TUGAS
MAKALAH
PENDEKATAN KONSELING GESTALT
PENDEKATAN KONSELING GESTALT
Dosen:
Abdul Chamid S.Pd Kons
Disusun
oleh:
Nama:
Farida Fitrotun Nisa
Progdi:
Bimbingan dan Konseling/4A
NPM:
1113500060
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2015
BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahnya
yang tercurahkan kepada kami. Shalawat serta salam Nabi kami panjatkan kepada
junjungan Nabi besar kita Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para
pengikutnya sampai akhir zaman.
Atas
anugerah dan bimbinganNya saya dapat menyelesaikan makalah ini yang merupakan
salah satu tugas dari mata kuliah Praktikum Konseling Individu. Saya menyadari
bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu
saya samgat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan makalh ini.
Saya
sampaikan terima kasih kapada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kami dan kepada
para pembacanya.
Tegal, Mei 2015
i
DAFTAR
ISI
Judul
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Pendahuluan 1
Tujuan 1
Pengambilan
Sumber 1
Tokoh
dan Riwayat Konseling 2
Pembahasan 5
Konsep
Dasar Pendekatan Pendekatan Gestalt 5
Asumsi
Perilaku bermasalah 13
Tujuan
Konseling 18
Peran
Konseling 20
Teknik
Konseling 23
Naskah
Dialog Pelaksanaan Konseling 29
Penutup 43
Simpulan 43
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Tujuan
1. Untuk
mengetahui teori konseling gestalt
2. Umtuk
mengetahui tokoh-tokoh teori gestalt
3. Untuk
mengetahu konsep dasar teori gestalt
4. Untuk
mengetahui tujuan teori konselig gestalt
5. Untuk
mengetahui peran dan tekning konseling
gestalt
B. Pengambilan
Sumber
Corey,
Gerald 1995. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi
Bandung:
PT.Eresco
Gudnanto.2012.Pendekatan
Konseling.UMK.FKIP
Subandi
M.A Psikoterapi.Unit Publikasi Fakultas Psikologi UGM: Pustaka Pelajar
1
C. Tokoh
dan Riwayat Konseling
Teori Gestalt diperkenalkan oleh
Frederick (Fritz) Salomon Perls (1983-1970). Gestalt dalam bahasa Jerman
mempunyai arti bentuk, wujud atau organisasi. Kata itu mengandung pengertian
kebulatan atau keparipurnaan (Schultz, 1991:171). Simkin dalam (Gilliand, 1989:92)
mengatakan bahwa kata Gestalt mempunyai makna keseluruhan (whole) atau
konfigurasi (configuaration). Dengan demikian Perls lebih mengutamakan adanya
integrasi bagian-bagian terkecil kepada suatu hal penting dan menjadi fungsi
dasar bagi manusia.
Sejarah pendekatan Gestalt di awali
sejak tahun 1926 ketika Perls mendapatkan gelar medical doctor (MD) pergi ke
Frankfrut-ammain dan menjadi asisten Kurt Goldstein di The Intitute for Brain
Damage Soldier. Di sinilah Perls bekerjasama dengan profesor Goldsteins dan
Adhemar Gelb serta ia bertemu dengan calon istrinya, Laura. Pada waktu itu
Frankfrut-ammain adalah pusat pergolakan intelektual dan Perls secara langsung
dan tidak langsung terekpos dengan pengaruh filsafat eksistensial dan
psikoanalisis yang menjadi akar pemikirannya dalam mengembangakan pendekatan
Gestalt (Corey, 1976, p.120; yotnef 1993).
Terdapat tiga tokoh yang mempengaruhi
perkembangan intelektual Perls hingga menghasilkan pendekatan Gestalt. Pertama Filsuf
Sigmund Freudlander, dari dialah Perls mendapatkan konsep tentang diferrential
thinking dan creative indiference, yang ia sebutkan dalam buku pertamanya, Ego,
Hunger and Aggressipn (1947). Kedua Perls dipengaruhi oleh Jan Smuts, perdana
menteri Afrika Utara dimana Perls pindah bersama keluarganya ketika melarikan
diri dari Nazi German ketika Nazi menguasai Belanda. Sebelum menjadi perdana
menteri, Smuts telah
2
menulis buku utama tentang Holism and
Evolution yang menjadi acuan perspektif Gestalt. Ketiga Alfred Korzybski,
seorang ahli semantik yang berpengaruh pada perkembangan pemikiran intelektual
Perls (Yotnef 1993).
Pendekatan Gestalt di mulai ketika Perls
menulis Ego, Hunger and Aggressipn
pada tahun 1941-1942. Terbitan pertama buku ini pada tahun 1946 di Afrika Utara
yang berjudul A Revision of Freud’s and
Method. Kemudian buku ini diterbitkan dengan judul The Beginning of Gestalt
Therapy pada tahun 1966. Kata “Gestalt Therapy” pertama kali digunakan sebagai
judul buku yang ditulis oleh Frederick Perls, Ralph Hefferline dan Paul Goddman
pada tahu 1951. Tidak lama setelah dibentuknya The New York Intitute for
Gestalt Therapy, yang bermarkas di apartemen milik Fritz dan Laura Perls di New
York City (Corey, 1986, P.120). Apartemen mereka digunakan untuk seminar,
workshop and diskusi kelompok para tokoh-tokoh yang mempelajari Gestalt,
diantaranya Paul Weisz, Lotte Weidenfeld, Buck Eastman, Paul Goodman, Isadore
From, Elliot Shapiro, Leo Chalfen, Iris Sanguilano, James Simkin dan Kenneth A.
Fisher.
Penemu psikoterapi Gestalt adalah
Frederick (Fritz) Perls dan mulai berkembang pada awal tahun 1950. Pendekatan
Gestalt berfokus pada masa kini dan itu dibutuhkan kesadaran saat itu juga.
Kesadaran ditandai oleh kontak, penginderaan, dan gairah. Kontak dapat terjadi
tanpakesdaran, namun kesdaran tidak dapat dipisahkan dengan kontak. Geralt
Corey dalam bukanya (Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, hal 118)
mengatakan bahwa terapi Gestalt yang dikembangkan Frederick Perls adalah bentuk
terapi yang mengharuskan individu menemukan
3
jalannya
sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai
kematangan.
Ketika Behaviorisme berkembang pesat di
Amerika Serikat, maka di negara Jerman muncul aliaran yang dinamakan Psikologi
Gestalt (arti kata Gestalt, dalam bahasa Jerman, ialah bentuk, pola atau
struktur). Para psikolog Gestalt yakin bahwa pengalaman seseorang mempunyai
kualitas kestuan dan struktur. Aliran gestalt ini muncul juga karena ketidakpuasan terhadap aliran
struktualis, khususnya karena struktualis mengabaikan arti pengalaman seseorang
yang kompleks, bahkan dijadikan elemen yang disederhanakan.
Gestalt adalah sebuah teori yang
menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi
yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori gestal
beroposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya
mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. Perintis teori
Gestalt ini iaklah Chr. Von Ehrenfels, dengan karyanya “Uber
Gestaltqualitation” (1890). Teori ini dibangun oleh tiga orang, Max Wertheimer,
Wolfgang Kohler, dan Kurt Koffka, mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung
mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh.
Pengikut-pengikut aliran psikologi Gestalt
mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi aliaran-aliran lain. Bagi
yang mengikuti aliran Gestalt perkembangan itu adalah proses diferensiasi.
Dalam proses difrerensiasi itu yang primer ialah keseluruhan, sedangkan
bagian-bagiannya adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai
bagian dari pada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian
yang lain; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Konsep
Dasar Pendekatan Konseling Gestalt
Terapi ini berpandangan bahwa manusia
dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Setiap individu bukan
semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian melainkan suatu koordinasi
semua bagian tersebut (perasaan, pikiran, dan sebagainya).
Psikoterapi gestalt menitikberatkan pada
semua yang timbul pada saat ini. Pendekatan ini tidak memperhatikan masa lampau
dan juga tidak memperhatikan yang akan datang. Jadi pendekatan gestalt lebih
menekankan pada proses yang ada selama terapi berlangsung.
Terdapat beberapa prinsip yang mendasari
teori Gestalt meliputi: holisme, teori lapangan, proses formasi figur, aturan
organismis diri. Holisme: Menurut Latner (1986) Holisme merupakan salah satu prinsip
pokok konseling Gestalt, semua perangai dipandang sebagai satu kesatuan dan
seluruhnya koheren, dan semua berbeda dari setiap bagiannya. Teori Lapangan:
konseling gestalt berdasarkan teori lapangan yang berdasar pada prinsip bahwa
organisme harus dilihat dalam lingkungannya sendiri, atau dalam konteksnya,
sebagai bagian lapangan yang berubah-ubah secara konstan, konseling gestalt
merehat prinsip bahwa segala sesuatu itu seling berhubungan, saling berkaitan dan ada dalam proses. Proses Formasi
Figur: proses formasi figur menggambarkan bagaimana individu mengorganisir
lingkungannya dari waktu ke waktu.
5
Dalam terapi gestalt lapangan yang tidak
berbeda disebut sebagai background, dan munculnya fokus perhatian disebut figur
(Latner, 1986).Keadaan yang sekarang merupakan masa yang paling penting dalam
konseling Gestalt. Salah satu konstribusi utama pendekatan Gestalt adalah
penekanannya pada pembelajaran untuk mengapresiasi dan pengalaman disaat
sekarang. E Polster dan Polster (1973) mengembangkan tesis bahwa “kekuatan
adalah keadaan yang ada saat ini”. Banyak orang menghabiskan energinya untuk
menangisi kesalahan atau masa lalunya.
Konsep dasar pendekatan gestalt adalah
kesadaran, dan saaran utama Gestalt adalah pencapaian kesadaran. Menurut buku
M.A Subandi (psikoterapi. Hal.96) kesadaran meliputi:
1. Kesadaran
akan efektif apabila didasarkan pada dan
disemangati oleh kebutuhan yang ada saat ini yang dirasakan oleh individu.
2. Kesadaran
tidak komplit tanpa pengertian langsung tentang kenyataan suatu situasi dan
bagaimana seseorang berada di dalam situasi tersebut.
3. Kesadaran
itu selalu ada di sini dan saat ini. Kesadaran adalah hasil penginderaan, bukan
sesuatu yang mustahil terjadi.
6
Parsons mengemukakan beberapa asumsi
pokoktentang manusia yang dipergunakan sebagai dasar dalam terapi gestalt,
sebagi berikut:
1. Manusia
merupakan keseluruhan yang terdiri dari
badan, emosi, fikiran, semsasi, dan persepsi yang mempunyai fungsi dan saling
berhubungan.
2. Manusia
adalah bagian dari lingkungannya dan tidak dapat dipelajari dan dipahami diluar
dari itu.
3. Manusia
adalah proactive. Ia menentukan responnya terhadap stimulus yang dari
lingkunganya.
4. Manusia
mempunyai kemampuan untuk menjadi sadar akan sensasinya, pikiranya, emosinya,
dan persepsi-persepsinya.
5. Manusia
melalui kesadaran diri mampu untuk memilih dan bertanggung jawab terhadap
tindakan perilakunya.
6. Manusia
mempunyai perlengkapan dan sumber-sumber untuk kehidupannya secar efektif untuk
mengembangkan diri melalui kemampuan yang dimilikinya sendiri.
7. Manusia
hanya dapat mengalami sendiri dalam masa sekarang. Masa lalu dan masa yang akan
datang hanya dapat dialami dengan melalui mengingat-ingat.
Pendekatan konseling gestalt
berpandangan bahwa manusia dalam kehidupanya
selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Setiap individu bukan
semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung,
otak dsb, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Manusia
aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan dan
tingkah lakunya.
7
Setiap individu memiliki kemampuan untuk
menerima tanggung jawab pribadi memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran
yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi.
Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah: (1) tidak dapat
dipahami, kecuali dalam keseluruhan konteksnya, (2) merupakan bagian dari
lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitanya dengan lingkungannya itu,
(3) aktor bukan reaktor, (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi,
emosi, persepsi, dan pemikiranya, (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung
jawab, (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif.
Dalam hubungannya dengan perjalanan
kehidupan manusia, pendekatan konseling Gestalt memendang bahwa tidak ada yana
“ada” kecuali “sekarang”. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani,
oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang.
Dalam pendekatan konseling Gestalt ini,
kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”.
Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada
masa depan, maka mereka mengalami kacemasan. Dalam pendekatan Gestalt terdapat
konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business), yakni mencakup
perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, kebencian,
sakit hati, kecemasan, kedudukan, rasa berdosa, rasa diabaikan. Meskipun tidak
bisa diungkapkan, perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan
ingatan-ingatan dan fantasi-fantasi
tertentu. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran, perasaan-perasaan itu
tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan
cara-cara yang menghambat
8
hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri
dan orang lain. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi
dan menangani perasaan-parasaan yang tak terungkapkan itu.
Pandangan pendekatan gestalt terhadap
manusia dipengaruhi oleh filsafat eksistensial dan fenomenologi. Asumsi dasar
pendekatan Gestalt tentang manusia adalah bahwa individu dapat mengatasi
sendiri permasalahannya dalam hidup, terutama bila mereka menggunakan kesadaran
akan pengalaman yang sedang dialami dan dunia sekitarnya. Gestalt berpendapat
bahwa individu memiliki masalah karena menghindari masalah. Oleh karena itu
pendekatan gestalt mempersiapkan individu dengan intervensi dan tantangan untuk
membantu konseling mencapai integrasi diri dan menjadi lebih autentik.
Perls berkata individu akan lebih baik
bila mereka kehilangan pikiran mereka dan beralih ke sensasi, artinya bahwa
badan dan perasaan adalah indikator yang lebih baik dan bisa dipercaya untuk melihat
kondisi psikologis individu. Tanda-tanda yang diperlihatkan oleh tubuh manusia
seperti sakit kapala, tegang pada leher, sakit perut mungkin lebih dapat
dipercaya bahwa kesadaran (awareness) saja bila menjadi “obat” bagi
permasalahan individu. Dengan kesdaran penuh, individu dapat mengembangkan
pengaturan diri (Self Regulation) dan dapat mengontrol dirinya (Thompson et.
Al. 2004, p.184).
9
Pendekatan gestalt berpendapat bahwa
individu yang sehat secara mental adalah:
-
Individu yang dapat mempertahankan
kesadaran tanpa dipecah oleh berbagai stimulasi dari lingkungan yang dapat
mengganggu perhatian individu. Orang tersebut dapat secara penuh dan jelas
mengalami dan mengenali kebutuhannya dan alternatif potensi lingkungan untuk
memenuhi kebutuhannya.
-
Individu yang dapat merasakan dan
berbagi konflik pribadi dan frustasi tapi dengan kesadaran dan konsentrasi yang
tinggi tanpa ada percampuran dengan fantasi-fantasi.
-
Individu yang dapat membedakan konflik
dan masalah yang dapat diselesaikan dan tidak dapat diselesaikan.
-
Individu yang dapat mengambil tanggung
jawab atasa hidupnya.
-
Individu yang dapat berfokus pada sustu
kebutuhan (The Figure) pada satu waktu sambil menghubungkannya dengan kebutuhan
yang lain (The Groud), sehingga ketika kebutuhan itu terpenuhi disebut juga
Gestalt yang sudah lengkap.
Hakekat Manusia menurut Gestalt:
a. Manusia
merupakan keseluruhan yang terdiri dari badan, emosi, pikiran sensasi dan
persepsi yang semuanya mempunyai fungsi dan seling berhubungan.
b. Manusia
merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya
dengan lingkungan itu.
c. Manusia
adalah proaktif. Ia menentukan responnya terhadap stimulus yang terdiri dari
lingkungannya.
10
d. Manusia
berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi, dan
pemikirannya.
e. Manusia
melalui kesadaran dapat memilih dan bertanggung jawab terhadap tindakan
perilakunya.
f. Manusia
mempunyai perlengkapan dan sumber-sumber untuk kehidupannya secara efektif dan
untuk mengembangkan diri melalui kemampuan yang dimilikinya sendiri.
g. Manusia
hanya dapat mengalami sendiri dalam masa sekarang, masa lalu dan masa yang akan
datang hanya akan dapat dialami dengan
melalui mengingat-ingat.
Pandangan tentang
kepribadian (produk dari interaksi antara individu dengan lingkungan yang
dipersepsinya), dorongan utama individu adalah untuk mencapai self actualization dan self regulation. Dalam pendekatan
gestalt adalah adanya pertentangan antara kepentingan sosial dan biologis,
manusia sering menyatakan apa yang seharusnya dari pada apa yang sebenarnya.
Hal ini akan mengarahkan pada manusia untuk berpandangan bahwa setiap individu
tidak usah seperti apa adanya melainkan apa seharusnya.
11
Makna dari teori Gestalt adalah teori
ini mengajarkan konselor dan konseli metode kesadran dan fenomenologi, yaitu
bagaimana individu memahami, mersakan, dan bertindak serta membedakannya dengan
interpretasi terhadap suatu kejadian dan pengalaman masa lalu. Teoriini juga
dianggap teori yang hidup dan mempromosikan pengalaman langsung, bukan sekedar
membicarakan permasalahan dalam konseling. Oleh karena itu, teori ini disebut
juga exsperiental, dimana konseli merasakan, pikiran dan lakukan pada saat
konseli berinteraksi dengan orang lain. (Corey,1986.p.120).
Teori gestalt merupakan suatu pendekatan
konseling yang didasarkan pada suatu pemikiran bahwa individu harus dipahami
pada konteks hubungan yang sedang berjalan dengan lingkungan (ongoing
relationships).
Gestalt adalah sebuah teori yang
menjalaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi
yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori Gestalt
berposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya
mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.
12
1.2 Asumsi
Perilaku Bermasalah
Pendekatan gestalt mengarahkan konseli
untuk secara langsung mengalami masalahnya dari pada hanya sekedar berbicara
situasi yang sering kali bersifat abstrak. Dengan begitu, konselor gestalt akan
berusaha untuk memahami secara langsung bagaimana konseli merasakan sesuatu,
sehingga konselor akan “hadir sacara penuh” (fully persent) dalam proses
konseling sehingga yang pada akhirnya memunculkan kontak yang murni (genuine contacs) antara konselor dan
konseli.
Terapi Gestalt yang dikembangkan oleh
Frederick Perls adalah bentuk terapi eksistensial yang berpijak pada premis
bahwa individu-individu harus menemukan
jalan hidupnya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap
mencapai kematangan. Terapi Gestalt berfokus pada apa dan bagaimana-nya tingkah
lakun dan pengalaman di sini dan sekarang dengan memadukan (mengintegrasikan)
bagian-bagian kepribadian yang terpecah dan tak diketahui.
Asumsi dasar terapi gestalt adalah bahwa
individu-individu mampu menangani sendiri masalah-masalah hidupnya secara
efektif. Individu sering kali mengalami masalah dengan orang lain di masa lalu.
Menuurut Gestalt, masa lalu yang belum terselesaikan atau terpecahkan disebut
dengan Unfinished Business yang dapat dimanifestasikan dengan munculnya
kemarahan, amukan, kebencian, cemas, duka ciat, rasa bersalah dan perilaku
menunda, (Polster, dalam Corey, 2005) menyatakan bahwa beberapa bentuk perilaku
akibat Unfinished Business adalah seseorang akan asyik dengan dirinya sendiri,
memaksa orang lain untuk menuruti kehendakny, bentuk-bentuk perilaku yang
menempatkan dirinya sebagai orang kalah, bahkan sering kali muncul simptom-simptom penyakit fisik.
13
Individu bermasalah karena terjadi
pertentangan antara kekuatan “top dog” dan antara keberadaan “under dog”. Top
dog adalah kekutan yang mengharuskan, menuntut, mengancam. Under dog adalah
keadaan desensif, membela diri, tidak berdaya, lemah, pasif, ingin dimaklumi.
Individu
bermasalah karena ketidakmampuan seseorang dalam mengintegrasikan pikiran,
perasaan dan tingkah lakunya karena disebabkan mengalami kesenjangan antara
masa sekarang dan masa yang akan datang.
Perkembangan
yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus
(self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self).
-
Terjadi pertentangan antara keberadaan
sosial dan biologis
-
Ketidakmampuan individu mengintegrasikan
pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya.
-
Mengalami kesenjangan sekarang dan yang
akan datang.
-
Melarikan diri dari kenyataan yang harus
dihadapi.
Spektrum
tingkah laku bermasalah pada individu meliputi:
-
Kepribadian kaku (rigid)
-
Tidak mau bebes bertanggung jawab, ingin
tetap tergantung
-
Menolak berhubungan dengan lingkungan
-
Memelihara unfinished bussiness
-
Menolak kebutuhan diri sendiri
-
Melihat diri sendiri dalam kontinu
“hitam-putih”
14
Menurut
Gestalt, individu menyebabkan dirinya terjerumus pada masalah-masalah tambahan,
karena tidak mengatasi kehidupanya dengan baik pada kategori dibawah ini:
-
Kurang kontak dengan lingkungan, yaitu
individu menjadi kaku dan memutus hubungan antara dirinya dengan orang lain dan
lingkungan.
-
Confluence, yaitu individu yang terlalu
banyak memasukan nilai-nilai dirinya kepada orang lain atau memasukan
nilai-nilai lingkungan pada dirinya, sehingga meraka kehilangan pijakan dirinya
dan kemudian lingkungan yang mengontrol dirinya.
-
Unfinished Business, yaitu orang yang
memiliki kebutuhan yang tidak terpenuhi, perasaan yang tidak di ekspresikan dan
situasi yang belum selesai yang mengganggu perhatiannya (yang mungkin dimanifestasikan
dalam mimpi).
-
Fragmentasi, yaitu orang yang
mencobauntuk menemukan atau menolak kebutuhannya seoerti kebutuhan agresi.
-
Topdog atau underdog; orang yang
mengalami perpecahan pada kepribadiannya yaitu antara apa yang mereka pikir
“Harus” dilakukan (Topdog) dan apa yang mereka “Inginkan” (Underdog).
-
Polaritas atau dikotonomi, yaitu orang
cenderung untuk “bingung dan tidak dapat berkata-kata (Speechelss) pada saat
terjadi dikotonomi dalam dirinya seperti antara tubuh dan pikiran (Body and
Mind), antara diri dan lingkungan (Self external world), antara emosi dan
kenyataan (Emotion Reality) dan sebagainya. (Thompson et. Al. 2004, p.185-186).
15
Contoh
kasus: Rendi merupakan anak bungsu dari tiga saudara. Dua kakak dari konseli
semuanya laki-laki, dan ketika Rendi masih kecil sering kali mendapatkan
perlakuan yang kurang menyenangkan dari kakaknya tersebut. Sering kali Rendi
diminta secara paksa oleh kakaknya untuk mengerjakan tugas rumah tangga yang
seharusnya dikerjakan oleh kakaknya, seperti menyapu, mencuci piring, dan uang
jajan Rendi juga sering diminta kakaknya
tanpa sepengetahuan dari orang tuanya yang berprofesi sebagai pedagang. Hal
inilah yang menyebabkan konseli merasakan keyakinan untuk membalas perilaku
kakaknya sehingga membuat Rendi tumbuh menjadi remaja yang labil dan agresif,
pernah suatu hari Rendi meminta uang secara paksa kepada teman satu kelasnya.
Dan membuat dirinya dijauhi teman-temanya disekolah, hingga membuat Rendi
berinisatif menemui konselor.
Proses
konseling: dalam pendekatan gestalt
terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai, yakni mencakup
perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, kebencian,
sakit hati, kecemasan, kedudukan, rasa diabaikan dsb. Maka akar masalah dari
konseli dapat dikategorikan sebagai urusan yang tidak selesai, konseli juga
mengalami konflik antara dua sisi kepribadian yang berlawanan yang berakar pada
mekanisme introyeksi yang melibatkan penggabungan aspek-aspek dari orang lain,
dalam hal ini dirinya sewaktu kecil yang lemah dan kakaknya yang otoriter.
16
Teknik
kursi kosong merupakan suatu cara untuk mengajak konseli agar mampu
mengeksternalisasikan introyeksinya. Dalam hal ini, dua kursi diletakkan di
tengah ruangan, konselor meminta konseli untuk duduk di kursi yang satu dan
memainkan peran sebagai top dog (otoriter yang diintroyeksikan dari kakaknya),
kemudian pindah ke kursi lain menjadi under dog (lemah dan tak berdaya yang
didintroyeksikan dari masa kecilnya). Dialog dilangsungkan diantara kedua sisi
konseli.
Teknik
ini membantu konseli untuk berhubungan dengan perasaan atau sisi dari dirinya
sendiri yang diingkarinya, konseli mengintenatifkan dan mengalami secara penuh
persaan-perasaan yang bertentangan, dari pada hanya membicarakannya,
selanjutnya konselor membantu konseli untuk menyadari bahwa perasaan adalah
bagian diri yang sangat nyata, untuk mencegah konseli memisahkan perasaan.
Evaluasi
terhadap proses dan hasil konseling terjadi sebagai bagian konselor dan konseli
dalam berpartisipasi. Setelah proses konseling, konseli menjadi lebih sadar
tentang bagaimana ia berperilaku yang selama ini tidak disadarinya. Pada sesi
konseling berlangsung, konselor dan konseli mungkin memberikan perhatian pada
isu-isu kepribadian secara umum dan berbagai pola serta kondisi umum yang
memberikan konstribusi pada berkurangnya keasdaran konseli. Selanjutnya,
konseli membawa kesadarannya kedalam kehidupan sehari-hari dan mempertahankan
serta mendasarkan dirinya padanya setelah proses konseling berakhir.
17
1.3 Tujuan
Konseling
Tujuan
utama konseling gestalt adalah membantu konseli agar berani menghadapi berbagai
macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung
makna bahwa konseli haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap
lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak
untuk meningkatkan kebermaknaan dalam hidupnya. Tujuan konseling gestalt yang
ingin dicapai adalah menyadarkan (awareness) konseli terhadap apa yang sedang
dialami dan bagaimana mereka menagani masalahya. Gestalt berkeyakinan bahwa
melalui kesadaran ini maka perubahan akan mencul secara otomatis.
Individu
yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh,
melainkan baru memanfaatkan sebagian dari potensi yang dimilikinya. Melalui
konseling, konselor membantu konseli agar potensi yang baru dimanfaatkan dan
dikembangkan secara optimal.
Secara
lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut:
-
Membantu konseli agar dapat memperoleh
kesdaran pribadi memahami kenyataan atau realitas serta mendapatkan insigt
secara penuh.
-
Membantu konseli menuju pencapaian
integritas kepribadianya.
-
Mengentaskan klien dari kondisinya yang
tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri. (to be true
to himself)
-
Meningkatkan kesdaran individu agar
konseli dapat bertingkah laku menurut prinsp-prinsip gestalt semua situasi
bermasalah yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik.
18
Tujuan
konseling gestalt yang bersifat unik, yakni membantu konseli agar mampu untuk:
a) Mencapai
kesadaran diri, sehingga bisa menghayati hidup pada tataran disini dan
sekarang.
b) Mengungkapkan
masalah pribadi yang terselesaikan.
c) Mencapai
dan memanfaatkan sumber-sumber potensi pribadinya.
d) Mengurangi
ketergantungan pada orang lain dan lingkungan.
e) Meningkatkan
rasa bertanggung jawab, membuat pilar yang tepat dan memperoleh kemampuan diri.
f) Melakukan
kontak yang bermakna dengan semua aspek dirinya, orang lain dan lingkungannya.
g) Meningkatkan
harga diri, penerimaan diri dan aktualisasikan dirinya.
h) Meningkatkan
sense of wholeness, integrasi dan keseimbangan.
19
1.4 Peran
Konseling
Dalam buku M.A Subandi dalam bukunya
Psikoterapi dan menurut Gerald Corey dalam bukunya Teori dan Praktek Konseling
dan Psikoterapi, dapat disimpulkan bahwa fokus utama konseling adalah bagaimana
keadaan konseli sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam
kesadarannya.
Tugas konselor adalah mendorong konseli
untuk dapat melihat kenyataan yang da pada dirinya dan mau mencoba
menghadapinya, konseli bisa diajak untuk memilih dua alternatif, menolak
kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang
sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Selain itu koselor diharapkan
menghindari diri dari pikiran-pikiran yang abstrak, keinginan-keinginannya
untuk melakukan diagnosis, interpretasi, maupun memberi nasehat.
Konselor sejak awal sudah mengarahkan
tujuan agar konseli menjadi matang maupun menyingkirkan hambatan-hambatan yang
menyababkan konseli tidak dapat berdiri
sendiri. Konselor membantu konseli menghadapi transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar
menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka
ketersesatan atau kebuntuan konseli. Pada saat konseli mengalami ketersesatan
dan konseli menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara
mengungkapkan kelemahannya, dirinya tidak berdaya, bodoh atau gila. Konselor
membantu membantu membuat perasaan konseli untuk bangkit dan mau menghadapi
ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal.
20
Fokus utama konseling Gestalt adalah
terletak ada bagaimana keadaan konseli sekarang serta hambatan-hambatan apa
yang muncul dalam kesadarannya. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong
konseli untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba
menghadapinya. Dalam hal ini perlu diarahkan agar konseli mau belajar
menggunakan perasaannya secara penuh.
Dalam
proses konseling gestalt, konselor memiliki peran dan fungsi yang unik, yaitu:
konselor memfokuskan pada perasaan, kesadaran, bahasa tubuh, hambatan energi
dan hambatan untuk mencapai kesdaran yang ada pada konseli, konselor adalah
“Artistic Participant” yang memiliki
peranan dalam menciptakan hidup baru konseli, konselor berperan sebagai
Projection Screen, konselor harus dapat membaca dan menginterpretasikan
bentuk-bentuk bahasa yang dilontarkan konseli.
Peran
konselor: menurut rigkasan Gudnanto (pendekatan konseling, 2012). Dalam pendekatan teori Gestalt ini, peran konselor
adalah:
1. Memfokuskan
pada perasaan konseli, kesadaran pada saat yang sedang berjalan, serta hambatan
terhadap kesadaran.
2. Menantang
konseli sehingga mereka mau memanfaatkan indera mereka sepenuhnya dan
berhubungan dengan pesen-tubuh mereka.
3. Menaruh
perhatian pada bahasa tubuh konseli sebagai petunjuk non verbal.
4. Secara
halus berkonfrontasi dengan konseli guna untuk menolong mereka menjadi sadar
akan akibat dari bahasa mereka.
21
Fungsi konselor: konselor membantu
konseli untuk menganalisis dan memahami apa yang ada/terjadi sekarang ini dan
bagaimana berbuat sekarang ini, konselor bukan hanya menganalisis saja, tetapi
lebih ditekankan untuk mengintegrasi perhatian dan kesadaran konseli.
Yang dimaksud dengan perhatian disini
adalah mendengarkan apa yang diangan-angankan atau yang tidak disenangi sedangkan
apa yang dimaksud dengan kesadaran adalah apa yang sedang dialaminya menyentuh
pribadinya dan dunianya.
Hubungan konselor dengan konseli: M.A
Subandi dalam bukunya (Psikoterapi, hal 89), hubungan antara konselor dan
konseli adalah sejajar yaitu hubungan antara konseli dan konselor itu
adanya/melibatkan dialog dan hubungan antara keduanya. Pengalaman-pengalaman
kesadran dan persepsi konselor merupakan inti dari proses konseling.
Menurut Gerald Corey dalam bukunya (Teori
dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, hal 132), hubungan konselor dan konseli
dalam praktek terapi Gestalt yang efektif
yaitu dengan melibatkan hubungan pribadian-kepribadian antara konselor
dan konseli. Pengalaman-pengalaman kesadaran dan persepsi-presepsi konselor
menjadi latar belakang, sementara kesadaran dan reaksi-reaksi konseli membentuk
bagian muka proses terapi.
22
1.5 Teknik
Konseling
Hubungan
personal antara konselor dengan konseli merupakan hal inti yang perlu
diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. Dalam kaitan itu,
teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah
merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara
penuh.
Prinsip
kerja teknik konseling gestalt: Penekanan tanggung jawab klien, konselor
menekankan bahwa konselor bersedia membantu konseli tetapi tidak akan bisa
mengubah konseli, konselor menekankan agar konseli mengambil tanggung jawab
atas tingkah lakunya. Orientasi sekarang dan disini, dalam proses konseling,
konselor tidak merekontruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar, tetapi
memfokuskan kaadaan sekarang. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah
bertanya “mengapa”. Orientasi eksperimental, konselor meningkatkan kesadaran
konseli tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya, sehingga dengan demikian
konseli mengintegrasikan kembali dirinya: (a) konseli mempergunakan kata ganti
personal konseli mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan; (b) konseli
mengambil peran dan bertanggung jawab; (c) konseli menyadari bahwa ada hal-hal
positif dan atau negatif pada diri atau tingkah lakunya.
23
Teknik-teknik konseling
gestalt:
Permainan Dialog,
teknik ini dilakukan dengan cara konseli dikondisikan untuk mendialogan dua
kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan
kecenderungan under dog, misalnya: (a) kecenderungan orang tua lawan
kecenderungan anak; (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan
masa bodoh; (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” (d)
kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung; (e) kecenderungan kuat
atau tegar lawan kecenderungan lemah. Melalui dialog yang kontradiktif ini,
menurut pandangan Gestalt pada akhirnya konseli akan mengarahkan dirinya pada
suatu posisi dimana ia berani mengambil resiko. Penerapan permainan dialog ini
dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.
Latihan Saya
Bertanggung Jawab, merupakan teknik yang dimaksudkanuntuk
membantu konseli agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada
memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor
meminta koonseli untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian konseli
menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat: “...dan saya bertanggung jawab
atas hal itu”. Misalnya: “Saya merasa jenuh, dan saya bertanggung jawab atas
kejenuhan itu”, “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang, dan saya
bertanggung jawab ketidaktahuan itu”, “Saya malas, dan saya bertanggung jawab
atas kemalasan itu”. Meskipun tampaknya mekanis, tetapi menurut gestalt akan
membantu meningkatkan kesadaran konseli akan perasaan-perasaan yang mungkin
selama ini diingkarinya.
24
Bermain Proyeksi, proyeksi
artinya memantulkan kepada oarang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak
mau melihat atau menerimanya. Mengingkari parasaan-perasaan sendiri dengan cara
mementulkannya kepada orang lain. Sering terjadi, perasaan-perasaan yang
dipantulkan kepada orang lain merupkan atribut yang dimilikinya. Dalam teknik
bermain proyeksi konselor meminta kepada konseli untuk mencobakan atau
melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.
Teknik Pembalikan, gejala-gejal
dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari
dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta konseli
untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang
dikeluhkannya. Misalnya: konselor memberi kesempatan kepada konseli untuk
memainkan peran “ekshibisionis” bagi konseli pemalu yang berlebihan.
Tetap dengan Perasaan, teknik
ini dapatdigunakan untuk konseli yang menunjukkan perasaan atau suasana hati
yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Konselor mendorong
konseli untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
Kebanyakan konseli ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan
menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini konselor
tetap mendorong konseli untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan parasaan
yang dialaminya sekarang dan mendorong konseli untuk menyelam lebih dalam ke
dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
25
Tahap
Konseling Gestalt.
Tahap-tahap
pada proses konseling gestalt adalah:
a. Tahap
Pertama (the beginning phase)
Konselor menggunakan
metode fenomologi untuk meningkatkan kesadaran konseli, menciptakan hubungan
dialogis mendorong keberfungsian konseli secara sehat dan menstimulasi konseli
untuk mengembangkan dukungan pribadi (personal support) dan lingkungannya
(Joyce and Still 2001 dalam Safari 2005). Secara garis besar proses yang
dilalui dalam konseling tahap pertama adalah: menciptakan tempat yang aman dan
nyaman (safe container) untuk proses konseling, mengembangkan hubungan
kolaboratif (working alliance), mengumpulkan data, pengalaman konseli, dan
keseluruhan gambaran kepribadiannya dengan menggunakan pendekatan
fenomenologis, meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab pribadi konseli, membangun
sebuah hubungan yang dialogis, membuat prioritas dan kesimpulan diagnosis
terhadap konseli.
b. Tahap
Kedua (clearing the ground)
Pada tahap ini proses
konseling berlanjut pada strategi-strategi yang lebih spesifik. Konselor
mengeksplorasi berbagai introyeksi, berbagai modifikasi kontak yang dilakukan
dan unfinished business. Disini peran konselor adalah secara berkelanjutan
mendorong dan membangkitkan keberanian konseli mengungkapkan eksperesi
pengalaman dan emosi-emosinya dalam rangka meningkatkan kesadaranya, tanggung
jawab pribadi dan memahami unfinished bisiness.
26
c. Tahap
Ketiga (the existensial encounter)
Pada tahap ini ditandai
dengan aktifitas yang dilakukan konseli dengan mengeksplorasi masalahnya secara
mendalam dan membuat perubahan-perubahan secara signifikan. Tahap ini merupakan
fase tersulit karena pada saat ini konseli menghadapi kecemasan-kecemasanya
sendiri, ketidakpastian dan ketakutan-ketakutan yang selama ini terpendam dalam
diri. Selain itu, konseli menghadapi perasaan terancam yang kuat disertai
dengan perasaan kehilangan harapan untuk hidup yang lebih mapan, pada fase ini
konselor memberikan keyakinan ketika konseli cemas dan ragu-ragu menghadapi
masalahnya.
d. Tahap
Keempat (integration)
Pada tahap ini konseli
sudah mulai dapat mengatasi krisis-krisis yang dieksplorasi sebelumnya dan
mulai mengintegrasikan keseluruhan diri (self), pengalaman dan emosi-emosinya
dalam perspektif yang baru. Konseli telah mampu menerima ketidakpastian,
kecemasan dan ketakutannya serta menerima tanggung jawab atas kehidupannya
sendiri, tahap ini terdiri dari beberapa langkah sbb: membentuk kembali
pola-pola hidup dalam bimbingan pemahaman baru dan insigt baru, memfokuskan pada pembuatan kontak
relasi yang memuaskan, berhubungan dengan masyarakat dan komunitas secara luas,
menerima ketidakpastian dan kecemasan yang dapat menghasilkan makna-makna baru,
menerima tanggung jawab untuk hidup
baru.
27
e. Tahap
Kelima (ending)
Pada tahap ini konseli siap untuk
memulai kehidupan secara mandiri tanpa supervise konselor, yang ditandai oleh
proses-proses berikut: berusaha untuk melakukan tindakan antisipasi akibat
hubungan konseling yang telah selesai, memberikan proses pembahasan kembali
isu-isu yang ada, merayakan apa yang telah dicapai, menerima apa yang belum
tercapai, melakukan antisipasi dan perencanaan terhadap krisis dimasa depan,
membiarkan pergi dan melanjutkan kehidupan.
28
1.6 Naskah
Dialog Konseling
Konseli : Tok… Tok… Tok… (mengetuk pintu
ruang konseling)
Konselor
: “Ya, silahkan masuk”
(menghentikan aktivitas menulis dan bersikap attending)
Konseli
: (membuka pintu dan memandang
konselor sebelum masuk ke dalam ruangan)
Konselor : “Oh Sesa Ayo masuk Nak, jangan
berdiri saja di situ. Coba kesini…”
Konseli : (mengangguk dan berjalan masuk ke
ruangan)
Konselor : (berdiri dan menyambut kedatangan
Arda dengan senyum hangat)
“Nah,
silahkan duduk.”
Konseli : “baik bu “ (sambil duduk)
Konselor : “Seminggu liburan tidak terasa juga
ya? Sekarang semester baru sudah dimulai lagi. Anak-anak baru sudah mulai masuk
sekolah dengan kegiatan inti, kakak-kakakmu yang kelas XII juga sudah mulai
sibuk dengan persiapan Ujian Akhir Nasional mereka yang syarat kelulusannya lebih
rumit dibandingkan dengan tahun lalu. Kamu dan teman-temanmu yang duduk di
kelas XI pun sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan kalian yang baru ya?
Teman baru, guru baru, materi-materi yang lebih spesifik, tahun ini kamu jadi
masuk IPA kan Nak?
Konseli : “Iya bu,...” (sambil menunduk
lesu)
29
Konselor : “Di tahun ajaran ini, masih tetap
setia dengan ekskul basket? Ibu dengar, prestasi kamu di bidang basket
benar-benar mengagumkan ya? Sampai kamu terpilih menjadi kapten basket puteri
tim junior kita?”
Konseli : “Ah, ibu bisa saja! Hanya tim
basket junior kok, bukan tim basket inti. Dan saya rasa semua orang juga bisa
menjadi kapten tim basket junior, bukan hanya saya. Kebetulan saja, kakak-kakak
kelas dan pelatih basket kita memilih saya. Padahal kalau mau memilih yang lain
juga banyak kok…”
Konselor : “Meskipun kamu bilang hanya
kebetulan, tapi ibu rasa keterampilan kamu dalam bidang basket itu bisa membuat
kamu menjadi orang yang sukses lho nantinya. Jadi, kalau kamu tidak hanya
memandang prestasi kamu sebagai suatu kebetulan, melainkan kamu memang
mempunyai keinginan untuk menjadi yang terbaik dalam bidang basket, ibu rasa
itu bukan sesuatu yang buruk. Kamu bisa menjadi pemain basket yang ahli
nantinya.”
Konseli : “Terimakasih bu, mungkin saya akan
berusaha.”
Konselor : “Jangan mungkin! Kamu harus
berusaha! Kembangkan apa yang kamu bisa lakukan sesuai dengan porsi yang
tepat.”
Konseli : Baiklah bu, semoga saya bisa.”
Konselor : “Nah, begitu akan lebih baik untuk
kamu. O ya, sejak tadi kita sudah membicarakan mengenai liburan, dan juga
prestasi kamu dalam bidang basket. Selanjutnya, apakah mungkin ada hal lain
yang ingin kamu bicarakan pada ibu sehubungan dengan kedatangan kamu kesini?
Kalau memang ada, bicarakanlah.”
30
Konseli : “Terus terang saja memang ada yang
ingin saya bicarakan dengan ibu. Untuk itu saya datang kemari menemui ibu.
Konselor : “Nah, bicaralah Nak… ibu akan
mendengarkan kamu, mendengarkan cerita kamu, dan pada akhirnya nanti akan
membantu kamu supaya kamu bisa menemukan solusi sendiri atas masalah yang
mungkin kamu hadapi saat ini. Sudah tugas ibu untuk membantu siswa-siswa di
sini menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya.”
Konseli : “Hhhh….” (menghela nafas panjang)
Konselor : (Diam, membiarkan konseli berpikir
sejenak)
Konseli : “Saya ada masalah dengan Bapak
saya bu,,”
Konselor : “Hm…..”
Konseli : “Sebenarnya masuk ke jurusan IPA
kali ini bukanlah keinginan saya bu…,,”
Konselor : “Bukan keinginan kamu?..”
Konseli : “Ya Sungguh itu bukan keinginan
saya sendiri. Saya justru ingin masuk jurusan IPS, yang menurut saya lebih
sesuai dengan kemampuan dan jiwa saya. Saya tidak terlalu suka dengan
pelajaran-pelajaran eksak yang akan saya temui di jurusan IPA, meskipun selama
ini nilai-nilai saya selalu bagus. Saya justru lebih suka dengan ilmu sosial,
yang menurut saya lebih nyata, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.”
Konselor : (mengangguk-angguk)
31
Konseli : “Tapi Bapak saya memaksa saya
untuk masuk ke jurusan IPA. Kata Beliau, jurusan IPA adalah yang terbaik, memiliki
nilai pandang yang lebih tinggi ketimbang jurusan IPS yang biasanya berisi
anak-anak buangan. Sudah begitu, kata Bapak, anak IPS nakal-nakal pula. Jadilah
saat ini saya terdampar di jurusan yang tidak sesuai dengan minat saya,
sebenarnya.”
Konselor : “Nah, nah, nah, kalau memang menurut
kamu itu tidak sesuai dengan jiwa dan kemampuan kamu, mengapa kamu tetap
menuruti permintaan Bapak untuk masuk ke jurusan IPA?”
Konseli : “Selama ini saya tidak pernah bisa
menolak keinginan Bapak saya, bu. Bapak saya punya sifat yang keras sekali.
Kalau keinginan Beliau tidak bisa terkabul, contohnya saja saat Kakak saya
menolak menikah dengan laki-laki yang dijodohkan oleh Ayah saya, Bapak tidak
segan-segan untuk mengusir Kakak saya dari rumah. Saya tidak bisa menolak keinginan
Ayah saya meskipun saya ingin.”
Konselor : “Dari cerita kamu tadi, rasa-rasanya
sekarang ini kamu sedang jengkel dengan diri kamu sendiri.”
Konseli : “Bagaimana saya tidak jengkel
dengan diri saya sendiri Bu? Saya ini perempuan. Yang saya tahu, perempuan
punya kharisma. Punya otoritas. Tapi mana keberanian, kharisma, dan otoritas
saya? Saya hanya berani tunduk di bawah ketiak Bapak saya.
Oke,
kalau hanya masuk ke jurusan IPA, mungkin saya masih bisa menerima. Tapi Bapak
sudah menargetkan saat kuliah nanti, saya harus bisa diterima di ITB, dengan
jurusan yang sudah Beliau tetapkan pula. Padahal, saya sekarang ini masih duduk
di
32
kelas XI. Pelajaran di jurusan IPA itupun apa,
saya belum bisa mengerti sepenuhnya. Saya bosan dengan kehidupan yang seperti
ini.”
Konselor : “Sesa, jika saya mengalami apa yang
kamu alami, saya pun pasti akan merasakan hal yang sama seperti yang kamu
rasakan saat ini. Lalu…?”
Konseli : “Saya datang kemari, untuk minta
pertolongan pada ibu… Saya ingin berubah.”
Konselor : “Berubah???”
Konseli : “Saya ingin sekali saja bisa
mengatakan tidak pada Bapak saya. Saya ingin mengaspirasikan apa yang
sebenarnya saya inginkan, tapi saya juga tidak ingin membuat beliau marah. Di
bangku sekolah, saya sudah harus memenuhi apapun yang diinginkan beliau, saat
kuliah nanti, saya tidak ingin menyia-nyiakan diri saya lagi. Saya ingin kuliah
sesuai dengan minat dan kemampuan saya. Karena di mana saya kuliah, akan
berpengaruh terhadap kehidupan saya selanjutnya.”
Konselor : “Secara singkatnya, kamu tidak mau
begitu saja mengiyakan perintah Bapak kamu, kamu ingin mencoba menjadi diri
kamu sendiri, tapi tidak ingin menerima resiko negative dari Bapak kamu.”
Konseli : “Sekarang coba ibu pikir, saya
selalu mengikuti keinginan Bapak saya, tanpa memperhatikan keinginan saya
sendiri. Apa saya ini boneka?
Saya
bukan boneka Bu… Saya manusia, yang punya perasaan dan keinginan.”
Konselor : “Baiklah, yang menjadi sumber
masalah di sini adalah, menurut kamu, Bapakmu senantiasa memaksakan apa yang
beliau inginkan untuk kamu
33
laksanakan, tidak peduli apakah kamu suka, mau
atau tidak melaksanakannya. Dan sampai saat ini kamu tidak bisa mengatakan
tidak pada Bapakmu, karena takut pengalaman yang terjadi pada Kakakmu, akan
terulang sekali lagi?”
Konseli : “Iya bu.
Konselor : “Menurut kamu, selama ini kamu
diperlakukan semena-mena oleh Bapakmu, sehingga kamu tidak bisa mengeluarkan
pendapat kamu, tidak bisa memutuskan sedikit hal saja tanpa dibayang-bayangi
oleh Bapakmu.”
Konseli : “Benar bu.”
Konselor : “Jika demikian, mari coba kita kaji
lebih mendalam, apa sebenarnya yang menyebabkan kamu tidak berani mengeluarkan
pendapat kamu dengan terus terang dan apa adanya.”
Konseli :Sudah saya katakan kan bu, kalau
saya takut dengan Bapak saya. Saya takut diusir dari rumah seperti Kakak…”
Konselor : “Sudah pernahkah kamu mencoba untuk
menolak keinginan Bapak kamu sekali saja?”
Konseli : “Ibu saya selalu mengatakan
‘jangan nak, kasihan Bapak…’ yang akhirnya membuat saya tidak bisa menolak lagi
bu…. Saya terpaksa harus mengikuti keinginan Bapak saya.”
Konselor : “Kamu setuju dengan apa yang
dilakukan Ibumu?”
Konseli : “Saya ingin sekali tidak setuju,
tapi bagaimana lagi? Saya tidak berani mencoba melawan Bu…”
34
Konselor : “Nah, kalau kamu tidak mencoba, maka
selamanya kamu akan seperti ini. Selalu harus mengikuti apa kemauan Bapak kamu.
Tidak punya otoritas atas diri kamu sendiri, tidak punya kesempatan untuk
mandiri, dan terus saja dibayang-bayangi oleh Bapak kamu.”
Konseli : “Jadi sebenarnya saya harus
melawan bu?”
Konselor : “Hari ini saya akan mengajari kamu,
bagaimana caranya supaya kamu bisa menjadi diri kamu sendiri, melawan otoritas
Bapak kamu, dan tidak selamanya tunduk di hadapan beliau. Kita akan coba
permainan dialog, atau yang lebih dikenal dengan sebutan empty chair.”
Konseli : “Empty chair? Kursi kosong?”
Konselor : “Benar....” (Konselor mengambil dua
kursi yang ada di ruangan, diletakkan berhadapan).
“Kali
ini kamu akan bermain peran dengan dua kursi ini sebagai medianya. Teknik ini
sendiri akan kita laksanakan 2 kali. Yang pertama adalah teknik untuk
mengetahui apa yang sebenarnya kamu inginkan sehubungan dengan pertentangan
nilai antara kamu dan Bapakmu. Dalam pelaksanaan yang pertama ini, kamu tidak
perlu menggunakan dua kursi. Satu kursi saja cukup untuk melaksanakan teknik
yang pertama. Kali ini, kamu harus membayangkan, pertentangan batin yang kamu
alami saat ini sehubungan dengan Bapakmu.
Bisa
dimengerti?”
35
Konseli : “Mmm… Saya masih bingung dengan
apa yang mesti saya lakukan bu,,,”
Konselor : “Baik. Begini… Saat ini kamu
merasakan dua hal yang saling bertentangan dalam pikiran kamu. Yaitu, pikiran
ingin melawan otoritas Bapakmu, dan pikiran akan ketakutan untuk melawan
beliau, padahal kamu ingin. Benar?”
Konseli : (Mengangguk-anggukkan kepala
setuju.)
Konselor : “Nah, yang akan kamu lakukan
sekarang adalah, katakan apapun yang ada dalam pikiran kamu saat ini sehubungan
dengan pertentangan tersebut. Anggap saja, pikiran yang menyuruh kamu melawan
adalah posisi under dog kamu, sedangkan pikiran yang menyuruh kamu menuruti
kata Bapakmu adalah posisi top dog mu. Dari sini, kita akan tahu, pikiran mana
yang akan kamu menangkan, dan dari sini pula kita akan mengambil tindakan ke
depan. Bagaimana? Mengerti?”
Konseli : “Ya bu… Saya mengerti.”
Konselor : “Baik, siapkan diri kamu sebelum
kita benar-benar mulai. Jika sudah siap, katakana siap!”
Konseli : “Saya siap bu…”
Konselor : “Baiklah, sekarang pikirkan apa yang
sebenarnya kamu inginkan saat ini sehubungan dengan keinginan-keinginan
Bapakmu!”
Konseli : “Mmm… Saya ingin mengatakan tidak
pada Bapak saya…”
Konselor : “Hanya itu yang kamu pikirkan?”
36
Konseli : “Tapi saya juga tahu itu tidak
mungkin.”
Konselor : “Kata siapa tidak mungkin?”
Konseli : “Mana mungkin saya bisa melawan
Bapak? Bapak selalu bilang, tugas seorang anak adalah berbakti kepada
orangtuanya. Dan salah satu wujud keberbaktian itu adalah dengan menuruti
seluruh keinginan orangtuanya. Saya pikir itu benar…” (top dog).
Konselor : “Ya… Itu memang benar. Tapi benarkah
menuruti semua keinginan orangtua itu namanya berbakti? Kamu mau, jadi kerbau
yang dicocok hidungnya terus menerus?”
Konseli : “Tentu saja tidak mau seperti itu.
Saya pun ingin melawan…” (under dog)
“Tapi
tentu saja saya tidak berani. Tiap hari saya dikasih makan oleh Bapak,
disekolahkan sampai saya bisa duduk di bangku SMA seperti sekarang. Punya ilmu,
masa saya harus melawan…” ( top dog).
“Tapi
mungkin kalau hanya melawan sekali saja, saya tidak akan berdosa..”(underdog)
“Namun, kalau saya tidak dosa, saya pasti tetap akan diusir dari rumah karena
tidak mau menuruti perintah Bapak…” ( top dog)
“Ah!
Diusir kan juga masih ada rumah nenek yang bisa saya singgahi. Lagian saya kan
anak laki-laki. Masa takut dengan ancaman macam itu? Saya harus melakukan
perubahan! Jangan sampai Bapak bersikap seperti ini terus. Kapan saya bisa maju
kalau hanya begini terus?” (under dog)
37
Konselor : “Tidak ada satupun harapan bagi
orang yang takut berusaha. Dan kamu pun demikian! Selamanya kamu akan tetap
menjadi bebek, mengikuti kemana saja Bapak mu menggiringmu!”
Konseli : “Tidak mau! Saya harus bisa
menjadi diri saya sendiri, dan sukses dengan pilihan saya!”
Konselor : “Bagus! Cukup dulu sesa… Nah, dari
sini kita tahu bahwa sebenarnya kamu percaya pada dirimu, kamu mengatakan bahwa
kamu bisa. Dan kita bisa ambil kesimpulan, bahwa kamu memang benar-benar harus
bisa melawan otoritas Bapakmu, kan?”
Konseli : “Betul bu, hanya saya tidak tahu
bagaimana harus mengungkapkan itu semua pada Bapak….”
Konselor : “Nah, di sinilah kita akan
melaksanakan teknik empty chair yang kedua, yang mana kamu akan menjalankan
peranmu dan peran Bapakmu dengan bantuan dua buah kursi. Anggap saja, kursi
yang ada di sebelah kanan Bapak, adalah kursi top dog, kursi tempat peran untuk
Bapakmu. Sedangkan kursi yang di sebelah kiri ini, sebagai kursi under dog,
yaitu kamu sendiri. Kamu harus berperan berganti-ganti menjadi diri kamu
sendiri dan menjadi Bapak kamu sesuai dengan instruksi saya. Dengan metode ini,
Bapak berpengalaman untuk membantu siswa menyelesaikan konflik dirinya
sehubungan dengan masalah-masalah yang tidak bisa selesai di waktu lalu. Kamu
pun juga akan belajar untuk mengatakan tidak, melalui teknik ini. Bagaimana,
kamu bersedia untuk mencoba?”
Konseli : “Tentu saja mau bu!”
38
Konselor : “Baik, persiapkan diri kamu dari
sekarang. Atur pernafasan sebaik mungkin, usahakan untuk rileks, dan silahkan
duduk di kursi under dog sini.”
Konseli : (mengikuti apa yang dikatakan
konselor sampai dia benar-benar siap).
Konselor : “Siap?...”
Konseli : (menggangguk-angguk)
Konselor : “Bayangkan ini adalah ruangan rumah
kamu yang biasanya menjadi tempat favorit Bapakmu. Dan kamu sedang duduk di
kursi itu, siap untuk mendapatkan wejangan yang berisi instruksi dari Bapak
kamu. Bayangkan, saat ini Beliau sedang berada di mana, dengan baju apa, dengan
dandanan yang seperti apa, dan melakukan apa.”
Konseli : (menghela nafas panjang). “Bapak
saya memakai kaos dalam buntung tanpa lengan warna putih, dengan celana pendek
berwarna biru, sambil menyulut rokoknya di kursi goyang kesayangannya.”
Konselor : “Nah, bagus. Sekarang, coba kamu
pindah ke kursi top dog, dan katakanlah apa yang Bapak kamu katakana sebagai
wejangan untukmu.”
Konseli : “(pindah ke kursi top dog) Kamu
ini sebagai anak Bapak, harus menjadi kebanggan Bapak. Bapak hanya punya kamu
sebagai anak laki-laki Bapak. Maka, kamu tidak boleh mempermalukan Bapak. Lulus
SMA nanti, kamu harus diterima di ITB. Dengan jalur PMDK akan lebih baik lagi.
Supaya teman-teman Bapak ini berdecak-decak kagum melihat kamu.”
Konselor : “Lanjutkan dengan kursi under dog
mu.”
39
Konseli : (pindah ke kursi under dog). “Tapi
syarat masuk ITB kan susah Bu…”
Konselor : “Katakan kata-kata Bapakmu yang
lebih keras lagi.”
Konseli : (pindah ke kursi top dog). “Justru
karena susah itu yang Bapak harapkan bisa kamu tempuh. Kalau teman-teman kamu
yang lain nggak bisa masuk ke sana, dan ternyata kamu bisa, otomatis kan kamu
bisa jadi unggulan to?”
Konselor : “Lanjutkan dengan kursi under dog
mu, dan lakukan terus itu sampai kamu bisa mengatakan tidak.”
Konseli : (pindah ke kursi under dog). “Iya
Bu… Tapi kan masuk ke ITB bukan semudah membalikkan telapak tangan. Lagipula
saya tidak ingin masuk ke sana kok.” (pindah ke kursi top dog). “Apa?!
(pindah
ke kursi under dog). “Saya ingin masuk Universitas Airlangga saja Pak… Lebih
dekat dengan sini” (pindah ke kursi top dog). “Bapak tidak mau tahu. Pokoknya
Bapak ingin kamu masuk ke sana.”
(pindah
ke kursi under dog). “Bapak pikir saya siapa? Saya bukan robot Pak… Saya bisa
menentukan apa yang harus saya jalani sendirian, tanpa perintah dari Bapak.”
(pindah
ke kursi top dog). “Ooo, kamu mau jadi anak durhaka rupanya ya? Mahal-mahal
sekolah, bisanya hanya seperti ini. Melawan pada Bapaknya.”
(pindah
ke kursi under dog). “Saya bukan melawan Pak… Saya hanya ingin sekali saja
menjadi diri saya sendiri. Saya tidak mau menjalani hidup saya dengan
terpaksa.”
40
(pindah ke kursi top dog). “Terpaksa kata
kamu? Menuruti keinginan orangtua itu terpaksa?”
(pindah
ke kursi under dog). “Ya. Selama ini pernahkah Bapak memberikan ruang gerak
untuk saya berpikir dan menentukan nasib saya sendirian? Pernahkan Bapak
mengizinkan saya untuk melakukan apa yang saya inginkan?” (pindah ke kursi top
dog). “Ya itu semua kan demi kebaikan kamu. Kamu ini anak ingusan! Apa yang kamu
tahu tentang kehidupan? Nggak ada to? Bapak ini lebih pinter daripada kamu!”
(pindah
ke kursi under dog). “Kalau Bapak memang lebih pinter, tentunya Bapak tidak
akan memaksakan kehendak Bapak untuk saya. Bapak mestinya memberikan semacam
kebebasan untuk saya berpendapat dan memilih jalan hidup saya sendiri.” (pindah
ke kursi top dog). “Ooo kamu ini memang sekarang sudah keblinger ya?!”
(pindah
ke kursi under dog). “Bukan keblinger Pak… Saya ini justru terpenjara. Terpaksa
mengikuti keinginan Bapak. Saya yang sekolah, Bapak yang senang. Saya yang
juara, Bapak yang bangga. Saya memperoleh penghargaan, Bapak yang bisa
mengunggul-unggulkannya di depan teman-teman Bapak. Sedang saya sendiri tidak
pernah merasakan hal semacam itu. Kalau saya tidak mengambil tindakan seperti
ini, lama-lama saya hanya tinggal kentut!”
(pindah
ke kursi top dog). “Maksud kamu apa?” (pindah ke kursi under dog). “Saya tidak
mau lagi mengikuti keinginan Bapak yang serba semaunya Bapak. Saya ingin
menjadi diri saya sendiri. Biarlah untuk sementara Bapak katakan saya anak
durhaka. Tapi saya akan buktikan, kalau saya bisa menjadi diri saya sendiri.
41
Kalau saya bisa berjaya dengan pilihan saya.
Dan saya tetap bisa membuat Bapak bangga dengan pilihan saya.”
(pindah
ke kursi top dog). “Kamu mau mengikuti jejak Kakak kamu, keluar dari rumah
ini?”
(pindah
ke kursi under dog). “Saya tidak takut dengan ancaman itu. Sekali lagi saya
akan menentukan pilihan saya sendiri. Dengan atau tanpa persetujuan Bapak. Saya
akan tetap menjadi yang terbaik.”
Konselor : “Cukup!”
Konseli : (menghela nafas panjang-panjang
dan mengerjap-ngerjapkan matanya). “Ternyata saya bisa!”
Konselor : “Nah, kamu sendiri bisa menyimpulkan
kan? Kalau kamu mau mencoba, maka kamu pasti bisa melakukannya. Namun, Bapak
tekankan di sini, jangan secepat itu mengambil kesimpulan tentang kuliah kamu.
Perjalanan untuk menuju ke sana masih jauh. Mungkin nanti kamu akan jadi suka
dengan pilihan Bapak kamu. Latihan di sini tadi, adalah latihan untuk membuat
kamu lebih tegas dalam segala hal, bukan hanya masalah kuliah. Kamu harus
menjadi diri kamu yang otonom, dan tidak bergantung orang lain.”
Konseli : “Terimakasih bu,,,,”
Konselor : “Baiklah, sepertinya, konseling
harus kita akhiri dulu, karena Bapak ada janji dengan temanmu yang lain. Ingat
pesan Bapak! Jadilah dirimu sendiri!”
Konseli : “Sekali lagi, terimakasih bu…,”
42
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
1.
Simpulan
Pendekatan konseling gestalt merupakan
pendekatan dalam layanan konseling yang memandang manusia sebagai keseluruhan,
bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian kepribadian. Terapi ini untuk
membantu individu yang mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan diri dalam
kehidupan dan lingkungannya, sedang individu tersebut memiliki gangguan
psikologis dan potensi yang dimiliki itu tidak dapat berkembang secar wajar.
Inti dari terapi ini adalah penyadaran individu, penyadaran ini menunjuk kepada
suatu jenis pengalaman saat ini dan berkembang karena hubungan individu dengan
lingkungannya dan penyadaran ini mencakup pikiran dan perasaan berdasarkan
persepsi individu pada saat sekarang terhadap situasi sekarang atau atau bahwa
yang paling prinsip adalah membantu individu untuk mencapai kesadaran akan
dirinya dan lingkungannya.
Praktek konseling gestalt yang efektif
melibatkan hubungan pribadi ke ppribadi antar konselor dengan konseli. Yang
penting adalah konseling secara aktif berbagi persepsi-persepsi dan pengalaman
sekarang ketika ia menghadapi konseli disini dan sekarang. Disamping itu
konselig memberi umpan balik, terutama yang berkaitan dengan apa yang dilakukan
oleh konseli melalui tubuhnya. Konselor harus menghadapi konseli tanpa menolak
konseli sebagai pribadi.
43
Proses membangkitkan perasaan pada
konseli dapat dicapai dengan cara mengembangkan hubungan atau aliansi
terapeutik yang kondusif, manusiawi dan menekankan pada aspek-aspek personal
konseli. Karena jika konseli dapat memperoleh kesadaran tentang masalah-masalah
yang tak terselesaikan, maka mereka
akan
menemukan jalan yang mudah menuju peemecahan masalah dan mencapai perkembangan
dan aktualisasai diri. Hubungan yang ditekankan dalam konseling gestalt adalah
hubungan yang unik yang mereka sebut “saya dan kamu’ hubungan ini menuntut
konselor dan konseli untuk sepenuhnya menghayati keadaan pada tataran “disini
dan sekarang”. Konselor bekerja dengan tulus dengan menyadari sepenuhnya
perasaan, pengalaman, dan persepsi mereka sendiri, serta membangun aklim yang
dapat mendorong konseli mengembangkan kepercayaan, kesadaran dan kesediaan
untuk mencoba cara-cara baru dalam merasa, berfikir dan bertindak.
2. Saran
Dalam pendekatan Gestalt diharapakan untuk pembuat
makalah ataupun pembaca makalah dapat memahami benar berbagai tujuan yang harus
dilakukan konselor untuk konselinya dalam
konseling.
44
Tidak ada komentar:
Posting Komentar