sampaikan kepada junjungan kami Nabi Muhammad
SAW yang telah memberi petunjuk sehingga
berada di jalan yang benar. Bahan ajaran yang penulis susun ini mempunyai
tujuan menyediakan materi pembahasan filsafat ilmu.
Walaupun penulis telah menyusun
materi ini kemungkinan terdapat kelebihan maupun kekurangan. Sehubungan dengan
hal tersebut, penulis mengharapkan masukan dari pihak pengajar dan pihak
peserta untuk perbaikan.
Tegal,
8 Desember 2014
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pada awalnya
yang pertama muncul adalah filsafat dan ilmu-ilmu khusus merupakan bagian dari
filsafat. Sehingga dikatakan bahwa filsafat merupakan induk atau ibu dari semua
ilmu (mater scientiarum). Karena objek material filsafat bersifat
umum yaitu seluruh kenyataan, pada hal ilmu-ilmu membutuhkan objek
khusus. Hal ini menyebabkan berpisahnya ilmu dari filsafat.
Dalam perkembangan berikutnya,
filsafat tidak saja dipandang sebagai induk dan sumber ilmu, tetapi sudah
merupakan bagian dari ilmu itu sendiri, yang juga mengalami spesialisasi.
Dalam taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup keseluruhan, tetapi sudah
menjadi sektoral. Contohnya filsafat agama, filsafat hukum, dan filsafat ilmu adalah
bagian dari perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan terkotak
dalam satu bidang tertentu. Dalam konteks inilah kemudian ilmu sebagai kajian
filsafat sangat relevan untuk dikaji dan didalami (Bakhtiar, 2005).
Ada hubungan timbal balik antara ilmu dengan filsafat. Banyak masalah
filsafat yang memerlukan landasan pada pengetahuan ilmiah apabila pembahasannya
tidak ingin dikatakan dangkal dan keliru. Ilmu dewasa ini dapat menyediakan
bagi filsafat sejumlah besar bahan yang berupa fakta-fakta yang
sangat penting bagi perkembangan ide-ide filsafati yang tepat sehingga sejalan
dengan pengetahuan ilmiah (Siswomihardjo,2003).
Filsafat merupakan jenis pengetahuan yg menyelidiki segala sesuatu yang ada
dan yang mungkin ada dengan kajian yg rinci untuk menemukan esensi (
hakikat ) dari objek yang dikaji. Filsafat identik dengan ilmu
pengetahuan karena merupakan semua hasil dari pemikiran teoritis para pemikir ,
yang artinya para ahli menciptakan ide dan pendapat sebagai rujukan dan
pedoman bagi orang lain.
Menurut arti
kata filsafat adalah suatu kebijaksanaan hidup ( filosofia ), berdasartan arti
kata ini berbagai definisi filsafat muncul, beberapa unsur pengertian filsafat
adalah :
a.Filsafat
merupakan suatu ilmu pengetahuan. Karena itu filsafat berbeda dengan pengalaman
hidup karena pengalaman hidup menghasilkan kebijaksanaan tetapi kebijaksanaan
belum tentu menjadi filsafat secara teknis. Supaya menjadi filsafat perlu
pengkajian secara mendalam dengan metode berfikir yang memadai.
b.Filsafat berbeda dengan ilmu pengetahuan lainnya
karena mempunyai objeknya
sendiri.
c.Jalan untuk memperoleh pandangan hidupialah dengan
jalan refleksi atas
pengalaman itu sendiri.
B. Runusan Masalah
A. Pengertian
Filsafat
B. Pengertian
Filsafat Ilmu
C. Ilmu
Pengetahuan
D. Peranan
Filsafat Dalam Ilmu Pengetahuan
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Filsafat
Perkataan Inggris philosophy yang
berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim
diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta)
dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno
itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang
semula itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan
saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan
intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan
kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang Gie, 1999).
Banyak
pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah
dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984),
secara harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya adalah
pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah
realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika,
etika, estetika dan teori pengetahuan.
Menurut
sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan
oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran
seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa
dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan
penalarannya untuk mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).
Timbulnya
filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya
kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam
perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak
semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara memuaskan. Jawaban yang diperoleh
menurut Koento Wibisono dkk. (1997), dengan melakukan refleksi yaitu berpikir
tentang pikirannya sendiri. Dengan demikian, tidak semua persoalan itu harus
persoalan filsafat.
B.
Pengertian
Filsafat Ilmu
Menurut The
Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap
persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun
hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu
merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya
bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan
ilmu.
Filsafat
ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat
ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah
mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama.
Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru.
Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan
(sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu
mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik
dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja
kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan
manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh karena itu, diperlukan
perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu
bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu
kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau
mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento
Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu
yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek
sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang
filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah
hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
C. Ilmu Pengetahuan
1.
Pengertian Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki,
menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.
Beberapa pendapat para ahli tentang
ilmu pengetahuan :
-
Harold H. Titus mendefinisikan “Ilmu (Science)
diartikan sebagai common science yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan
pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan
metode-metode observasi yang teliti dan kritis).
-
Dr. Mohammad Hatta mendefinisikan “Tiap-tiap ilmu
pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan kausal dalam satu golongan masalah
yang sama tabiatnya, baik menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut
bangunannya dari dalam.”
-
J. Habarer mendefinisikan “ Suatu hasil
aktivitas manusia yang merupakan kumpulan teori, metode dan praktek dan menjadi
pranata dalam masyarakat.”
-
Louis Leahy
mendefinisikan “Pengetahuan merupakan suatu
kekayaan dan kesempurnaan. Seseorang yang tahu lebih banyak adalah lebih baik
kalau dibanding dengan yang tidak tahu apa-apa
-
The Liang
Gie
mendefinisikan “Ilmusebagaipengetahuan,
artinyailmuadalahsesuatukumpulan yang sistematis,
atausebagaikelompokpengetahuanteraturmengenaipokoksoalatau subject matter.
Dengan kata lainbahwapengetahuanmenunjukpadasesuatu yang merupakanisisubstantif
yang terkandungdalamilmu.
2.
Karakteristik Ilmu Pengetahuan
Karakteristik ilmu pengetahuan diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Kongkrit, yaitu dapat diukur kebenaranya
2.
Kehadiran objek dan subjek tidak dapat dipisahkan atau
memiliki keterkaitan satu sama lainnya.
3.
Tidak terbatas sehingga masih banyak ilmu pengetahuan
yang harus digali lagi dan tidak mempunyai keterbatasan tertentu.
4.
Metodologi yang digunakan untuk memperoleh ilmu
pengetahuan.
5.
Rasionalis ; Penalarannya berdasarkan ide yang
dianggap jelas dan dapat diterima oleh akal.
6.
Wahyu ; Tidak menggunakan penalaran, tetapi
menggunakan wahyu sebagai sumber pengetahuan.
7.
Hasil ilmu bersifat akumulatif dan
merupakan milik bersama.
8.
Kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kesalahan.
9.
Obyektif tidak bergantung pada pemahaman
secara pribadi.
3.
Ciri – ciri Ilmu Pengetahuan
Menurut The Liang Gie (1987) ilmu
pengetahuan mempunyai 5 ciri pokok yaitu
:
1. Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan
2. Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan
pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur
3. Objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan
dan kesukaan pribadi
4. Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke
dalam bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan
peranan dari bagian-bagian itu
5. Verifikatif, dapat diperiksa kebenarannya oleh siapa pun juga.
Menurut Ismaun (2001) mengetengahkan sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai
berikut :
1. Obyektif; ilmu berdasarkan hal-hal yang
obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional subyektif,
2. Koheren; pernyataan/susunan ilmu tidak
kontradiksi dengan kenyataan;
3. Reliable; produk dan cara-cara memperoleh ilmu
dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keterandalan (reabilitas) tinggi,
4. Valid; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan
melalui alat ukur dengan tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi, baik secara
internal maupun eksternal,
5. Memiliki generalisasi; suatu kesimpulan dalam ilmu dapat
berlaku umum,
6. Akurat; penarikan kesimpulan memiliki keakuratan (akurasi)
yang tinggi, dan
7. Dapat melakukan prediksi; ilmu dapat
memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal.
4.
Syarat- syarat Ilmu
Suatu pengetahuan dapat dikatakan
sebagai ilmu apabila dapat memenuhi persyaratan-persyaratan, sebagai berikut
1. Ilmu mensyaratkan
adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam (kosmologi)
maupun tentang manusia (Biopsikososial).
2. Ilmu mensyaratkan
adanya metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu.
3. Pokok permasalahan (subject
matter atau focus of interest). ilmu mensyaratkan adanya
pokok permasalahan yang akan dikaji.
Jadi seluruh bentuk ilmu pengetahuan dapat digolongkan kedalam kategori ilmu pengetahuan dimana masing-masing bentuk dapat dicirikan oleh karakterristik obyek ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis.
Salah satu dari
bentuk ilmu pengetahuan ditandai dengan :
1. Obyek
Ontologis : yaitu pengalaman manusia yakni segenap wujud yang dapat dijangkau
lewat panca indra atau alat yang membantu kemampuan panca indra.
2. Landasan
Epistemologis : metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dengan
pengajuan hipotesis atau yang disebut logico hypotetico verifikasi.
3. Landasan
Aksiologis : kemaslahatan umat manusia artinya segenap wujud ilmu pengetahuan
itu secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.
5.
Peranan Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan
Semakin banyak manusia tahu, semakin banyak pula
pertanyaan yang timbul dalam dirinya. Manusia ingin tahu tentang asal dan
tujuan hidup, tentang dirinya sendiri, tentang nasibnya, tentang kebebasannya,
dan berbagai hal lainnya. Sikap seperi ini pada dasarnya sudah menghasilkan
pengetahuan yang sangat luas, yang secara metodis dan sistematis dapat dibagi
atas banyak jenis ilmu.
Ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan
diri dalam dunia dan memecahkan berbagai persoalan hidup. Berbeda dari
binatang, manusia tidak dapat membiarkan insting mengatur perilakunya. Untuk
mengatasi masalah-masalah, manusia membutuhkan kesadaran dalam memahami
lingkungannya. Di sinilah ilmu-ilmu membantu manusia mensistematisasikan apa
yang diketahui manusia dan mengorganisasikan proses pencariannya.
Pada abad modern ini, ilmu-ilmu pengetahuan telah
merasuki setiap sudut kehidupan manusia. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena
ilmu-ilmu pengetahuan banyak membantu manusia mengatasi berbagai masalah
kehidupan. Prasetya T. W. dalam artikelnya yang berjudul “Anarkisme dalam Ilmu
Pengetahuan Paul Karl Feyerabend” mengungkapkan bahwa ada dua alasan mengapa
ilmu pengetahuan menjadi begitu unggul. Pertama, karena ilmu pengetahuan
mempunyai metode yang benar untuk mencapai hasil-hasilnya. Kedua, karena
ada hasil-hasil yang dapat diajukan sebagai bukti keunggulan ilmu pengetahuan. Dua alasan yang diungkapkan Prasetya tersebut, dengan
jelas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memainkan peranan yang cukup penting
dalam kehidupan umat manusia.
Akan tetapi, ada pula tokoh yang justru anti terhadap
ilmu pengetahuan. Salah satu tokoh yang cukup terkenal dalam hal ini adalah
Paul Karl Feyerabend. Sikap anti ilmu pengetahuannya ini, tidak berarti anti
terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi anti terhadap kekuasaan ilmu
pengetahuan yang kerap kali melampaui maksud utamanya. Feyerabend menegaskan
bahwa ilmu-ilmu pengetahuan tidak menggunguli bidang-bidang dan bentuk-bentuk
pengetahuan lain. Menurutnya, ilmu-ilmu pengetahuan menjadi lebih unggul karena
propaganda dari para ilmuan dan adanya tolak ukur institusional yang diberi
wewenang untuk memutuskannya.
Sekalipun ada berbagai kontradiksi tentang keunggulan
ilmu pengetahuan, tidak dapat disangkal bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnya
memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat. Hal ini tidak
terlepas dari peranan ilmu pengetahuan dalam membantu manusia mengatasi
masalah-masalah hidupnya, walaupun kadang-kadang ilmu pengetahuan dapat pula
menciptakan masalah-masalah baru.
Meskipun demikian, pada kenyataannya peranan ilmu pengetahuan dalam
membantu manusia mengatasi masalah kehidupannya sesungguhnya terbatas. Seperti
yang telah diungkapkan pada bagian pendahuluan, keterbatasan itu terletak pada
cara kerja ilmu-ilmu pengetahuan yang hanya membatasi diri pada tujuan atau
bidang tertentu. Karena pembatasan itu, ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan tentang keseluruhan manusia. Untuk mengatasi masalah ini,
ilmu-ilmu pengetahuan membutuhkan filsafat. Dalam hal inilah filsafat menjadi
hal yang penting.
C.Verhaak dan R.Haryono Imam dalam bukunya yang
berjudul Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu, menjelaskan
dua penilaian filsafat atas kebenaran ilmu-ilmu.
Pertama, filsafat ikut menilai apa yang dianggap “tepat” dan “benar” dalam
ilmu-ilmu. Apa yang dianggap tepat dalam ilmu-ilmu berpulang pada ilmu-ilmu itu
sendiri. Dalam hal ini filsafat tidak ikut campur dalam bidang-bidang ilmu itu.
Akan tetapi, mengenai apa kiranya kebenaran itu, ilmu-ilmu pengetahuan tidak
dapat menjawabnya karena masalah ini tidak termasuk bidang ilmu mereka. Hal-hal
yang berhubungan dengan ada tidaknya kebenaran dan tentang apa itu kebenaran
dibahas dan dijelaskan oleh filsafat. Kedua, filsafat memberi penilaian
tentang sumbangan ilmu-ilmu pada perkembangan pengetahuan manusia guna mencapai
kebenaran.
Dari dua penilaian
filsafat atas kebenaran ilmu-ilmu di atas, dapat dillihat bahwa ilmu-ilmu
pengetahuan (ilmu-ilmu pasti) tidak langsung berkecimpung dalam usaha manusia
menuju kebenaran. Usaha ilmu-ilmu itu lebih merupakan suatu sumbangan agar
pengetahuan itu sendiri semakin mendekati kebenaran. Filsafatlah yang secara
langsung berperan dalam usaha manusia untuk mencari kebenaran. Di dalam
filsafat, berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan kebenaran dikumpulkan dan
diolah demi menemukan jawaban yang memadai.
Franz Magnis Suseno
mengungkapkan dua arah filsafat dalam usaha mencari jawaban dari berbagai
pertanyaan sebagai berikut: pertama, filsafat harus mengkritik
jawaban-jawaban yang tidak memadai. Kedua, filsafat harus ikut mencari
jawaban yang benar. Kritikan dan jawaban yang diberikan
filsafat sesungguhnya berbeda dari jawaban-jawaban lain pada umumnya. Kritikan
dan jawaban itu harus dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Pertanggungjawaban
rasional pada hakikatnya berarti bahwa setiap langkah harus terbuka terhadap
segala pertanyaan dan sangkalan, serta harus dipertahankan secara argumentatif
dengan argumen-argumen yang objektif. Hal ini berarti
bahwa kalau ada yang mempertanyakan atau menyangkal klaim kebenaran suatu
pemikiran, pertanyaan dan sangkalan itu dapat dijawab dengan argumentasi atau
alasan-alasan yang masuk akal dan dapat dimengerti.
Dari berbagai penjelasan di atas, tampak jelas bahwa filsafat selalu
mengarah pada pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat dilakukan dengan
menilai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada secara kritis sambil berusaha menemukan
jawaban yang benar. Tentu saja penilaian itu harus dilakukan dengan
langkah-langkah yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat sendiri, senantiasa harus terbuka
terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan evaluasi demi mencapai
kebenaran yang dicari.
Inilah yang menunjukkan kekhasan filsafat di hadapan
berbagai ilmu pengetahuan yang ada. Filsafat selalu terbuka untuk berdialog dan
bekerjasama dengan berbagai ilmu pengetahuan dalam rangka pencarian akan
kebenaran. Baik ilmu pengetahuan maupun filsafat, bila diarahkan secara tepat
dapat sangat membantu kehidupan manusia.
Membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada
paradigma yang membentuknya. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu
pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan
tantangan zaman, karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri,
tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia
Hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh
pendekatan filsafat. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses
berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari
solusi masalah kehidupan.antara ilmu Pengetahuan dan ilmu Filsafat ada
persamaan dan perbedaannya.Ilmu Pengetahuan bersifat Posterior kesimpulannya
ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara berulang-ulang sedangkan
Filsafat bersifat priori kesimpulannya ditarik tanpa pengujian,sebab Filsafat
tidak mengharuskan adanya data empiris seperti yang dimiliki ilmu karena
Filsafat bersifat Spekulatif.Disamping adanya perbedaan antara ilmu dengan
filsafat ada sejumlah persamaan yaitu sama-sama mencari kebenaran.Ilmu memiliki
tugas melukiskan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan aktivitas ilmu
digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan fakta sedangkan
filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana sesungguhnya fakat itu
darimana awalnya dan akan kemana akhirnya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Antara ilmu
Pengetahuan dan Filsafat ilmu ada
persamaan dan perbedaannya.Ilmu Pengetahuan bersifat Posterior kesimpulannya
ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara berulang-ulang sedangkan
Filsafat bersifat priori kesimpulannya ditarik tanpa pengujian,sebab Filsafat
tidak mengharuskan adanya data empiris seperti yang dimiliki ilmu karena
Filsafat bersifat Spekulatif.Disamping adanya perbedaan antara ilmu dengan
filsafat ada sejumlah persamaan yaitu sama-sama mencari kebenaran.Ilmu memiliki
tugas melukiskan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan aktivitas ilmu
digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan fakta sedangkan
filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana sesungguhnya fakta itu
darimana awalnya dan akan kemana akhirnya.
B.
Saran
Demikianlah
pembahasantentang Filsafat Ilmu. Pembahasan hanya merunut dimanakah posisi dan peran
filsafat dalam dunia keilmuan. Saya sadari dalam makalah ini masih banyak
kekurangan sehingga saya sebagai penyaji memohon saran dan kritik pembangun,
sebagai alat pacu perbaikan bagi saya. Demikianlah penyajian saya atas
perhatiannya saya ucapkan terimakasih.
DAFTAR
PUSTAKA
The Liang
Gie., 1999., Pengantar Filsafat Ilmu”, Cet. Ke-4, Penerbit Liberty Yogyakarta,
p.29, 31, 37, 61, 68, 85, 93, 159, 161.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar