Sabtu, 22 Agustus 2015

teori kepribadian



MAKALAH
TEORI KEPRIBADIAN
Dosen Pengampu: Rahmad Agung Nugraha, S.psi, M.si



Nama: Farida Fitrotun Nisa
Progdi: BK/4A
NPM: 1113500060

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2015


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahnya yang tercurahkan kepada kami. Shalawat serta salam Nabi kami panjatkan kepada junjungan Nabi besar kita Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai akhir zaman.
Atas anugerah dan bimbinganNya saya dapat menyelesaikan makalah ini yang merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Praktikum Konseling Individu. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saya samgat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalh ini.
Saya sampaikan terima kasih kapada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kami dan kepada para pembacanya.

Tegal, Juni 2015



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Istilah personality berasal dari kata latin “persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain.
Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik.
Sedangkan personality menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendiriran, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.
Allport juga mendefinisikan personality sebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum.



B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian teori kepribadian?
2.      Bagaimana toeri kepribadian menurut para ahli?
3.      Bagaimana perkembangan kepribadian itu?

C.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk dapat memahami dan mengetahui tentang teori kepribadian
2.      Untuk dapat memahami dan mengetahui teori kepribadian menurut para ahli
3.      Untuk dapat memahami dan mengetahui perkembangan kepribadian

D.    Manfaat Penulisan
Agar pembaca atau calon konselor  mampu memahami dan mengetahui tentang teori kepribadian.


BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Teori Kepribadian

Dari https://ebekunt.wordpress.com/2009/04/29/teori-kepribadian/Teori merupakan salah satu unsur penting dari setiap pengetahuan ilmiah atau ilmu, termasuk psikologi kepribadian. Tanpa teori kepribadian usaha memahami perilaku dan kepribadian manusia pasti sulit untuk dilaksanakan. Apakah yang dimaksud dengan teori kepribadian? Menurut Hall dan Lindzey (Koeswara,1991 : 5), teori kepriadian adalah sekumpulan anggapan atau konsep-konsepyang satu sama lain berkaitan mengenai tingkah laku manusia.
Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik. Allport juga mendefinisikan personalitysebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum.
Ø  Fungsi Teori Kepribadian
Sama seperti teori ilmiah pada umumnya yang memiliki fungsi deskriptif dan prediktif, begitu juga teori kepribdian. Berikut penjelaskan fungsi deskriptif dan prediktif dari teori kepribadian.


1. Fungsi Deskriptif
Fungsi deskriptif (menjelaskan atau menggambarkan) merupakan fungsi teori kepribadian dalam menjelaskan atau menggambarkan perilaku atau kepribadian manusia secara rinci, lengkap, dan sistematis. Pertanyaan-pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana seputar perilaku manusia dijawab melalui fungsi deskriptif.
2. Fungsi Prediktif
Teori kepribadian selain harus bisa menjelaskan tentang apa, mengapa, dan bagaimana tingkah laku manusia sekarang, juga harus bisa memperkirakan apa, mengapa, dan bagaimana tingkah laku manusia di kemudian hari. Dengan demikian teori kepribadian harus memiliki fungsi prediktif.
Ø  Klasifikasi Teori-teori Kepribadian
Dewasa ini telah banyak teori-teori kepribadian untuk memudahkan mempelajari para ahli telah mengklasifikasikan teori-teori tersebut ke dalam beberapa kelompok dengan menggunakan acuan tertentu yaitu paradigma yang dipakai untuk mengembangkannya. Berdasarkan paradigma yang dipergunakan dalam mengembankannya, teori kepribadian dibedakan menjadi 4 paradigma (Alwisol, 2005: 2-7). Kempat paradigma tersebut adalah:
1. Paradigma psikoanalisis: tradisi klinis psikiatri.
2. Paradigma traits: tradisi psikologi fungsionalisme dan psikologi pengukuran.
3. Paradigma kognitif: tradisi Gestalt.
4. Paradigma behaviorisme: tradisi kondisioning.
Adapula klasifikasi teori kepribadian yang didasarkan pada sejarah perkembangannya yang kemudian menjadi kekutan besar yang dijadikan orientasi dalam pengembangan teori-teori kepribadian. Boeree (2005 : 29) menyatakan bahwa ada 3 orientasi atau kekuatan besar dalam teori kepribadian, yaitu :
1. Psikoanalisis beserta aliran-aliran yang dikembangkan atas paradigma yang sama atau hampir sama, yang dipandang sebagai kekuatan pertama.
2. Behavioristik yang dipandang sebagai kekuatan kedua.
3. Humanistik, yang dinyatakan sebagai kekuatan ketiga
Ø  Dimensi-dimensi Teori Kepribadian
Setiap teori kepribadian diharapkan mampu memberikan jawab atas pertanyaan sekitar apa, mengapa, dan bagaimana tentang perilaku manusia. Untuk itu setiap teori kepribadian yang lengkap, menurut Pervin (Supratiknya, 1995 : 5-6), biasanya memiliki dimensi-dimensi sebagai berikut :
1. Pembahasan tentang struktur, yaitu aspek-aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil dan menetap, serta yang merupakan unsur-unsur pembentuk sosok kepribadian.
2. Pembahasan tentang proses, yaitu konsep-konsep tentang motivasi untuk menjelaskan dinamika tingkah laku atau kepribadian.
3. Pembahasan tentang pertumbuhan dan perkembangan, yaitu aneka perubahan pada struktur sejak masa bayi sampai mencapai kemasakan, perubahan-perubahan pada proses yang menyertainya, serta berbagai faktor yang menentukannya.
4. Pembahasan tentang psikopatologi, yaitu hakikat gangguan kepribadian atau tingkah laku beserta asal-usul atau proses perkembangannya.
5. Pembahasan tentang perubahan tingkah laku, yaitu konsepsi tentang bagaimana tingkah laku bisa dimodifikasi atau diubah.

Dalam http://atpsikologi.blogspot.com/2010/02/teori-teori-kepribadian-ada-empat-teori.htmlAda empat teori kepribadian utama yang satu sama lain tentu saja berbeda, yakni teori kepribadian psikoanalisis, teori-teori sifat (trait), teori kepribadian behaviorisme, dan teori psikoligi kognitif.
1. Teori Kepribadian Psikoanalisis
Dalam mencoba mamahami sistem kepribadian manusia, Freud membangun model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan satu sama lain. Konflik dasar dari tiga sistem kepribadian tersebut menciptakan energi psikis individu. Energi dasar ini menjadi kebutuhan instink individu yang menuntut pemuasan. Tiga sistem tersebut adalah id, ego, dan superego.
Id bekerja menggunakan prinsip kesenangan, mencari pemuasan segera impuls biologis; ego mematuhi prinsip realita, menunda pemuasan sampai bisa dicapai dengan cara yang diterima masyarakat, dan superego (hati nurani;suara hati) memiliki standar moral pada individu. Jadi jelaslah bahwa dalam teori psikoanalisis Freud, ego harus menghadapi konflik antara id ( yang berisi naluri seksual dan agresif yang selalu minta disalurkan) dan super ego (yang berisi larangan yang menghambat naluri-naluri itu). Selanjutnya ego masih harus mempertimbangkan realitas di dunia luar sebelum menampilkan perilaku tertentu.
Namun, dalam psikoanalisis Carl Gustav Jung, ego bukannya menghadapi konflik antara id dan superego, melainkan harus mengelola dorongan-dorongan yang datang dari ketidak sadaran kolektif (yang berisi naluri-naluri yang diperoleh dari pengalaman masa lalu dari masa generasi yang lalu) dan ketidaksadaran pribadi yang berisi pengalaman pribadi yang diredam dalam ketidaksadaran. Berbeda dengan Freud, Jung tidak mendasarkan teorinya pada dorongan seks.
Bagi erikson, misalnya meskipun ia mengakui adanya id, ego, dan superego, menurutnya, yang terpenting bukannya dorongan seks dan bukan pula koflik antara id dan superego. Bagi Erikson, manusia adalah makhluk rasional yang pikiran, perasaan, dan perilakunya dikendalikan oleh ego. Jadi ego itu aktif, bukan pasif seperti pada teori freud, dan merupakan unsur utama dari kepribadian yang lebih banyak dipengarihi oleh faktor sosial daripada dorongan seksual.
2. Teori-Teori Sifat (Trait Theories)
Teori sifat ini dikenal sebagai teori-teori tipe (type theories) yang menekankan aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil atau menetap. Tepatnya, teori-teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki sifat atau sifat-sifat tertentu, yakni pola kecenderungan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu. Sifat-sifat yang stabil ini menyebabkan manusia bertingkah laku relatif tetap dari situasi ke situasi.
Allport membedakan antara sifat umum (general trait) dan kecenderungan pribadi (personal disposition). Sifat umum adalah dimensi sifat yang dapat membandingkan individu satu sama lainnya. Kecenderungan pribadi dimaksudkan sebagai pola atau konfigurasi unik sifat-sifat yang ada dalam diri individu. Dua orang mungkin sama-sama jujur, namun berbeda dalam hal kejujuran berkaitan dengan sifat lain. Orang pertama, karena peka terhadap perasaan orang lain, kadang-kadang menceritakan “kebohongan putih” bagi orang ini, kepekaan sensitivitas adalah lebih tinggi dari kejujuran. Adapun orang orang kedua menilai kejujuran lebih tinggi, dan mengatakan apa adanya walaupun hal itu melukai orang lain. Orang mungkin pula memilki sifat yang sama, tetapi dengan motif berbeda. Seseorang mungkin berhati-hati karena ia takut terhadap pendapat orang lain, dan orang lain mungkin hati-hati karena mengekspresikan kebutuhannya untuk mempertahankan keteraturan hidup.
Termasuk dalam teori-teori sifat berikutnya adalah teori-teori dari Willim Sheldom. Teori Sheldom sering digolongkan sebagai teori topologi. Meskipun demikian ia sebenarnya menolak pengotakkan menurut tipe ini. Menurutnya, manusia tidak dapat digolongkan dalam tipe ini atau tipe itu. Akan tetapi, setidak-tidaknya seseorang memiliki tiga komponen fisik yang berbeda menurut derajat dan tingkatannya masing-masing. Kombinasi ketiga komponen ini menimbulkan berbagai kemungkinan tipe fisik yang isebutnya sebagai somatotipe.
Menurut Sheldom ada tiga komponen atau dimensi temperamental adalah sebagai berikut :
a. Viscerotonia. Individu yang memiliki nilai viscerotonia yang tinggi, memiliki sifat-sifat, antara lain suka makan enak, pengejar kenikmatan, tenang toleran, lamban, santai, pandai bergaul.
b. Somatotonia. Individu dengan sifat somatotonia yang tinggi memiliki sifat-sifat seperti berpetualang dan berani mengambil resiko yang tinggi, membutuhkan aktivitas fisik yang menantang, agresif, kurang peka dengan perasaan orang lain, cenderung menguasai dan membuat gaduh.
c. Cerebretonia. Pribadi yang mempunyai nilai cerebretonia dikatakan bersifat tertutup dan senang menyendiri, tidak menyukai keramaian dan takut kepada orang lain, serta memiliki kesadaran diri yang tinggi. Bila sedang di rundung masalah, Ia memiliki reaksi yang cepat dan sulit tidur.
3. Teori Kepribadian Behaviorisme
Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku, melainkan tempat kedudukan atau suatu poin yang faktor-faktor lingkungan dan bawaan yang khas secara bersama-sama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang khas pula pada individu tersebut.
Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah laku organisme dan berbagai konsekuensi yang diperkuatnya.
Selanjutnya, Skinner telah menguraikan sejumlah teknik yang digunakan untuk mengontrol perilaku. Tekhnik tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
1) Pengekangan fisik (psycal restraints)
Menurut skinner, kita mengntrol perilaku melalui pengekangan fisik.
Misalnya, beberapa dari kita menutup mulut untuk menghindari diri dari menertawakan kesalahan orang lain. Orang kadang-kadang melakukannya dengan bentuk lain, seperti berjalan menjauhi seseorang yang tealh menghina ita agar tidak kehilangan kontrol dan menyerang orang tersebut secara fisik.
2) Bantuan fisik (physical aids)
Kadang-kadang orang menggunakan obat-obatan untuk mengontrol perilaku yang tidak dinginkan. Misalnya, pengendara truk meminum obat perangsang agar tidak mengatuk saat menempuh perjalanan jauh. Bantuan fisik bisa juga digunakan untuk memudahkan perilaku tertentu, yang bisa dilihat pada orang yang memiliki masalah penglihatan dengan cara memakai kacamata.
3) Mengubah kondisi stimulus (changing the stimulus conditions)
Suatu tekhnik lain adalah mengubah stimulus yang bertanggunggung jawab. Misalnya, orang yang berkelebihan berat badan menyisihkan sekotak permen dari hadapannya sehingga dapat mengekang diri sendiri.
4) Memanipulasi kondisi emosional (manipulating emotional conditions)
Skinner menyatakan terkadang kita mengadakan perubahan emosional dalam diri kita untuk mengontrol diri. Misalnya, beberapa orang menggunakan tekhnik meditasi untuk mengatasi stess.
5) Melakukan respons-respons lain (performing alternativeresponses)
Menurut Skinner, kita juga sering menahan diri dari melakukan perilaku yang membawa hukuman dengan melakukan hal lain. Misalnya, untuk menahan diri agar tidak menyerang orang yang sangat tidak kita sukai, kita mungkin melakukan tindakan yang tidak berhubungan dengan pendapat kita tentang mereka.
6) Menguatkan diri secara positif (positif self-reinforcement)
Salah satu teknik yang kita gunakan untuk mengendalikan perilaku menurut Skinner, adalah positive self-reinforcement. Kita menghadiahi diri sendiri atas perilaku yang patut dihargai. Misalnya, seorang pelajar menghadiahi diri sendiri karena telah belajar keras dan dapat mengerjakan ujian dengan baik, dengan menonton film yang bagus.
7) Menghukum diri sendiri (self punishment)
Akhirnya, seseorang mengkin menghukum diri sendiri karena gagal mencapai tujuan diri sendiri. Misalnya, seorang mahasiswa menghukum dirinya sendiri karena gagal melakukan ujian dengan baik dengan cara menyendiri dan belajar kembali dengan giat.
4. Teori Psikologi Kognitif
Menurut para ahli, teori psikologi kognitif dapat dikatakan berawal dari pandangan psikologi Gestalt. Mereka berpendapat bahwa dalam memersepsi lingkungannya, manusia tidak sekadar mengandalkan diri pada apa yang diterima dari penginderaannya, tetapi masukan dari pengindraan itu, diatur, saling dihubungkan dan diorganisasikan untuk diberi makna, dan selanjutnya dijadikan awal dari suatu perilaku.
Pandangan teori kognitif menyatakan bahwa organisasi kepribadian manusia tidak lain adalah elemen-elemen kesadaran yang satu sama lain saling terkait dalam lapangan kesadaran (kognisi). Dalam teori ini, unsur psikis dan fisik tidak dipisahkan lagi, karena keduanya termasuk dalam kognisi manusia. Bahkan, dengan teori ini dimungkinkan juga faktor-faktor diluar diri dimasukkan (diwakili) dalam lapangan psikologis atau lapangan kesadaran seseorang.

2.      Teori Kepribadian Menurut Para Ahli
a.       Teori kepribadian menurut Sigmund Freud
menurut-sigmund-freud.htmlMenurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar(conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Konsep dariteori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang
mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia juga memberikan
pernyataan bahwa perilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas (eros) yang
pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya. Alam bawah sadar yang digambarkan freud memiliki 3 unsur, yaitu id, ego dan super ego.
     ID
Id merupakan Kepribadian yang asli; Id merupakan sumber dari kedua sistem/energi yang lain yaitu ego dan superego. Id terdiri dari dorongan-dorongan biologis dasar seperti kebutuhan makan, minum dan sex.
Didalam Id terdapat dua jenis energi yang bertentangan dan sangat mempengaruhi kehidupan dan kepribadian individu, yaitu insting kehidupan dan insting kematian. Insting kehidupan ini disebut libido. Dorongan-dorongan dalam Id selalu ingin dipuaskan dan dalam pemuasannnya Id selalu berupaya menghindari pengalaman–pengalaman yang tidak menyenangkan. Makanya cara pemuasan dari dorongan ini disebut prinsip kesenangan ( pleasure principle ).
     EGO
Ego merupakan energi yang mendorong untuk mengikuti prinsip kenyataan (reality principle), dan beroperasi menurut proses sekunder. Tujuan prinsip sekunder ini adalah mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukannya suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan.
Ego menjalankan fungsi pengendalian yang berupaya untuk pemuasan dorongan Id itu bersifat realistis dan sesuai dengan kenyataan. Dengan kata lain fungsi ego adalah menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh ID berdasarkan kenyataan.
     SUPEREGO
Superego adalah suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanamkan oleh adat istiadat, agama, orang tua, guru dan orang- orang lain pada anak.
Karena itu pada dasarnya Superego adalah hati nurani (concenience) seseorang yang menilai benar atau salahnya suatu tindakan seseorang.itu berarti Superego mewakili nilai-nilai ideal dan selau berorientasi pada kesempurnaan. Cita-cita individu juga diarahkan pada nilai-nilai ideal tersebut, sehingga setiap individu memiliki gambaran tentang dirinya yang paling ideal (Ego-ideal).
Bersama-sama dengan ego, Superego mengatur dan mengarahkan tingkah laku individu yang mengarahkan dorongan-dorongan dari Id berdasarkan aturan-aturan dalam masyarakat, agama atau keyakinan-keyakinan tertentu mengenai perilaku yang baik dan buruk.
Mengakhiri deskripsi singkat diatas tentang ketiga sistem kepribadian diatas, harus diingat bahwa Id, Ego, dan Superego tidak dipandang sebagai orang – orangan yang menjalankan suatu kepribadian mental.
Ketiga system diatas tersebut hanyalah nama-nama untuk berbagai proses psikologis yang mengikuti prinsip-prinsip system yang berbeda. Dalam keadaan biasa, prinsip-prinsip yang berlainan ini tidak bentrok satu sama lain, dan tidak bekerja secara bertentangan.
Bentuk dorongan hidup adalah dorongan agresi seperti keinginan menyerang , berkelahi, danmerupakan bawaan lahir yang beberapa proses terjadi pada suatu tingkat kesadaran, sedangkan yang lainnya terjadi pada tingkat yang tidak disadari. Id tidak membedakan antara pikiran dan perbuatan, antara yang nyata dan hanya dalam hayalan saja.

Proses id mencari kesenangan dan perasaan benar atau salah, direfleksiakn didalam superego, sering berselisih. Ego menyeleseikan konflik ini melalui berbagai mekanisme pertahanan.
Mekanisme ini mencakup:
- Represi (memaksakan kepercayaan nilai, dan pengharapan yang mengancam keluar dari kesadaran)
- Pengalihan (mengalihkan reaksi emosional dari satu objek ke objek yang lain)
- Sublimasi (mencari cara yang dapat diterima untuk mengungkapkan dorongan yang dengan cara lain tidak diterima)
- Rasionalsasi ( memberikan alasan yang meragukan untuk membenarkan perilaku atau utnuk menghilangkan kekecewaan)
- Regresi (kembali kepada perilaku yang tidak dewasa, pembentukan reaksi (beralih dari satu ekstrem kepada ekstrem yang berlawanan)
- Introjeksi (memungut pendirian orang lain sebagai pendirian sendiri)
- Identifikasi ( meningkatkan rasa kuat, aman dan atau terjamin dengan mengambil sifat orang lain)
Ketiga Ego, sebagai suatu mediator atau pendamai dari super ego dan Id Ego (das-ich), bisa dikatakan sebagai sintesis dari peperangan antara Id dan Superego. Ego berfungsi sebagai penjaga, mediator atau bahkan pendamai dari dua kekuatan yang berlawanan ini.
Ego hanya menjalankan prinsip hidup secara realistis, yakni kemampuan untuk menyesuaikan dorongan-dorongan Id dan Superego dengan kenyataan di dunia luar.Jika Ego terlaludikuasai oleh Id maka orang itu mengidap “Psikoneurosis”(tidak dapat mengeluarkan dorongan primitifnya).
Untuk itu pada satu sisi Ego dapat berfungsi sebagai motifasi diri, namun pada sisi lain karena tekanan superego bisa saja menjadi penyebab terbesar dalam pertentangan dan aliensi diri.
Kemudian Frued memfokuskan diri bahwa Id terbesar yang dimiliki manusia dan sangat menentukan kepribadian manusia itu sendiriadalah dorongan seks. Frued yakin setiap orang sudah memiliki naluri seks sejak ia dilahirkan , adapun perkembangan fase-fase seks tersebut adalah sebagai berikut:
     Fase Oral Erotik, pada Fase ini kepuasan seksual berada pada rasa nikmat di mulut,seperti seorng bayi menyusu pada ibunya. Oleh karena itu mengapa anak pada usia 2 tahun selalu memasukkan semua benda yang ada pada pegangan tangaannya.
       Fase Anal Erotik, pada fase ini anak-anak mencari rasa kepuasan pada anusnya. Seperti pada kecenderungan anak-anak berumur 2-3 tahun yang suka memakan kotoran yang keluar pada anusnya.
       Fase Genetal Erotik, pada fase ini anak mencari kepuasan seks pada alat kelaminnya.dalam fase ini seseorang terus berkembang sampai dengan usia dewasa melalui tiga fase sebagai berikut:
     Fase Phallis (genetal muka)intinya anak telah menemukan kenikmatan pada genetalnya tetapi belum dapat difungsikan sebagaimana mestinya.
       Fase Latent (seksualitas infantile) dimana sudah ada nafsu seksual pada diri anak kecil.
       Fase Genetal Pubertas, pada fase ini genetal anak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, mula-mula genetal yaitu anak mulai memiliki rasa cinta kepada orang tuanya. Fase ini makin lama makin menjadi, tetapi ditekan terus, karena teralang oleh adapt. Lama kelamaan nafsu tersebut menjadi kompleks yang terdesak.
Kompleksitas ini sering disebut dengan oidipus complex yang menurut Frued menjadi sumber kegagalan hidup.
b.      Teori kepribadian menurut Alfred Adler
Dikutip dari http://www.psychoshare.com/file-172/psikologi-kepribadian/teori-kepribadian-menurut-alfred-adler.htmlAdler berpendapat bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial. Motivasi pertama yang mendorong manusia adalah sosial. Manusia selalu menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut dalam kerjasama sosial, menempatkan kesejahteraan sosial di atas kepentingan diri sendiri. Sumbangan teori keribadian Adler yaitu: Dorongan sosial adalah sesuatu yang di bawa sejak lahir; konsep mengenai diri kreatif; dan keunikan tentang kepribadian. Adler berpendapat bahwa setiap orang merupakan konfigurasi unik dari motif-motif, sifat-sifat, minat-minat dan nilai-nilai. Berikut merupakan hasil dari pemikiran Adler tentang kepribadian.
A.    Finalisme Fiktif
Adler terpengaruh filsafat hans Vaihinger yang mengembangkan gagasan akan gamabaran fiktif. Gambaran-gambaran fiktif ini misalnya: “semua manusia diciptakan sama”; “kejujuran adalah politik yang paling baik”; “tujuan membenarkan sarana”, dan lain-lain.
Adler menemukan ide bahwa manusia lebih dimotivasi oleh harapan-harapannya tentang masa depan daripada masa lampau. Misalnya apabila orang percaya bahwa ada surga bagi orang baik dan neraka bagi orang jahat, maka perilaku akan terdorong oleh kepercayaan-kepercayaan tersebut.  Tujuan akhir itu berupa suatu fiksi yang tidak mungkin secara realistis dilakukan.
B.     Perjuangan ke arah Superioritas
Adler memberi kesimpulan bahwa agresif itu lebih penting dari pada seksualitas. Kemudian impuls agresif itu diganti dengan “hasrat dan kekuasaan”. Karena itu tujuan akhir manusia menurut Adler yaitu : Menjadi Agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior. Superioritas adalah perjuangan ke arah kesempurnaan. Ia merupakan dorongan kuat ke atas. Perjuangan ini sifatnya bawaan, dan merupaka bagian dari hidup. Dari lahir sampai mati perjuangan ke arah superioritas itu membawa sang pribadi dari satu tahap perkembangan ke perkemabangan lainnya.
C.    Inferoritas dan Kompensasi
Adler mengemukakan bahwa yang menentukan letak gangguan tertentu adalah inferoritas dasar pada bagian itu, suatu inferoritas yang timbul karena hereditas maupun karena kelainan sesuatu dalam perkembangan. Selanjutnya ia mengamati orang cacat sering kali mengkompensasikan kelemahan itu dengan jalan memperkuat latihan secara intensif, misalnya Theodore Roosevelt yang lemah pada masa mudanya, tetapi berkat latihan yang sistematik akhirnya menjadi orang yang berfisik tegap.
Perasaan inferoritas merupakan perasaan yang muncul akibat kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun yang muncul dari kelemahan atau cacat tubuh. Adler menyatakan inferoritas dengan “feminitas” dan kompensasinya disebut “protes maskulin”.
Adler menyatakan bahwa inferiritas bukan suatu tanda abnormalitas; melainkan penyebab segala bentuk penyempurnaan dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, manusia di dorong oleh kebutuhan untuk mengatasi inferoritasnya dan ditarik hasrat menjadi superior. Bagi Adler tujuan hidup adalah kesempurnaan bukan kenikmatan.
D.    Minat Sosial
Minat Sosial berupa individu membantu masyarakat mencapai tujuan terciptanya masyarakat yang sempurna. Minat sosial merupakan kompensasi sejati dan tidak dapat dielakan bagi semua kelemahan manusia. Adler yakin bahwa minat sosial bersifat bawaan, karena itu ia menyediakan banyak waktu untuk mendirikan klinik bimbingan anak-anak, dan mendidik masyarakat tentang cara yang tepat dalam mengasuh anak.
Manusia didorong oleh nafsu akan kekuasaan dan didominasi yang tak terpuaskan oleh nafsu kekuasaan untuk mengkompensasikan suatu perasaaan inferoritas yang dalam dan tersembunyi. Di mata Adler tua, manusia dimotivasi oleh minat sosial bawaan yang menyebabkan ia menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.
E.     Gaya Hidup
Gaya hidup adalah suatu prinsip sistem, dengan mana kepribadian individu berfungsi; keseluruhanlah yang memerintah bagian-bagiannya. Gaya hidup merupakan prinsip idiografikAdler yang utama yang menjelaskan keunikan individu. Gaya hidup terbentuk sangat dini pada masa kanak-kanak, pada usia empat atau lima tahun.
Gaya hidup sebagian besar ditentukan oleh inferoritas-inferoritas khusus, baik itu khayalan atau sesuatu yang nyata. Misalnya gaya hidup Napolen yang bersifat “serba menaklukan”. Itu bersumber pada tubuhnya yang sangat kecil. Kemudian nafsu “serakah” Hitler untuk menaklukan dunia, bersumber pada impotensi seksualnya.
F.     Diri Kreatif
Konsep ini merupakan puncak prestasi Adler sebagai teorikus kepribadian. Ketika ia menemukan daya kreatif pada diri, maka konsep yang lain ia tempatkan di bawah konsep ini. Diri kreatif bersifat padu, konsisten, berdaulat dalam struktur kepribadian.
Kepribadian merupakan jembatan stimlus-stimulus yang menerpa seseorang dan respon-respon yang diberikan  orang yang bersangkutan terhadap stimulus itu. Pada hakikatnya doktrin tentang kreatif itu menyatakan bahwa manusia membentuk kepribadiannya sendiri. Manusia membangun kepribadiannya dari bahan mentah hereditas dan pengalaman.
G.    Penelitian Khas Dan Metode Penelitian
Observasi-observasi empiris Adler sebagian besar dilakukan di lingkungnan terapeutik, dan paling banyak berupa rekonstruksi tetang masa lampau sebagaimana diingat oleh pasien-pasien, dan penilaian-penilaian atas tingkah laku sekarang berdasarkan laporan verbal. Beberapa penelitiannya:
1.   Urutan kelahiran dan Kepribadian
Adler mengamati bahwa terdapat perbedaan kepribadian antara anak sulung, anak tengah dan anak bungsu. Anak sulung mendapat banyak perhatian sampai anak ke dua lahir. Ia harus membagi kasih sayang saat anak ke dua lahir. Pengalaman ini bisa membuat anak sulung bertingkah laku bermacam-macam, seperti: membenci orang lain, melindungi diri, dan merasa tidak aman. Anak sulung cenderung menaruh perhatian pada masa lampau ketika mereka menjadi pusat perhatian. Orang neurotik, penjahat, pemabuk dan yang bermoral bejat diamati Adler sebagai anak sulung.
Anak tengah cenderung ambisius. Ia selalu berusaha melebihi kakaknya. Ia cenderung memberontak atau iri hati,  tetapi pada umumnya ia dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik dibandingkan kakak atau adiknya.
Anak bungsu adalah anak yang dimanjakan. Sama seperti anak sulung, kemungkinan besar menjadi anak yang mengandung masalah dan menjadi orang dewasa neurotik yang tidak mampu menyesuaikan diri.
2.   Ingatan-ingatan Awal
Adler berpendapat bahwa ingatan paling awal yang dapat dilaporkan seseorang merupakan kunci penting untuk memhami gaya hidup dasarnya. Misalnya seorang gadis yang mengatakan bahwa “ketika saya berusaia tiga tahun, ayah saya….”, hal ini menujukan bahwa ia lebih tertarik dengan ayahnya daripada ibunya. Contoh lain seorang pemuda yang dirawat karena menderita kecemasan berat, mengenang kembali suatu peristiwa dimasa lampau dengan bercerita “ketika saya berusia kira-kira empat tahun, saya duduk di jendela dan memperhatikan sejumlah pekerja membangun sebuah rumah di sebrang jalan, sementara ibuku merajut kaos kaki”. Ingatan ini menunjukan pemuda itu ketika kanak-kanak dimanjakan karena ingatannya berkisar sekitar ibunya yang bersikap melindungi.
Adler menggunakan metode ini terhadap kelompok-kelompok maupun perorangan dan menemukan ternyata metode ini cukup mudah dan ekonomis untuk meneliti keribadian. Ingatan awal kini digunakan sebagai teknik projektif.
3.   Pengalaman masa kanak-kanak
Adler menyebutkan tiga faktor yang mempengaruhi gaya hidup yang salah yaitu: Anak-anak yang memilki inferoritas-inferoritas; anak-anak yang dimanjakan; anak-anak terlantar.
Anak yang memilki inferoritas sering kali dianggap gagal. Akan tetapi, jika mereka memiliki orang tua yang memahami dan mendorong mereka bisa melakukan kompensasi terhadapinferoritasnya, maka mereka akan mampu mengubah kelemahannya menjadi kekuatan.
Anak-anak yang dimanjakan tidak mengembangkan perasaan sosial; mereka menjadi orang yang selalu mengharapkan masyarakat bisa menyesuaikan diri dengan dirinya. Adler menganggap bahwa mereka sebagai kelompok masyarakat yang berbahagia.
Kemudian, anak yang diabaikan akan membawa akibat yang tidak menguntungkan. Anak yang diperlakukan buruk pada masa kanak-kanak akan menjadi musuh apabila mereka sudah dewasa. Gaya hidup mereka dikuasai oleh kebutuhan untuk balas dendam.
Pandangan Adler tentang neurosis juga dikemukaan berkenaan dengan kecenderungan pengamanan (Alwisol, 2005 : 101-102). Semua penderita neurosis berusaha menciptakan pengamanan terhadap harga dirinya. a. Perbedaan kecenderungan pengamanan dengan mekanisme pertahanan diri Konsep kecenderungan pengamanan dari Adler mirip dengan konsep mekanisme pertahanan diri yang dikemukakan oleh Freud. Keduanya merupakan gejala-gejala yang terbentuk sebagai proteksi terhadap self atau ego.Namun ada beberapa perbedaan antara keduanya. 1) Mekanisme pertahanan melindungi ego dari kecemasan instinktif, sedang kecenderungan pengamanan melindungi self dari tuntutan luar. 2) Mekanisme pertahanan ego merupakan gejala umum yang dapat dialami oleh setiap individu, sedangkan kecenderungan pengamanan merupakan salah satu gejala neurosis, walaupun mungkin saja setiap individu, normal atau abnormal, memakai kecenderungan itu untuk mempertahankan harga diri. 3) Mekanisme pertahanan ego beroperasi pada tingkat tak sadar, sedangkan kecenderungan pengamanan bekerja pada tingkat sadar dan tidak sadar. b. Bentuk-bentuk kecenderungan pengaman Psikologi individual menganalisis bahwa penderita neurosis takut tujuan menjadi personal yang dikejarnya terungkap sebagai kesalahan dan selanjutnya diiuti dengan hilangnya penghargaan dari masyarakat. Untuk mengkompensasi khayalan ini, individu membangunan kecenderungan pengamanan, yang bentuknya dapat berupa sesalan, agresi, dan menarik diri (Alwisol, 2005 : 102-103). 1) Sesalan Sesalan “ya, tetapi“ (yes, but), dipakai untuk mengurangi bahaya harga diri yang jatuh karena melakukan hal yang berbeda dengan orang lain. Sesalan “sesungguhnya, kalau“ (if, only) dipakai untuk melingdungi perasaan lemah dari harga diri, dan menipu orang lain untuk percaya bahwa mereka sesungguhnya lebih superior dari kenyataan yang ada sekarang. 2) Agresi Penderita neurosis memakai agresi untuk pengamanan kompleks superior yang berlebihan, melindungi harga diri yang rentan.Adler membedakan agresi menjadi tiga macam, yaitu depreciation, accusation, dan self-accusation. a) Depreciation (merendahkan), adalah kecenderungan meni-lai rendah prestasi orang lain dan menilai tinggi prestasi diri sendiri. b) Accusation (menuduh), adalah kecenderungan menya-lahkan orang lain atas kegagalan yang dilakukannya sendiri, dan kecenderungan untuk mencari pembalasan dendam, sehingga mengamankan kelemahan harga dirinya. c) Self-accusation (menuduh diri sendiri), ditandai dengan usaha untuk menyiksa diri sendiri dan perasaan berdosa.
3) Menarik diri (withdrawl) Witdrawl adalah kecenderungan untuk malarikan diri dari kesulitan berupa tindakan manarik diri dari aktivitas dan ling-kungan sosial.Ada 4 jenis witdrawl, yaitu : moving backward, satnding-still, hesitating,dan constructing obstacle. a) Moving backward (mundur), adalah gejala yang mirip dengan regresi yang dikemukakan Freud, yaitu kembali ketahap perkembangan sebelumnya. b) Standing-still (diam di tempat), mirip dengan konsep Freud, fiksasi. Untuk menghindari kecemasan akibat kegagalan, individu mengambil keputusan tidak melakukan tindakn tertentu. c) Hesitating (ragu-ragu), berhubungan erat dengan diam ditempat. Ada orang yang bimbang ketika menghadapi masalah yang dianggap sulit. Mengulur waktu dijadikan cara untuk mengatasi masalah yang dihadapi. d) Constructing obstacle(membangun penghalang), meru-pakan bentuk menarik diri yang pang ringan, mirip dengan sesalan ”if, only”. Dalam menghadapi persolaan individu menciptakan khayalan tentang suatu penghalang dan keberhasilan dalam mengatasi persolan tersebut.

3.      Perkembangan Kepribadian
Dalam http://winda-s-m-fib11.web.unair.ac.id/artikel_detail-102169 Psikologi%20Pelayanan%20-TEORI%20KEPRIBADIAN.htmlPerubahan Tingkah laku Merupakan variasi aktivitas, emosi, kebutuhan, hubungan sosial, dan sebagainya semakin banyak ketika orang menjadi semakin tambah usia. Tingkah laku itu menjadi semakin terorganisir, hirarkis, relistis, dan efektif Organisasi: bertambahnya usia membuat orang semakin sadar pentingnya pengorganisasian. Yaitu berbuat sesuai dengan situasi yang terjadi. Hirarkis: individu bertingkah laku itu melalui tahap-tahap perkembangan secara hirarkis. Relistis: kemampuan untuk membedakan relitas dengan fantasi lebih meningkat seiring perkembangan usia. Efektif: orang berusaha untuk memperoleh hasil maksimal dengan usaha yang minimal. vDiferensiasi dan Integrasi Diferensiasi: adalah peningkatan jumlah bagian-bagian dari keseluruhan atau peningkatan variasi tingkah laku, kebebasan bergerak yang dihubungkan dengan kemampuan untuk mengerjakan hal yang berbeda-beda. Integrasi: koordinasi tingkahlaku untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. vRegresi Adalah gerak mundur dalam proses perkembangan. Lewin menemukan dalam 2 macam: Retrograsi: kembali ke bentuk tingkah laku lebih awal dalam sejarah kehidupan manusia. Regresi: kembali ke bentuk tingkah laku yang lebih primitif, tidak peduli apakah pribadi pernah menlakukan hal itu.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia juga memberikan pernyataan bahwa perilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas (eros) yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya. Kemudian Frued memfokuskan diri bahwa Id terbesar yang dimiliki manusia dan sangat menentukan kepribadian manusia itu sendiriadalah dorongan seks. Frued yakin setiap orang sudah memiliki naluri seks sejak ia dilahirkan.
Adler berpendapat bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial. Motivasi pertama yang mendorong manusia adalah sosial. Manusia selalu menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut dalam kerjasama sosial, menempatkan kesejahteraan sosial di atas kepentingan diri sendiri. Sumbangan teori keribadian Adler yaitu: Dorongan sosial adalah sesuatu yang di bawa sejak lahir; konsep mengenai diri kreatif; dan keunikan tentang kepribadian. Adler berpendapat bahwa setiap orang merupakan konfigurasi unik dari motif-motif, sifat-sifat, minat-minat dan nilai-nilai.
B.     Saran
Pemakalah menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini, oleh karena itu pemakalah mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini kedepannya. Semoga dengan adanya makalah ini bisa membantu baik itu para konselor maupun calon konselor, mudah-mudahan makalah ini bisa membantu para mahasiswakhususnya progdi Bimbingan dan Konseling dalam memahami Teori Kepribadian.





DAFTAR PUSTAKA
http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepribadian/ diunduh pada 20 Juni 2015 pukul 13.30
diunduh pada 20 Juni 2015 pukul 14.39
Alwisol. (2005) Psikologi Kepribadian. Malang : Penerbit Universitas Muhammadyah Malang.
Boeree, CG. (1997) .Personality Theories :Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. (Alih bahasa : Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta : Primasophie.
Koeswara, E. (1991) Teori-teori Kepribadian. Bandung Eresco.
Supratiknya (Penyunting) (1993) Teori-teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius.Agus Sujanto, Psikologi Kepribadian,(Jakarta: Bumi Aksara, 2001)
Boeree, C.G. 2005.  Personality theories (cetakan ke II). Yogyakarta: Primashopie
Hall, C., Lindzey G (Alih bahasa Dr. A Supratiknya). 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis).Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Hall, C.,Lindzey, G. 1985. Personality Theories. NewYork: Jhon Wiley Sons

Tidak ada komentar:

Posting Komentar