MAKALAH
TEORI
KEPRIBADIAN
Dosen
Pengampu: Rahmad Agung Nugraha, S.psi, M.si

Nama:
Farida Fitrotun Nisa
Progdi:
BK/4A
NPM:
1113500060
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BIMBINGAN
DAN KONSELING
UNIVERSITAS
PANCASAKTI TEGAL
2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahnya
yang tercurahkan kepada kami. Shalawat serta salam Nabi kami panjatkan kepada
junjungan Nabi besar kita Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para
pengikutnya sampai akhir zaman.
Atas
anugerah dan bimbinganNya saya dapat menyelesaikan makalah ini yang merupakan
salah satu tugas dari mata kuliah Praktikum Konseling Individu. Saya menyadari
bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu
saya samgat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan makalh ini.
Saya
sampaikan terima kasih kapada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kami dan kepada
para pembacanya.
Tegal, Juni 2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Istilah personality berasal dari kata latin
“persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai
oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku,
watak, atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana
seseorang tampak pada orang lain.
Menurut
Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas
psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya
yang unik.
Sedangkan personality menurut Kartini Kartono dan
Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang
yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari
struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendiriran, kemampuan dan potensi
yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana
diketahui oleh orang lain.
Allport
juga mendefinisikan personality sebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang
dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap
lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap,
nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat
psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan
fisik anak secara umum.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian teori kepribadian?
2. Bagaimana
toeri kepribadian menurut para ahli?
3. Bagaimana
perkembangan kepribadian itu?
C. Tujuan
Penulisan
1. Untuk
dapat memahami dan mengetahui tentang teori kepribadian
2. Untuk
dapat memahami dan mengetahui teori kepribadian menurut para ahli
3. Untuk
dapat memahami dan mengetahui perkembangan kepribadian
D. Manfaat
Penulisan
Agar pembaca atau calon konselor mampu memahami dan mengetahui tentang teori kepribadian.
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Teori Kepribadian
Dari https://ebekunt.wordpress.com/2009/04/29/teori-kepribadian/Teori merupakan salah satu unsur penting dari setiap pengetahuan ilmiah atau ilmu, termasuk psikologi kepribadian. Tanpa teori kepribadian usaha memahami perilaku dan kepribadian manusia
pasti sulit untuk dilaksanakan. Apakah yang dimaksud dengan teori kepribadian?
Menurut Hall dan Lindzey (Koeswara,1991 : 5), teori kepriadian adalah
sekumpulan anggapan atau konsep-konsepyang satu sama lain berkaitan mengenai
tingkah laku manusia.
Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu
totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah
lakunya yang unik. Allport juga mendefinisikan
personalitysebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis
dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan.
Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai,
keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis tetapi
mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara
umum.
Ø Fungsi
Teori Kepribadian
Sama seperti teori
ilmiah pada umumnya yang memiliki fungsi deskriptif dan prediktif, begitu juga
teori kepribdian. Berikut penjelaskan fungsi deskriptif dan prediktif dari
teori kepribadian.
1. Fungsi Deskriptif
Fungsi deskriptif
(menjelaskan atau menggambarkan) merupakan fungsi teori kepribadian dalam
menjelaskan atau menggambarkan perilaku atau kepribadian manusia secara rinci,
lengkap, dan sistematis. Pertanyaan-pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana
seputar perilaku manusia dijawab melalui fungsi deskriptif.
2. Fungsi Prediktif
Teori kepribadian
selain harus bisa menjelaskan tentang apa, mengapa, dan bagaimana tingkah laku
manusia sekarang, juga harus bisa memperkirakan apa, mengapa, dan bagaimana
tingkah laku manusia di kemudian hari. Dengan demikian teori kepribadian harus
memiliki fungsi prediktif.
Ø Klasifikasi
Teori-teori Kepribadian
Dewasa ini telah banyak
teori-teori kepribadian untuk memudahkan mempelajari para ahli telah
mengklasifikasikan teori-teori tersebut ke dalam beberapa kelompok dengan
menggunakan acuan tertentu yaitu paradigma yang dipakai untuk mengembangkannya.
Berdasarkan paradigma yang dipergunakan dalam mengembankannya, teori kepribadian
dibedakan menjadi 4 paradigma (Alwisol, 2005: 2-7). Kempat paradigma tersebut
adalah:
1. Paradigma
psikoanalisis: tradisi klinis psikiatri.
2. Paradigma traits:
tradisi psikologi fungsionalisme dan psikologi pengukuran.
3. Paradigma kognitif:
tradisi Gestalt.
4. Paradigma
behaviorisme: tradisi kondisioning.
Adapula klasifikasi
teori kepribadian yang didasarkan pada sejarah perkembangannya yang kemudian
menjadi kekutan besar yang dijadikan orientasi dalam pengembangan teori-teori
kepribadian. Boeree (2005 : 29) menyatakan bahwa ada 3 orientasi atau kekuatan
besar dalam teori kepribadian, yaitu :
1. Psikoanalisis
beserta aliran-aliran yang dikembangkan atas paradigma yang sama atau hampir
sama, yang dipandang sebagai kekuatan pertama.
2. Behavioristik yang
dipandang sebagai kekuatan kedua.
3. Humanistik, yang
dinyatakan sebagai kekuatan ketiga
Ø Dimensi-dimensi
Teori Kepribadian
Setiap teori
kepribadian diharapkan mampu memberikan jawab atas pertanyaan sekitar apa,
mengapa, dan bagaimana tentang perilaku manusia. Untuk itu setiap teori
kepribadian yang lengkap, menurut Pervin (Supratiknya, 1995 : 5-6), biasanya
memiliki dimensi-dimensi sebagai berikut :
1. Pembahasan tentang
struktur, yaitu aspek-aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil dan
menetap, serta yang merupakan unsur-unsur pembentuk sosok kepribadian.
2. Pembahasan tentang
proses, yaitu konsep-konsep tentang motivasi untuk menjelaskan dinamika tingkah
laku atau kepribadian.
3. Pembahasan tentang
pertumbuhan dan perkembangan, yaitu aneka perubahan pada struktur sejak masa
bayi sampai mencapai kemasakan, perubahan-perubahan pada proses yang
menyertainya, serta berbagai faktor yang menentukannya.
4. Pembahasan tentang
psikopatologi, yaitu hakikat gangguan kepribadian atau tingkah laku beserta
asal-usul atau proses perkembangannya.
5. Pembahasan tentang
perubahan tingkah laku, yaitu konsepsi tentang bagaimana tingkah laku bisa
dimodifikasi atau diubah.
Dalam http://atpsikologi.blogspot.com/2010/02/teori-teori-kepribadian-ada-empat-teori.htmlAda empat
teori kepribadian utama yang satu sama lain tentu saja berbeda, yakni teori
kepribadian psikoanalisis, teori-teori sifat (trait), teori kepribadian
behaviorisme, dan teori psikoligi kognitif.
1. Teori Kepribadian Psikoanalisis
Dalam mencoba mamahami sistem kepribadian manusia, Freud membangun model
kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan satu sama lain.
Konflik dasar dari tiga sistem kepribadian tersebut menciptakan energi psikis
individu. Energi dasar ini menjadi kebutuhan instink individu yang menuntut
pemuasan. Tiga sistem tersebut adalah id, ego, dan superego.
Id bekerja
menggunakan prinsip kesenangan, mencari pemuasan segera impuls biologis; ego
mematuhi prinsip realita, menunda pemuasan sampai bisa dicapai dengan cara yang
diterima masyarakat, dan superego (hati nurani;suara hati) memiliki standar
moral pada individu. Jadi jelaslah bahwa dalam teori psikoanalisis Freud, ego
harus menghadapi konflik antara id ( yang berisi naluri seksual dan agresif
yang selalu minta disalurkan) dan super ego (yang berisi larangan yang
menghambat naluri-naluri itu). Selanjutnya ego masih harus mempertimbangkan
realitas di dunia luar sebelum menampilkan perilaku tertentu.
Namun, dalam
psikoanalisis Carl Gustav Jung, ego bukannya menghadapi konflik antara id dan
superego, melainkan harus mengelola dorongan-dorongan yang datang dari ketidak
sadaran kolektif (yang berisi naluri-naluri yang diperoleh dari pengalaman masa
lalu dari masa generasi yang lalu) dan ketidaksadaran pribadi yang berisi
pengalaman pribadi yang diredam dalam ketidaksadaran. Berbeda dengan Freud,
Jung tidak mendasarkan teorinya pada dorongan seks.
Bagi
erikson, misalnya meskipun ia mengakui adanya id, ego, dan superego,
menurutnya, yang terpenting bukannya dorongan seks dan bukan pula koflik antara
id dan superego. Bagi Erikson, manusia adalah makhluk rasional yang pikiran,
perasaan, dan perilakunya dikendalikan oleh ego. Jadi ego itu aktif, bukan
pasif seperti pada teori freud, dan merupakan unsur utama dari kepribadian yang
lebih banyak dipengarihi oleh faktor sosial daripada dorongan seksual.
2. Teori-Teori Sifat (Trait
Theories)
Teori sifat ini dikenal sebagai teori-teori tipe (type theories) yang
menekankan aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil atau menetap.
Tepatnya, teori-teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki sifat atau sifat-sifat
tertentu, yakni pola kecenderungan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu.
Sifat-sifat yang stabil ini menyebabkan manusia bertingkah laku relatif tetap
dari situasi ke situasi.
Allport membedakan antara sifat umum (general trait) dan kecenderungan
pribadi (personal disposition). Sifat umum adalah dimensi sifat yang dapat
membandingkan individu satu sama lainnya. Kecenderungan pribadi dimaksudkan
sebagai pola atau konfigurasi unik sifat-sifat yang ada dalam diri individu.
Dua orang mungkin sama-sama jujur, namun berbeda dalam hal kejujuran berkaitan
dengan sifat lain. Orang pertama, karena peka terhadap perasaan orang lain,
kadang-kadang menceritakan “kebohongan putih” bagi orang ini, kepekaan
sensitivitas adalah lebih tinggi dari kejujuran. Adapun orang orang kedua
menilai kejujuran lebih tinggi, dan mengatakan apa adanya walaupun hal itu
melukai orang lain. Orang mungkin pula memilki sifat yang sama, tetapi dengan
motif berbeda. Seseorang mungkin berhati-hati karena ia takut terhadap pendapat
orang lain, dan orang lain mungkin hati-hati karena mengekspresikan
kebutuhannya untuk mempertahankan keteraturan hidup.
Termasuk
dalam teori-teori sifat berikutnya adalah teori-teori dari Willim Sheldom.
Teori Sheldom sering digolongkan sebagai teori topologi. Meskipun demikian ia
sebenarnya menolak pengotakkan menurut tipe ini. Menurutnya, manusia tidak
dapat digolongkan dalam tipe ini atau tipe itu. Akan tetapi, setidak-tidaknya
seseorang memiliki tiga komponen fisik yang berbeda menurut derajat dan tingkatannya
masing-masing. Kombinasi ketiga komponen ini menimbulkan berbagai kemungkinan
tipe fisik yang isebutnya sebagai somatotipe.
Menurut
Sheldom ada tiga komponen atau dimensi temperamental adalah sebagai berikut :
a.
Viscerotonia. Individu yang memiliki nilai viscerotonia yang tinggi, memiliki
sifat-sifat, antara lain suka makan enak, pengejar kenikmatan, tenang toleran,
lamban, santai, pandai bergaul.
b.
Somatotonia. Individu dengan sifat somatotonia yang tinggi memiliki sifat-sifat
seperti berpetualang dan berani mengambil resiko yang tinggi, membutuhkan
aktivitas fisik yang menantang, agresif, kurang peka dengan perasaan orang
lain, cenderung menguasai dan membuat gaduh.
c.
Cerebretonia. Pribadi yang mempunyai nilai cerebretonia dikatakan bersifat
tertutup dan senang menyendiri, tidak menyukai keramaian dan takut kepada orang
lain, serta memiliki kesadaran diri yang tinggi. Bila sedang di rundung
masalah, Ia memiliki reaksi yang cepat dan sulit tidur.
3. Teori Kepribadian Behaviorisme
Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan
tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku,
melainkan tempat kedudukan atau suatu poin yang faktor-faktor lingkungan dan
bawaan yang khas secara bersama-sama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang
khas pula pada individu tersebut.
Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola
yang khas dari kaitan antara tingkah laku organisme dan berbagai konsekuensi
yang diperkuatnya.
Selanjutnya,
Skinner telah menguraikan sejumlah teknik yang digunakan untuk mengontrol
perilaku. Tekhnik tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
1) Pengekangan fisik (psycal
restraints)
Menurut skinner, kita mengntrol
perilaku melalui pengekangan fisik.
Misalnya,
beberapa dari kita menutup mulut untuk menghindari diri dari menertawakan
kesalahan orang lain. Orang kadang-kadang melakukannya dengan bentuk lain,
seperti berjalan menjauhi seseorang yang tealh menghina ita agar tidak
kehilangan kontrol dan menyerang orang tersebut secara fisik.
2) Bantuan fisik (physical aids)
Kadang-kadang
orang menggunakan obat-obatan untuk mengontrol perilaku yang tidak dinginkan.
Misalnya, pengendara truk meminum obat perangsang agar tidak mengatuk saat
menempuh perjalanan jauh. Bantuan fisik bisa juga digunakan untuk memudahkan
perilaku tertentu, yang bisa dilihat pada orang yang memiliki masalah
penglihatan dengan cara memakai kacamata.
3) Mengubah kondisi stimulus
(changing the stimulus conditions)
Suatu
tekhnik lain adalah mengubah stimulus yang bertanggunggung jawab. Misalnya,
orang yang berkelebihan berat badan menyisihkan sekotak permen dari hadapannya
sehingga dapat mengekang diri sendiri.
4) Memanipulasi kondisi emosional
(manipulating emotional conditions)
Skinner
menyatakan terkadang kita mengadakan perubahan emosional dalam diri kita untuk
mengontrol diri. Misalnya, beberapa orang menggunakan tekhnik meditasi untuk
mengatasi stess.
5) Melakukan respons-respons lain
(performing alternativeresponses)
Menurut
Skinner, kita juga sering menahan diri dari melakukan perilaku yang membawa
hukuman dengan melakukan hal lain. Misalnya, untuk menahan diri agar tidak
menyerang orang yang sangat tidak kita sukai, kita mungkin melakukan tindakan
yang tidak berhubungan dengan pendapat kita tentang mereka.
6) Menguatkan diri secara positif
(positif self-reinforcement)
Salah satu
teknik yang kita gunakan untuk mengendalikan perilaku menurut Skinner, adalah
positive self-reinforcement. Kita menghadiahi diri sendiri atas perilaku yang
patut dihargai. Misalnya, seorang pelajar menghadiahi diri sendiri karena telah
belajar keras dan dapat mengerjakan ujian dengan baik, dengan menonton film
yang bagus.
7) Menghukum diri sendiri (self
punishment)
Akhirnya,
seseorang mengkin menghukum diri sendiri karena gagal mencapai tujuan diri
sendiri. Misalnya, seorang mahasiswa menghukum dirinya sendiri karena gagal
melakukan ujian dengan baik dengan cara menyendiri dan belajar kembali dengan
giat.
4. Teori Psikologi Kognitif
Menurut para ahli, teori psikologi kognitif dapat dikatakan berawal dari
pandangan psikologi Gestalt. Mereka berpendapat bahwa dalam memersepsi
lingkungannya, manusia tidak sekadar mengandalkan diri pada apa yang diterima
dari penginderaannya, tetapi masukan dari pengindraan itu, diatur, saling
dihubungkan dan diorganisasikan untuk diberi makna, dan selanjutnya dijadikan
awal dari suatu perilaku.
Pandangan
teori kognitif menyatakan bahwa organisasi kepribadian manusia tidak lain
adalah elemen-elemen kesadaran yang satu sama lain saling terkait dalam
lapangan kesadaran (kognisi). Dalam teori ini, unsur psikis dan fisik tidak
dipisahkan lagi, karena keduanya termasuk dalam kognisi manusia. Bahkan, dengan
teori ini dimungkinkan juga faktor-faktor diluar diri dimasukkan (diwakili)
dalam lapangan psikologis atau lapangan kesadaran seseorang.
2.
Teori Kepribadian Menurut Para Ahli
a.
Teori kepribadian menurut Sigmund Freud
menurut-sigmund-freud.htmlMenurut
Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni
sadar(conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Konsep
dariteori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar
yang
mengendalikan sebagian besar
perilaku. Selain itu, dia juga memberikan
pernyataan bahwa perilaku manusia didasari pada hasrat
seksualitas (eros) yang
pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil
dari ibunya. Alam bawah sadar yang digambarkan freud memiliki 3 unsur, yaitu
id, ego dan super ego.
• ID
Id merupakan Kepribadian yang asli;
Id merupakan sumber dari kedua sistem/energi yang lain yaitu ego dan superego.
Id terdiri dari dorongan-dorongan biologis dasar seperti kebutuhan makan, minum
dan sex.
Didalam Id terdapat dua jenis energi
yang bertentangan dan sangat mempengaruhi kehidupan dan kepribadian individu,
yaitu insting kehidupan dan insting kematian. Insting kehidupan ini disebut
libido. Dorongan-dorongan dalam Id selalu ingin dipuaskan dan dalam
pemuasannnya Id selalu berupaya menghindari pengalaman–pengalaman yang tidak
menyenangkan. Makanya cara pemuasan dari dorongan ini disebut prinsip kesenangan
( pleasure principle ).
• EGO
Ego merupakan energi yang mendorong
untuk mengikuti prinsip kenyataan (reality principle), dan beroperasi menurut
proses sekunder. Tujuan prinsip sekunder ini adalah mencegah terjadinya
tegangan sampai ditemukannya suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan.
Ego menjalankan fungsi pengendalian
yang berupaya untuk pemuasan dorongan Id itu bersifat realistis dan sesuai
dengan kenyataan. Dengan kata lain fungsi ego adalah menyaring
dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh ID berdasarkan kenyataan.
• SUPEREGO
Superego adalah suatu gambaran
kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanamkan oleh adat
istiadat, agama, orang tua, guru dan orang- orang lain pada anak.
Karena itu pada dasarnya Superego
adalah hati nurani (concenience) seseorang yang menilai benar atau salahnya
suatu tindakan seseorang.itu berarti Superego mewakili nilai-nilai ideal dan
selau berorientasi pada kesempurnaan. Cita-cita individu juga diarahkan pada
nilai-nilai ideal tersebut, sehingga setiap individu memiliki gambaran tentang
dirinya yang paling ideal (Ego-ideal).
Bersama-sama dengan ego, Superego
mengatur dan mengarahkan tingkah laku individu yang mengarahkan
dorongan-dorongan dari Id berdasarkan aturan-aturan dalam masyarakat, agama
atau keyakinan-keyakinan tertentu mengenai perilaku yang baik dan buruk.
Mengakhiri deskripsi singkat diatas
tentang ketiga sistem kepribadian diatas, harus diingat bahwa Id, Ego, dan
Superego tidak dipandang sebagai orang – orangan yang menjalankan suatu
kepribadian mental.
Ketiga system diatas tersebut
hanyalah nama-nama untuk berbagai proses psikologis yang mengikuti
prinsip-prinsip system yang berbeda. Dalam keadaan biasa, prinsip-prinsip yang
berlainan ini tidak bentrok satu sama lain, dan tidak bekerja secara
bertentangan.
Bentuk dorongan hidup adalah
dorongan agresi seperti keinginan menyerang , berkelahi, danmerupakan bawaan
lahir yang beberapa proses terjadi pada suatu tingkat kesadaran, sedangkan yang
lainnya terjadi pada tingkat yang tidak disadari. Id tidak membedakan antara
pikiran dan perbuatan, antara yang nyata dan hanya dalam hayalan saja.
Proses id mencari kesenangan dan
perasaan benar atau salah, direfleksiakn didalam superego, sering berselisih.
Ego menyeleseikan konflik ini melalui berbagai mekanisme pertahanan.
Mekanisme ini mencakup:
- Represi (memaksakan kepercayaan
nilai, dan pengharapan yang mengancam keluar dari kesadaran)
- Pengalihan (mengalihkan reaksi
emosional dari satu objek ke objek yang lain)
- Sublimasi (mencari cara yang dapat
diterima untuk mengungkapkan dorongan yang dengan cara lain tidak diterima)
- Rasionalsasi ( memberikan alasan
yang meragukan untuk membenarkan perilaku atau utnuk menghilangkan kekecewaan)
- Regresi (kembali kepada perilaku
yang tidak dewasa, pembentukan reaksi (beralih dari satu ekstrem kepada ekstrem
yang berlawanan)
- Introjeksi (memungut pendirian
orang lain sebagai pendirian sendiri)
- Identifikasi ( meningkatkan rasa
kuat, aman dan atau terjamin dengan mengambil sifat orang lain)
Ketiga Ego, sebagai suatu mediator
atau pendamai dari super ego dan Id Ego (das-ich), bisa dikatakan sebagai
sintesis dari peperangan antara Id dan Superego. Ego berfungsi sebagai penjaga,
mediator atau bahkan pendamai dari dua kekuatan yang berlawanan ini.
Ego hanya menjalankan prinsip hidup
secara realistis, yakni kemampuan untuk menyesuaikan dorongan-dorongan Id dan
Superego dengan kenyataan di dunia luar.Jika Ego terlaludikuasai oleh Id maka
orang itu mengidap “Psikoneurosis”(tidak dapat mengeluarkan dorongan
primitifnya).
Untuk itu pada satu sisi Ego dapat
berfungsi sebagai motifasi diri, namun pada sisi lain karena tekanan superego
bisa saja menjadi penyebab terbesar dalam pertentangan dan aliensi diri.
Kemudian Frued memfokuskan diri
bahwa Id terbesar yang dimiliki manusia dan sangat menentukan kepribadian
manusia itu sendiriadalah dorongan seks. Frued yakin setiap orang sudah
memiliki naluri seks sejak ia dilahirkan , adapun perkembangan fase-fase seks tersebut
adalah sebagai berikut:
• Fase
Oral Erotik, pada Fase ini kepuasan seksual berada pada rasa nikmat di
mulut,seperti seorng bayi menyusu pada ibunya. Oleh karena itu mengapa anak
pada usia 2 tahun selalu memasukkan semua benda yang ada pada pegangan
tangaannya.
• Fase Anal Erotik, pada fase ini anak-anak
mencari rasa kepuasan pada anusnya. Seperti pada kecenderungan anak-anak
berumur 2-3 tahun yang suka memakan kotoran yang keluar pada anusnya.
• Fase Genetal Erotik, pada fase ini anak
mencari kepuasan seks pada alat kelaminnya.dalam fase ini seseorang terus
berkembang sampai dengan usia dewasa melalui tiga fase sebagai berikut:
• Fase
Phallis (genetal muka)intinya anak telah menemukan kenikmatan pada genetalnya
tetapi belum dapat difungsikan sebagaimana mestinya.
• Fase Latent (seksualitas infantile) dimana
sudah ada nafsu seksual pada diri anak kecil.
• Fase Genetal Pubertas, pada fase ini genetal
anak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, mula-mula genetal yaitu anak mulai
memiliki rasa cinta kepada orang tuanya. Fase ini makin lama makin menjadi,
tetapi ditekan terus, karena teralang oleh adapt. Lama kelamaan nafsu tersebut
menjadi kompleks yang terdesak.
Kompleksitas ini sering disebut
dengan oidipus complex yang menurut Frued menjadi sumber kegagalan hidup.
b.
Teori kepribadian menurut Alfred Adler
Dikutip dari http://www.psychoshare.com/file-172/psikologi-kepribadian/teori-kepribadian-menurut-alfred-adler.htmlAdler
berpendapat bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial. Motivasi
pertama yang mendorong manusia adalah sosial. Manusia selalu menghubungkan
dirinya dengan orang lain, ikut dalam kerjasama sosial, menempatkan
kesejahteraan sosial di atas kepentingan diri sendiri. Sumbangan teori
keribadian Adler yaitu: Dorongan sosial adalah sesuatu yang di bawa sejak
lahir; konsep mengenai diri kreatif; dan keunikan tentang kepribadian. Adler
berpendapat bahwa setiap orang merupakan konfigurasi unik dari motif-motif,
sifat-sifat, minat-minat dan nilai-nilai. Berikut merupakan hasil dari
pemikiran Adler tentang kepribadian.
A.
Finalisme Fiktif
Adler terpengaruh filsafat hans
Vaihinger yang mengembangkan gagasan akan gamabaran fiktif. Gambaran-gambaran
fiktif ini misalnya: “semua manusia diciptakan sama”; “kejujuran adalah politik
yang paling baik”; “tujuan membenarkan sarana”, dan lain-lain.
Adler menemukan ide bahwa manusia
lebih dimotivasi oleh harapan-harapannya tentang masa depan daripada masa
lampau. Misalnya apabila orang percaya bahwa ada surga bagi orang baik dan
neraka bagi orang jahat, maka perilaku akan terdorong oleh
kepercayaan-kepercayaan tersebut. Tujuan
akhir itu berupa suatu fiksi yang tidak mungkin secara realistis dilakukan.
B. Perjuangan ke arah Superioritas
Adler memberi kesimpulan bahwa
agresif itu lebih penting dari pada seksualitas. Kemudian impuls agresif itu
diganti dengan “hasrat dan kekuasaan”. Karena itu tujuan akhir manusia menurut
Adler yaitu : Menjadi Agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior.
Superioritas adalah perjuangan ke arah kesempurnaan. Ia merupakan dorongan kuat
ke atas. Perjuangan ini sifatnya bawaan, dan merupaka bagian dari hidup. Dari
lahir sampai mati perjuangan ke arah superioritas itu membawa sang pribadi dari
satu tahap perkembangan ke perkemabangan lainnya.
C.
Inferoritas dan Kompensasi
Adler mengemukakan bahwa yang
menentukan letak gangguan tertentu adalah inferoritas dasar pada bagian itu,
suatu inferoritas yang timbul karena hereditas maupun karena kelainan sesuatu
dalam perkembangan. Selanjutnya ia mengamati orang cacat sering kali
mengkompensasikan kelemahan itu dengan jalan memperkuat latihan secara
intensif, misalnya Theodore Roosevelt yang lemah pada masa mudanya, tetapi
berkat latihan yang sistematik akhirnya menjadi orang yang berfisik tegap.
Perasaan inferoritas merupakan
perasaan yang muncul akibat kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan
secara subjektif maupun yang muncul dari kelemahan atau cacat tubuh. Adler
menyatakan inferoritas dengan “feminitas” dan kompensasinya disebut “protes
maskulin”.
Adler menyatakan bahwa inferiritas
bukan suatu tanda abnormalitas; melainkan penyebab segala bentuk penyempurnaan
dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, manusia di dorong oleh kebutuhan
untuk mengatasi inferoritasnya dan ditarik hasrat menjadi superior. Bagi Adler
tujuan hidup adalah kesempurnaan bukan kenikmatan.
D.
Minat Sosial
Minat Sosial berupa individu
membantu masyarakat mencapai tujuan terciptanya masyarakat yang sempurna. Minat
sosial merupakan kompensasi sejati dan tidak dapat dielakan bagi semua
kelemahan manusia. Adler yakin bahwa minat sosial bersifat bawaan, karena itu
ia menyediakan banyak waktu untuk mendirikan klinik bimbingan anak-anak, dan
mendidik masyarakat tentang cara yang tepat dalam mengasuh anak.
Manusia didorong oleh nafsu akan
kekuasaan dan didominasi yang tak terpuaskan oleh nafsu kekuasaan untuk
mengkompensasikan suatu perasaaan inferoritas yang dalam dan tersembunyi. Di
mata Adler tua, manusia dimotivasi oleh minat sosial bawaan yang menyebabkan ia
menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.
E. Gaya Hidup
Gaya hidup adalah suatu prinsip
sistem, dengan mana kepribadian individu berfungsi; keseluruhanlah yang
memerintah bagian-bagiannya. Gaya hidup merupakan prinsip idiografikAdler yang
utama yang menjelaskan keunikan individu. Gaya hidup terbentuk sangat dini pada
masa kanak-kanak, pada usia empat atau lima tahun.
Gaya hidup sebagian besar ditentukan
oleh inferoritas-inferoritas khusus, baik itu khayalan atau sesuatu yang nyata.
Misalnya gaya hidup Napolen yang bersifat “serba menaklukan”. Itu bersumber
pada tubuhnya yang sangat kecil. Kemudian nafsu “serakah” Hitler untuk
menaklukan dunia, bersumber pada impotensi seksualnya.
F. Diri Kreatif
Konsep ini merupakan puncak prestasi
Adler sebagai teorikus kepribadian. Ketika ia menemukan daya kreatif pada diri,
maka konsep yang lain ia tempatkan di bawah konsep ini. Diri kreatif bersifat
padu, konsisten, berdaulat dalam struktur kepribadian.
Kepribadian merupakan jembatan
stimlus-stimulus yang menerpa seseorang dan respon-respon yang diberikan orang yang bersangkutan terhadap stimulus
itu. Pada hakikatnya doktrin tentang kreatif itu menyatakan bahwa manusia
membentuk kepribadiannya sendiri. Manusia membangun kepribadiannya dari bahan
mentah hereditas dan pengalaman.
G.
Penelitian Khas Dan Metode Penelitian
Observasi-observasi empiris Adler
sebagian besar dilakukan di lingkungnan terapeutik, dan paling banyak berupa
rekonstruksi tetang masa lampau sebagaimana diingat oleh pasien-pasien, dan
penilaian-penilaian atas tingkah laku sekarang berdasarkan laporan verbal.
Beberapa penelitiannya:
1.
Urutan kelahiran dan Kepribadian
Adler mengamati bahwa terdapat
perbedaan kepribadian antara anak sulung, anak tengah dan anak bungsu. Anak
sulung mendapat banyak perhatian sampai anak ke dua lahir. Ia harus membagi
kasih sayang saat anak ke dua lahir. Pengalaman ini bisa membuat anak sulung
bertingkah laku bermacam-macam, seperti: membenci orang lain, melindungi diri,
dan merasa tidak aman. Anak sulung cenderung menaruh perhatian pada masa lampau
ketika mereka menjadi pusat perhatian. Orang neurotik, penjahat, pemabuk dan
yang bermoral bejat diamati Adler sebagai anak sulung.
Anak tengah cenderung ambisius. Ia
selalu berusaha melebihi kakaknya. Ia cenderung memberontak atau iri hati, tetapi pada umumnya ia dapat menyesuaikan
diri dengan lebih baik dibandingkan kakak atau adiknya.
Anak bungsu adalah anak yang
dimanjakan. Sama seperti anak sulung, kemungkinan besar menjadi anak yang
mengandung masalah dan menjadi orang dewasa neurotik yang tidak mampu
menyesuaikan diri.
2.
Ingatan-ingatan Awal
Adler berpendapat bahwa ingatan
paling awal yang dapat dilaporkan seseorang merupakan kunci penting untuk
memhami gaya hidup dasarnya. Misalnya seorang gadis yang mengatakan bahwa
“ketika saya berusaia tiga tahun, ayah saya….”, hal ini menujukan bahwa ia
lebih tertarik dengan ayahnya daripada ibunya. Contoh lain seorang pemuda yang
dirawat karena menderita kecemasan berat, mengenang kembali suatu peristiwa
dimasa lampau dengan bercerita “ketika saya berusia kira-kira empat tahun, saya
duduk di jendela dan memperhatikan sejumlah pekerja membangun sebuah rumah di
sebrang jalan, sementara ibuku merajut kaos kaki”. Ingatan ini menunjukan
pemuda itu ketika kanak-kanak dimanjakan karena ingatannya berkisar sekitar
ibunya yang bersikap melindungi.
Adler menggunakan metode ini
terhadap kelompok-kelompok maupun perorangan dan menemukan ternyata metode ini
cukup mudah dan ekonomis untuk meneliti keribadian. Ingatan awal kini digunakan
sebagai teknik projektif.
3.
Pengalaman masa kanak-kanak
Adler menyebutkan tiga faktor yang
mempengaruhi gaya hidup yang salah yaitu: Anak-anak yang memilki
inferoritas-inferoritas; anak-anak yang dimanjakan; anak-anak terlantar.
Anak yang memilki inferoritas sering
kali dianggap gagal. Akan tetapi, jika mereka memiliki orang tua yang memahami
dan mendorong mereka bisa melakukan kompensasi terhadapinferoritasnya, maka
mereka akan mampu mengubah kelemahannya menjadi kekuatan.
Anak-anak yang dimanjakan tidak
mengembangkan perasaan sosial; mereka menjadi orang yang selalu mengharapkan
masyarakat bisa menyesuaikan diri dengan dirinya. Adler menganggap bahwa mereka
sebagai kelompok masyarakat yang berbahagia.
Kemudian, anak yang diabaikan akan
membawa akibat yang tidak menguntungkan. Anak yang diperlakukan buruk pada masa
kanak-kanak akan menjadi musuh apabila mereka sudah dewasa. Gaya hidup mereka
dikuasai oleh kebutuhan untuk balas dendam.
Pandangan
Adler tentang neurosis juga dikemukaan berkenaan dengan kecenderungan
pengamanan (Alwisol, 2005 : 101-102). Semua penderita neurosis berusaha
menciptakan pengamanan terhadap harga dirinya. a. Perbedaan kecenderungan
pengamanan dengan mekanisme pertahanan diri Konsep kecenderungan pengamanan
dari Adler mirip dengan konsep mekanisme pertahanan diri yang dikemukakan oleh
Freud. Keduanya merupakan gejala-gejala yang terbentuk sebagai proteksi
terhadap self atau ego.Namun ada beberapa perbedaan antara keduanya. 1)
Mekanisme pertahanan melindungi ego dari kecemasan instinktif, sedang
kecenderungan pengamanan melindungi self dari tuntutan luar. 2) Mekanisme
pertahanan ego merupakan gejala umum yang dapat dialami oleh setiap individu,
sedangkan kecenderungan pengamanan merupakan salah satu gejala neurosis,
walaupun mungkin saja setiap individu, normal atau abnormal, memakai
kecenderungan itu untuk mempertahankan harga diri. 3) Mekanisme pertahanan ego
beroperasi pada tingkat tak sadar, sedangkan kecenderungan pengamanan bekerja
pada tingkat sadar dan tidak sadar. b. Bentuk-bentuk kecenderungan pengaman
Psikologi individual menganalisis bahwa penderita neurosis takut tujuan menjadi
personal yang dikejarnya terungkap sebagai kesalahan dan selanjutnya diiuti
dengan hilangnya penghargaan dari masyarakat. Untuk mengkompensasi khayalan
ini, individu membangunan kecenderungan pengamanan, yang bentuknya dapat berupa
sesalan, agresi, dan menarik diri (Alwisol, 2005 : 102-103). 1) Sesalan Sesalan
“ya, tetapi“ (yes, but), dipakai untuk mengurangi bahaya harga diri yang jatuh
karena melakukan hal yang berbeda dengan orang lain. Sesalan “sesungguhnya,
kalau“ (if, only) dipakai untuk melingdungi perasaan lemah dari harga diri, dan
menipu orang lain untuk percaya bahwa mereka sesungguhnya lebih superior dari
kenyataan yang ada sekarang. 2) Agresi Penderita neurosis memakai agresi untuk
pengamanan kompleks superior yang berlebihan, melindungi harga diri yang
rentan.Adler membedakan agresi menjadi tiga macam, yaitu depreciation, accusation,
dan self-accusation. a) Depreciation (merendahkan), adalah kecenderungan
meni-lai rendah prestasi orang lain dan menilai tinggi prestasi diri sendiri.
b) Accusation (menuduh), adalah kecenderungan menya-lahkan orang lain atas
kegagalan yang dilakukannya sendiri, dan kecenderungan untuk mencari pembalasan
dendam, sehingga mengamankan kelemahan harga dirinya. c) Self-accusation
(menuduh diri sendiri), ditandai dengan usaha untuk menyiksa diri sendiri dan
perasaan berdosa.
3) Menarik diri (withdrawl) Witdrawl
adalah kecenderungan untuk malarikan diri dari kesulitan berupa
tindakan manarik diri dari aktivitas dan ling-kungan sosial.Ada 4 jenis
witdrawl, yaitu : moving backward, satnding-still, hesitating,dan constructing
obstacle. a) Moving backward (mundur), adalah gejala yang mirip dengan regresi
yang dikemukakan Freud, yaitu kembali ketahap perkembangan sebelumnya. b)
Standing-still (diam di tempat), mirip dengan konsep Freud, fiksasi. Untuk
menghindari kecemasan akibat kegagalan, individu mengambil keputusan tidak
melakukan tindakn tertentu. c) Hesitating (ragu-ragu), berhubungan erat dengan
diam ditempat. Ada orang yang bimbang ketika menghadapi masalah yang dianggap
sulit. Mengulur waktu dijadikan cara untuk mengatasi masalah yang dihadapi. d)
Constructing obstacle(membangun penghalang), meru-pakan bentuk menarik diri
yang pang ringan, mirip dengan sesalan ”if, only”. Dalam menghadapi persolaan
individu menciptakan khayalan tentang suatu penghalang dan keberhasilan dalam
mengatasi persolan tersebut.
3.
Perkembangan Kepribadian
Dalam http://winda-s-m-fib11.web.unair.ac.id/artikel_detail-102169
Psikologi%20Pelayanan%20-TEORI%20KEPRIBADIAN.htmlPerubahan
Tingkah laku Merupakan variasi aktivitas, emosi, kebutuhan, hubungan sosial,
dan sebagainya semakin banyak ketika orang menjadi semakin tambah usia. Tingkah
laku itu menjadi semakin terorganisir, hirarkis, relistis, dan efektif Organisasi:
bertambahnya usia membuat orang semakin sadar pentingnya pengorganisasian.
Yaitu berbuat sesuai dengan situasi yang terjadi. Hirarkis: individu bertingkah
laku itu melalui tahap-tahap perkembangan secara hirarkis. Relistis: kemampuan
untuk membedakan relitas dengan fantasi lebih meningkat seiring perkembangan
usia. Efektif: orang berusaha untuk memperoleh hasil maksimal dengan usaha yang
minimal. vDiferensiasi
dan Integrasi Diferensiasi: adalah peningkatan jumlah bagian-bagian dari
keseluruhan atau peningkatan variasi tingkah laku, kebebasan bergerak yang
dihubungkan dengan kemampuan untuk mengerjakan hal yang berbeda-beda.
Integrasi: koordinasi tingkahlaku untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. vRegresi Adalah
gerak mundur dalam proses perkembangan. Lewin menemukan dalam 2 macam:
Retrograsi: kembali ke bentuk tingkah laku lebih awal dalam sejarah kehidupan
manusia. Regresi: kembali ke bentuk tingkah laku yang lebih primitif, tidak
peduli apakah pribadi pernah menlakukan hal itu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah
tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku.
Selain itu, dia juga memberikan pernyataan bahwa perilaku manusia didasari pada
hasrat seksualitas (eros) yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak
kecil dari ibunya. Kemudian Frued memfokuskan diri bahwa Id terbesar yang
dimiliki manusia dan sangat menentukan kepribadian manusia itu sendiriadalah
dorongan seks. Frued yakin setiap orang sudah memiliki naluri seks sejak ia
dilahirkan.
Adler berpendapat bahwa manusia pada dasarnya
merupakan makhluk sosial. Motivasi pertama yang mendorong manusia adalah
sosial. Manusia selalu menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut dalam
kerjasama sosial, menempatkan kesejahteraan sosial di atas kepentingan diri
sendiri. Sumbangan teori keribadian Adler yaitu: Dorongan sosial adalah sesuatu
yang di bawa sejak lahir; konsep mengenai diri kreatif; dan keunikan tentang
kepribadian. Adler berpendapat bahwa setiap orang merupakan konfigurasi unik
dari motif-motif, sifat-sifat, minat-minat dan nilai-nilai.
B.
Saran
Pemakalah menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan
makalah ini, oleh karena itu pemakalah mengharapkan kritikan dan saran yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini kedepannya. Semoga dengan
adanya makalah ini bisa membantu baik itu para konselor maupun calon konselor,
mudah-mudahan makalah ini bisa membantu para mahasiswakhususnya progdi
Bimbingan dan Konseling dalam memahami Teori Kepribadian.
DAFTAR PUSTAKA
http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepribadian/ diunduh
pada 20 Juni 2015 pukul 13.30
https://ebekunt.wordpress.com/2009/04/29/teori-kepribadian/ diunduh
pada 20 Juni 2015 pukul 13.45
diunduh pada
20 Juni 2015 pukul 14.39
http://psikologiberbicara.blogspot.com/2013/11/teori-kepribadian-menurut-sigmund-freud.html diunduh
pada 20 juni 2015 pukul 15.00
http://www.psychoshare.com/file-172/psikologi-kepribadian/teori-kepribadian-menurut-alfred-adler.html diunduh
pada 20 Juni 2015 15.15
Alwisol. (2005) Psikologi
Kepribadian. Malang : Penerbit Universitas Muhammadyah Malang.
Boeree, CG. (1997) .Personality
Theories :Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. (Alih bahasa :
Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta : Primasophie.
Koeswara, E. (1991) Teori-teori
Kepribadian. Bandung Eresco.
Supratiknya (Penyunting) (1993)
Teori-teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius.Agus Sujanto, Psikologi
Kepribadian,(Jakarta: Bumi Aksara, 2001)
Boeree, C.G. 2005. Personality theories (cetakan ke II).
Yogyakarta: Primashopie
Hall, C., Lindzey G (Alih bahasa Dr.
A Supratiknya). 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis).Yogyakarta: Penerbit
Kanisius
Hall, C.,Lindzey, G. 1985.
Personality Theories. NewYork: Jhon Wiley Sons
Tidak ada komentar:
Posting Komentar