Jumat, 28 Agustus 2015

pendekatan gestalt



TUGAS MAKALAH
PENDEKATAN KONSELING GESTALT
Dosen: Abdul Chamid S.Pd Kons






Disusun oleh:
Nama: Farida Fitrotun Nisa
Progdi: Bimbingan dan Konseling/4A
NPM: 1113500060





FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahnya yang tercurahkan kepada kami. Shalawat serta salam Nabi kami panjatkan kepada junjungan Nabi besar kita Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai akhir zaman.
Atas anugerah dan bimbinganNya saya dapat menyelesaikan makalah ini yang merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Praktikum Konseling Individu. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saya samgat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalh ini.
Saya sampaikan terima kasih kapada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kami dan kepada para pembacanya.

Tegal, Mei 2015











i

DAFTAR ISI

Judul                                                                                                              
Kata Pengantar                                                                                                                       i
Daftar Isi                                                                                                                                 ii
Pendahuluan                                                                                                                           1
                        Tujuan                                                                                                             1
                        Pengambilan Sumber                                                                                      1
                        Tokoh dan Riwayat Konseling                                                                       2
Pembahasan                                                                                                                            5
Konsep Dasar Pendekatan Pendekatan Gestalt                                              5
Asumsi Perilaku bermasalah                                                                           13
Tujuan Konseling                                                                                            18
Peran Konseling                                                                                              20
Teknik Konseling                                                                                            23
Naskah Dialog Pelaksanaan Konseling                                                           29
Penutup                                                                                                                                   43
                        Simpulan                                                                                                         43
                        Saran                                                                                                               44











ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui teori konseling gestalt
2.      Umtuk mengetahui tokoh-tokoh teori gestalt
3.      Untuk mengetahu konsep dasar teori gestalt
4.      Untuk mengetahui tujuan teori konselig gestalt
5.      Untuk mengetahui  peran dan tekning konseling gestalt
B.     Pengambilan Sumber
Corey, Gerald 1995. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi
Bandung: PT.Eresco
Gudnanto.2012.Pendekatan Konseling.UMK.FKIP
Subandi M.A Psikoterapi.Unit Publikasi Fakultas Psikologi UGM: Pustaka Pelajar









1
C.     Tokoh dan Riwayat Konseling
Teori Gestalt diperkenalkan oleh Frederick (Fritz) Salomon Perls (1983-1970). Gestalt dalam bahasa Jerman mempunyai arti bentuk, wujud atau organisasi. Kata itu mengandung pengertian kebulatan atau keparipurnaan (Schultz, 1991:171). Simkin dalam (Gilliand, 1989:92) mengatakan bahwa kata Gestalt mempunyai makna keseluruhan (whole) atau konfigurasi (configuaration). Dengan demikian Perls lebih mengutamakan adanya integrasi bagian-bagian terkecil kepada suatu hal penting dan menjadi fungsi dasar bagi manusia.
Sejarah pendekatan Gestalt di awali sejak tahun 1926 ketika Perls mendapatkan gelar medical doctor (MD) pergi ke Frankfrut-ammain dan menjadi asisten Kurt Goldstein di The Intitute for Brain Damage Soldier. Di sinilah Perls bekerjasama dengan profesor Goldsteins dan Adhemar Gelb serta ia bertemu dengan calon istrinya, Laura. Pada waktu itu Frankfrut-ammain adalah pusat pergolakan intelektual dan Perls secara langsung dan tidak langsung terekpos dengan pengaruh filsafat eksistensial dan psikoanalisis yang menjadi akar pemikirannya dalam mengembangakan pendekatan Gestalt (Corey, 1976, p.120; yotnef 1993).
Terdapat tiga tokoh yang mempengaruhi perkembangan intelektual Perls hingga menghasilkan pendekatan Gestalt. Pertama Filsuf Sigmund Freudlander, dari dialah Perls mendapatkan konsep tentang diferrential thinking dan creative indiference, yang ia sebutkan dalam buku pertamanya, Ego, Hunger and Aggressipn (1947). Kedua Perls dipengaruhi oleh Jan Smuts, perdana menteri Afrika Utara dimana Perls pindah bersama keluarganya ketika melarikan diri dari Nazi German ketika Nazi menguasai Belanda. Sebelum menjadi perdana menteri, Smuts telah



2
 menulis buku utama tentang Holism and Evolution yang menjadi acuan perspektif Gestalt. Ketiga Alfred Korzybski, seorang ahli semantik yang berpengaruh pada perkembangan pemikiran intelektual Perls (Yotnef 1993).
Pendekatan Gestalt di mulai ketika Perls menulis Ego, Hunger and Aggressipn pada tahun 1941-1942. Terbitan pertama buku ini pada tahun 1946 di Afrika Utara yang berjudul A Revision of Freud’s and Method. Kemudian buku ini diterbitkan dengan judul The Beginning of Gestalt Therapy pada tahun 1966. Kata “Gestalt Therapy” pertama kali digunakan sebagai judul buku yang ditulis oleh Frederick Perls, Ralph Hefferline dan Paul Goddman pada tahu 1951. Tidak lama setelah dibentuknya The New York Intitute for Gestalt Therapy, yang bermarkas di apartemen milik Fritz dan Laura Perls di New York City (Corey, 1986, P.120). Apartemen mereka digunakan untuk seminar, workshop and diskusi kelompok para tokoh-tokoh yang mempelajari Gestalt, diantaranya Paul Weisz, Lotte Weidenfeld, Buck Eastman, Paul Goodman, Isadore From, Elliot Shapiro, Leo Chalfen, Iris Sanguilano, James Simkin dan Kenneth A. Fisher.
Penemu psikoterapi Gestalt adalah Frederick (Fritz) Perls dan mulai berkembang pada awal tahun 1950. Pendekatan Gestalt berfokus pada masa kini dan itu dibutuhkan kesadaran saat itu juga. Kesadaran ditandai oleh kontak, penginderaan, dan gairah. Kontak dapat terjadi tanpakesdaran, namun kesdaran tidak dapat dipisahkan dengan kontak. Geralt Corey dalam bukanya (Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, hal 118) mengatakan bahwa terapi Gestalt yang dikembangkan Frederick Perls adalah bentuk terapi yang mengharuskan individu menemukan




3
jalannya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan.
Ketika Behaviorisme berkembang pesat di Amerika Serikat, maka di negara Jerman muncul aliaran yang dinamakan Psikologi Gestalt (arti kata Gestalt, dalam bahasa Jerman, ialah bentuk, pola atau struktur). Para psikolog Gestalt yakin bahwa pengalaman seseorang mempunyai kualitas kestuan dan struktur. Aliran gestalt ini muncul  juga karena ketidakpuasan terhadap aliran struktualis, khususnya karena struktualis mengabaikan arti pengalaman seseorang yang kompleks, bahkan dijadikan elemen yang disederhanakan.
Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori gestal beroposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. Perintis teori Gestalt ini iaklah Chr. Von Ehrenfels, dengan karyanya “Uber Gestaltqualitation” (1890). Teori ini dibangun oleh tiga orang, Max Wertheimer, Wolfgang Kohler, dan Kurt Koffka, mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh.
Pengikut-pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi aliaran-aliran lain. Bagi yang mengikuti aliran Gestalt perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses difrerensiasi itu yang primer ialah keseluruhan, sedangkan bagian-bagiannya adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya.


BAB II
PEMBAHASAN


1.1  Konsep Dasar Pendekatan Konseling Gestalt
Terapi ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian melainkan suatu koordinasi semua bagian tersebut (perasaan, pikiran, dan sebagainya).
Psikoterapi gestalt menitikberatkan pada semua yang timbul pada saat ini. Pendekatan ini tidak memperhatikan masa lampau dan juga tidak memperhatikan yang akan datang. Jadi pendekatan gestalt lebih menekankan pada proses yang ada selama terapi berlangsung.
Terdapat beberapa prinsip yang mendasari teori Gestalt meliputi: holisme, teori lapangan, proses formasi figur, aturan organismis diri. Holisme: Menurut Latner (1986) Holisme merupakan salah satu prinsip pokok konseling Gestalt, semua perangai dipandang sebagai satu kesatuan dan seluruhnya koheren, dan semua berbeda dari setiap bagiannya. Teori Lapangan: konseling gestalt berdasarkan teori lapangan yang berdasar pada prinsip bahwa organisme harus dilihat dalam lingkungannya sendiri, atau dalam konteksnya, sebagai bagian lapangan yang berubah-ubah secara konstan, konseling gestalt merehat prinsip bahwa segala sesuatu itu seling berhubungan, saling  berkaitan dan ada dalam proses. Proses Formasi Figur: proses formasi figur menggambarkan bagaimana individu mengorganisir lingkungannya dari waktu ke waktu.



5
Dalam terapi gestalt lapangan yang tidak berbeda disebut sebagai background, dan munculnya fokus perhatian disebut figur (Latner, 1986).Keadaan yang sekarang merupakan masa yang paling penting dalam konseling Gestalt. Salah satu konstribusi utama pendekatan Gestalt adalah penekanannya pada pembelajaran untuk mengapresiasi dan pengalaman disaat sekarang. E Polster dan Polster (1973) mengembangkan tesis bahwa “kekuatan adalah keadaan yang ada saat ini”. Banyak orang menghabiskan energinya untuk menangisi kesalahan atau masa lalunya.
Konsep dasar pendekatan gestalt adalah kesadaran, dan saaran utama Gestalt adalah pencapaian kesadaran. Menurut buku M.A Subandi (psikoterapi. Hal.96) kesadaran meliputi:
1.      Kesadaran akan efektif  apabila didasarkan pada dan disemangati oleh kebutuhan yang ada saat ini yang dirasakan oleh individu.
2.      Kesadaran tidak komplit tanpa pengertian langsung tentang kenyataan suatu situasi dan bagaimana seseorang berada di dalam situasi tersebut.
3.      Kesadaran itu selalu ada di sini dan saat ini. Kesadaran adalah hasil penginderaan, bukan sesuatu yang mustahil terjadi.








6
Parsons mengemukakan beberapa asumsi pokoktentang manusia yang dipergunakan sebagai dasar dalam terapi gestalt, sebagi berikut:
1.      Manusia merupakan keseluruhan yang terdiri  dari badan, emosi, fikiran, semsasi, dan persepsi yang mempunyai fungsi dan saling berhubungan.
2.      Manusia adalah bagian dari lingkungannya dan tidak dapat dipelajari dan dipahami diluar dari itu.
3.      Manusia adalah proactive. Ia menentukan responnya terhadap stimulus yang dari lingkunganya.
4.      Manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi sadar akan sensasinya, pikiranya, emosinya, dan persepsi-persepsinya.
5.      Manusia melalui kesadaran diri mampu untuk memilih dan bertanggung jawab terhadap tindakan perilakunya.
6.      Manusia mempunyai perlengkapan dan sumber-sumber untuk kehidupannya secar efektif untuk mengembangkan diri melalui kemampuan yang dimilikinya sendiri.
7.      Manusia hanya dapat mengalami sendiri dalam masa sekarang. Masa lalu dan masa yang akan datang hanya dapat dialami dengan melalui mengingat-ingat.
Pendekatan konseling gestalt berpandangan bahwa manusia dalam kehidupanya  selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung, otak dsb, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan dan tingkah lakunya.




7
Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah: (1) tidak dapat dipahami, kecuali dalam keseluruhan konteksnya, (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitanya dengan lingkungannya itu, (3) aktor bukan reaktor, (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi, dan pemikiranya, (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab, (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif.
Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia, pendekatan konseling Gestalt memendang bahwa tidak ada yana “ada” kecuali “sekarang”. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani, oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang.
Dalam pendekatan konseling Gestalt ini, kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan, maka mereka mengalami kacemasan. Dalam pendekatan Gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business), yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, kebencian, sakit hati, kecemasan, kedudukan, rasa berdosa, rasa diabaikan. Meskipun tidak bisa diungkapkan, perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingatan-ingatan  dan fantasi-fantasi tertentu. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran, perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat



8
 hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-parasaan yang tak terungkapkan itu.
Pandangan pendekatan gestalt terhadap manusia dipengaruhi oleh filsafat eksistensial dan fenomenologi. Asumsi dasar pendekatan Gestalt tentang manusia adalah bahwa individu dapat mengatasi sendiri permasalahannya dalam hidup, terutama bila mereka menggunakan kesadaran akan pengalaman yang sedang dialami dan dunia sekitarnya. Gestalt berpendapat bahwa individu memiliki masalah karena menghindari masalah. Oleh karena itu pendekatan gestalt mempersiapkan individu dengan intervensi dan tantangan untuk membantu konseling mencapai integrasi diri dan menjadi lebih autentik.
Perls berkata individu akan lebih baik bila mereka kehilangan pikiran mereka dan beralih ke sensasi, artinya bahwa badan dan perasaan adalah indikator yang lebih baik dan bisa dipercaya untuk melihat kondisi psikologis individu. Tanda-tanda yang diperlihatkan oleh tubuh manusia seperti sakit kapala, tegang pada leher, sakit perut mungkin lebih dapat dipercaya bahwa kesadaran (awareness) saja bila menjadi “obat” bagi permasalahan individu. Dengan kesdaran penuh, individu dapat mengembangkan pengaturan diri (Self Regulation) dan dapat mengontrol dirinya (Thompson et. Al. 2004, p.184).






9
Pendekatan gestalt berpendapat bahwa individu yang sehat secara mental adalah:
-          Individu yang dapat mempertahankan kesadaran tanpa dipecah oleh berbagai stimulasi dari lingkungan yang dapat mengganggu perhatian individu. Orang tersebut dapat secara penuh dan jelas mengalami dan mengenali kebutuhannya dan alternatif potensi lingkungan untuk memenuhi kebutuhannya.
-          Individu yang dapat merasakan dan berbagi konflik pribadi dan frustasi tapi dengan kesadaran dan konsentrasi yang tinggi tanpa ada percampuran dengan fantasi-fantasi.
-          Individu yang dapat membedakan konflik dan masalah yang dapat diselesaikan dan tidak dapat diselesaikan.
-          Individu yang dapat mengambil tanggung jawab atasa hidupnya.
-          Individu yang dapat berfokus pada sustu kebutuhan (The Figure) pada satu waktu sambil menghubungkannya dengan kebutuhan yang lain (The Groud), sehingga ketika kebutuhan itu terpenuhi disebut juga Gestalt yang sudah lengkap.
Hakekat Manusia menurut Gestalt:
a.       Manusia merupakan keseluruhan yang terdiri dari badan, emosi, pikiran sensasi dan persepsi yang semuanya mempunyai fungsi dan seling berhubungan.
b.      Manusia merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungan itu.
c.       Manusia adalah proaktif. Ia menentukan responnya terhadap stimulus yang terdiri dari lingkungannya.



10
d.      Manusia berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi, dan pemikirannya.
e.       Manusia melalui kesadaran dapat memilih dan bertanggung jawab terhadap tindakan perilakunya.
f.       Manusia mempunyai perlengkapan dan sumber-sumber untuk kehidupannya secara efektif dan untuk mengembangkan diri melalui kemampuan yang dimilikinya sendiri.
g.      Manusia hanya dapat mengalami sendiri dalam masa sekarang, masa lalu dan masa yang akan datang hanya akan dapat  dialami dengan melalui mengingat-ingat.
Pandangan tentang kepribadian (produk dari interaksi antara individu dengan lingkungan yang dipersepsinya), dorongan utama individu adalah untuk mencapai self actualization dan self regulation. Dalam pendekatan gestalt adalah adanya pertentangan antara kepentingan sosial dan biologis, manusia sering menyatakan apa yang seharusnya dari pada apa yang sebenarnya. Hal ini akan mengarahkan pada manusia untuk berpandangan bahwa setiap individu tidak usah seperti apa adanya melainkan apa seharusnya.











11
Makna dari teori Gestalt adalah teori ini mengajarkan konselor dan konseli metode kesadran dan fenomenologi, yaitu bagaimana individu memahami, mersakan, dan bertindak serta membedakannya dengan interpretasi terhadap suatu kejadian dan pengalaman masa lalu. Teoriini juga dianggap teori yang hidup dan mempromosikan pengalaman langsung, bukan sekedar membicarakan permasalahan dalam konseling. Oleh karena itu, teori ini disebut juga exsperiental, dimana konseli merasakan, pikiran dan lakukan pada saat konseli berinteraksi dengan orang lain. (Corey,1986.p.120).
Teori gestalt merupakan suatu pendekatan konseling yang didasarkan pada suatu pemikiran bahwa individu harus dipahami pada konteks hubungan yang sedang berjalan dengan lingkungan (ongoing relationships).
Gestalt adalah sebuah teori yang menjalaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori Gestalt berposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.










12
1.2  Asumsi Perilaku Bermasalah 
Pendekatan gestalt mengarahkan konseli untuk secara langsung mengalami masalahnya dari pada hanya sekedar berbicara situasi yang sering kali bersifat abstrak. Dengan begitu, konselor gestalt akan berusaha untuk memahami secara langsung bagaimana konseli merasakan sesuatu, sehingga konselor akan “hadir sacara penuh” (fully persent) dalam proses konseling sehingga yang pada akhirnya memunculkan kontak yang murni  (genuine contacs) antara konselor dan konseli.
Terapi Gestalt yang dikembangkan oleh Frederick Perls adalah bentuk terapi eksistensial yang berpijak pada premis bahwa  individu-individu harus menemukan jalan hidupnya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan. Terapi Gestalt berfokus pada apa dan bagaimana-nya tingkah lakun dan pengalaman di sini dan sekarang dengan memadukan (mengintegrasikan) bagian-bagian kepribadian yang terpecah dan tak diketahui.
Asumsi dasar terapi gestalt adalah bahwa individu-individu mampu menangani sendiri masalah-masalah hidupnya secara efektif. Individu sering kali mengalami masalah dengan orang lain di masa lalu. Menuurut Gestalt, masa lalu yang belum terselesaikan atau terpecahkan disebut dengan Unfinished Business yang dapat dimanifestasikan dengan munculnya kemarahan, amukan, kebencian, cemas, duka ciat, rasa bersalah dan perilaku menunda, (Polster, dalam Corey, 2005) menyatakan bahwa beberapa bentuk perilaku akibat Unfinished Business adalah seseorang akan asyik dengan dirinya sendiri, memaksa orang lain untuk menuruti kehendakny, bentuk-bentuk perilaku yang menempatkan dirinya sebagai orang kalah, bahkan sering kali muncul  simptom-simptom penyakit fisik.



13
Individu bermasalah karena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan antara keberadaan “under dog”. Top dog adalah kekutan yang mengharuskan, menuntut, mengancam. Under dog adalah keadaan desensif, membela diri, tidak berdaya, lemah, pasif, ingin dimaklumi.
Individu bermasalah karena ketidakmampuan seseorang dalam mengintegrasikan pikiran, perasaan dan tingkah lakunya karena disebabkan mengalami kesenjangan antara masa sekarang dan masa yang akan datang.
Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self).
-          Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis
-           Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya.
-          Mengalami kesenjangan sekarang dan yang akan datang.
-           Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi.
Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi:
-          Kepribadian kaku (rigid)
-          Tidak mau bebes bertanggung jawab, ingin tetap tergantung
-          Menolak berhubungan dengan lingkungan
-          Memelihara unfinished bussiness
-          Menolak kebutuhan diri sendiri
-          Melihat diri sendiri dalam kontinu “hitam-putih”





14
Menurut Gestalt, individu menyebabkan dirinya terjerumus pada masalah-masalah tambahan, karena tidak mengatasi kehidupanya dengan baik pada kategori dibawah ini:
-          Kurang kontak dengan lingkungan, yaitu individu menjadi kaku dan memutus hubungan antara dirinya dengan orang lain dan lingkungan.
-          Confluence, yaitu individu yang terlalu banyak memasukan nilai-nilai dirinya kepada orang lain atau memasukan nilai-nilai lingkungan pada dirinya, sehingga meraka kehilangan pijakan dirinya dan kemudian lingkungan yang mengontrol dirinya.
-          Unfinished Business, yaitu orang yang memiliki kebutuhan yang tidak terpenuhi, perasaan yang tidak di ekspresikan dan situasi yang belum selesai yang mengganggu perhatiannya (yang mungkin dimanifestasikan dalam mimpi).
-          Fragmentasi, yaitu orang yang mencobauntuk menemukan atau menolak kebutuhannya seoerti kebutuhan agresi.
-          Topdog atau underdog; orang yang mengalami perpecahan pada kepribadiannya yaitu antara apa yang mereka pikir “Harus” dilakukan (Topdog) dan apa yang mereka “Inginkan” (Underdog).
-          Polaritas atau dikotonomi, yaitu orang cenderung untuk “bingung dan tidak dapat berkata-kata (Speechelss) pada saat terjadi dikotonomi dalam dirinya seperti antara tubuh dan pikiran (Body and Mind), antara diri dan lingkungan (Self external world), antara emosi dan kenyataan (Emotion Reality) dan sebagainya. (Thompson et. Al. 2004, p.185-186).




15
Contoh kasus: Rendi merupakan anak bungsu dari tiga saudara. Dua kakak dari konseli semuanya laki-laki, dan ketika Rendi masih kecil sering kali mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari kakaknya tersebut. Sering kali Rendi diminta secara paksa oleh kakaknya untuk mengerjakan tugas rumah tangga yang seharusnya dikerjakan oleh kakaknya, seperti menyapu, mencuci piring, dan uang jajan Rendi juga sering diminta  kakaknya tanpa sepengetahuan dari orang tuanya yang berprofesi sebagai pedagang. Hal inilah yang menyebabkan konseli merasakan keyakinan untuk membalas perilaku kakaknya sehingga membuat Rendi tumbuh menjadi remaja yang labil dan agresif, pernah suatu hari Rendi meminta uang secara paksa kepada teman satu kelasnya. Dan membuat dirinya dijauhi teman-temanya disekolah, hingga membuat Rendi berinisatif menemui konselor.
Proses konseling: dalam pendekatan gestalt  terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai, yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, kebencian, sakit hati, kecemasan, kedudukan, rasa diabaikan dsb. Maka akar masalah dari konseli dapat dikategorikan sebagai urusan yang tidak selesai, konseli juga mengalami konflik antara dua sisi kepribadian yang berlawanan yang berakar pada mekanisme introyeksi yang melibatkan penggabungan aspek-aspek dari orang lain, dalam hal ini dirinya sewaktu kecil yang lemah dan kakaknya yang otoriter.







16
Teknik kursi kosong merupakan suatu cara untuk mengajak konseli agar mampu mengeksternalisasikan introyeksinya. Dalam hal ini, dua kursi diletakkan di tengah ruangan, konselor meminta konseli untuk duduk di kursi yang satu dan memainkan peran sebagai top dog (otoriter yang diintroyeksikan dari kakaknya), kemudian pindah ke kursi lain menjadi under dog (lemah dan tak berdaya yang didintroyeksikan dari masa kecilnya). Dialog dilangsungkan diantara kedua sisi konseli.
Teknik ini membantu konseli untuk berhubungan dengan perasaan atau sisi dari dirinya sendiri yang diingkarinya, konseli mengintenatifkan dan mengalami secara penuh persaan-perasaan yang bertentangan, dari pada hanya membicarakannya, selanjutnya konselor membantu konseli untuk menyadari bahwa perasaan adalah bagian diri yang sangat nyata, untuk mencegah konseli memisahkan perasaan.
Evaluasi terhadap proses dan hasil konseling terjadi sebagai bagian konselor dan konseli dalam berpartisipasi. Setelah proses konseling, konseli menjadi lebih sadar tentang bagaimana ia berperilaku yang selama ini tidak disadarinya. Pada sesi konseling berlangsung, konselor dan konseli mungkin memberikan perhatian pada isu-isu kepribadian secara umum dan berbagai pola serta kondisi umum yang memberikan konstribusi pada berkurangnya keasdaran konseli. Selanjutnya, konseli membawa kesadarannya kedalam kehidupan sehari-hari dan mempertahankan serta mendasarkan dirinya padanya setelah proses konseling berakhir.







17
1.3  Tujuan Konseling
Tujuan utama konseling gestalt adalah membantu konseli agar berani menghadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa konseli haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak untuk meningkatkan kebermaknaan dalam hidupnya. Tujuan konseling gestalt yang ingin dicapai adalah menyadarkan (awareness) konseli terhadap apa yang sedang dialami dan bagaimana mereka menagani masalahya. Gestalt berkeyakinan bahwa melalui kesadaran ini maka perubahan akan mencul secara otomatis.
Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh, melainkan baru memanfaatkan sebagian dari potensi yang dimilikinya. Melalui konseling, konselor membantu konseli agar potensi yang baru dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal.
Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut:
-          Membantu konseli agar dapat memperoleh kesdaran pribadi memahami kenyataan atau realitas serta mendapatkan insigt secara penuh.
-          Membantu konseli menuju pencapaian integritas kepribadianya.
-          Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri. (to be true to himself)
-          Meningkatkan kesdaran individu agar konseli dapat bertingkah laku menurut prinsp-prinsip gestalt semua situasi bermasalah yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik.




18
Tujuan konseling gestalt yang bersifat unik, yakni membantu konseli agar mampu untuk:
a)      Mencapai kesadaran diri, sehingga bisa menghayati hidup pada tataran disini dan sekarang.
b)      Mengungkapkan masalah pribadi yang terselesaikan.
c)      Mencapai dan memanfaatkan sumber-sumber potensi pribadinya.
d)     Mengurangi ketergantungan pada orang lain dan lingkungan.
e)      Meningkatkan rasa bertanggung jawab, membuat pilar yang tepat dan memperoleh kemampuan diri.
f)       Melakukan kontak yang bermakna dengan semua aspek dirinya, orang lain dan lingkungannya.
g)      Meningkatkan harga diri, penerimaan diri dan aktualisasikan dirinya.
h)      Meningkatkan sense of wholeness, integrasi dan keseimbangan.











19
1.4  Peran Konseling
Dalam buku M.A Subandi dalam bukunya Psikoterapi dan menurut Gerald Corey dalam bukunya Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, dapat disimpulkan bahwa fokus utama konseling adalah bagaimana keadaan konseli sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya.
Tugas konselor adalah mendorong konseli untuk dapat melihat kenyataan yang da pada dirinya dan mau mencoba menghadapinya, konseli bisa diajak untuk memilih dua alternatif, menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Selain itu koselor diharapkan menghindari diri dari pikiran-pikiran yang abstrak, keinginan-keinginannya untuk melakukan diagnosis, interpretasi, maupun memberi nasehat.
Konselor sejak awal sudah mengarahkan tujuan agar konseli menjadi matang maupun menyingkirkan hambatan-hambatan yang menyababkan konseli tidak dapat berdiri  sendiri. Konselor membantu konseli menghadapi transisi dari  ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Usaha ini  dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan konseli. Pada saat konseli mengalami ketersesatan dan konseli menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya, dirinya tidak berdaya, bodoh atau gila. Konselor membantu membantu membuat perasaan konseli untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal.





20
Fokus utama konseling Gestalt adalah terletak ada bagaimana keadaan konseli sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong konseli untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. Dalam hal ini perlu diarahkan agar konseli mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh.
Dalam proses konseling gestalt, konselor memiliki peran dan fungsi yang unik, yaitu: konselor memfokuskan pada perasaan, kesadaran, bahasa tubuh, hambatan energi dan hambatan untuk mencapai kesdaran yang ada pada konseli, konselor adalah “Artistic Participant” yang  memiliki peranan dalam menciptakan hidup baru konseli, konselor berperan sebagai Projection Screen, konselor harus dapat membaca dan menginterpretasikan bentuk-bentuk bahasa yang dilontarkan konseli.
Peran konselor: menurut rigkasan Gudnanto (pendekatan konseling, 2012). Dalam  pendekatan teori Gestalt ini, peran konselor adalah:
1.      Memfokuskan pada perasaan konseli, kesadaran pada saat yang sedang berjalan, serta hambatan terhadap kesadaran.
2.      Menantang konseli sehingga mereka mau memanfaatkan indera mereka sepenuhnya dan berhubungan dengan pesen-tubuh mereka.
3.      Menaruh perhatian pada bahasa tubuh konseli sebagai petunjuk non verbal.
4.      Secara halus berkonfrontasi dengan konseli guna untuk menolong mereka menjadi sadar akan akibat dari bahasa mereka.





21
Fungsi konselor: konselor membantu konseli untuk menganalisis dan memahami apa yang ada/terjadi sekarang ini dan bagaimana berbuat sekarang ini, konselor bukan hanya menganalisis saja, tetapi lebih ditekankan untuk mengintegrasi perhatian dan kesadaran konseli.
Yang dimaksud dengan perhatian disini adalah mendengarkan apa yang diangan-angankan atau yang tidak disenangi sedangkan apa yang dimaksud dengan kesadaran adalah apa yang sedang dialaminya menyentuh pribadinya dan dunianya.
Hubungan konselor dengan konseli: M.A Subandi dalam bukunya (Psikoterapi, hal 89), hubungan antara konselor dan konseli adalah sejajar yaitu hubungan antara konseli dan konselor itu adanya/melibatkan dialog dan hubungan antara keduanya. Pengalaman-pengalaman kesadran dan persepsi konselor merupakan inti dari proses konseling.
Menurut Gerald Corey dalam bukunya (Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, hal 132), hubungan konselor dan konseli dalam praktek terapi Gestalt yang efektif  yaitu dengan melibatkan hubungan pribadian-kepribadian antara konselor dan konseli. Pengalaman-pengalaman kesadaran dan persepsi-presepsi konselor menjadi latar belakang, sementara kesadaran dan reaksi-reaksi konseli membentuk bagian muka proses terapi.






22
1.5  Teknik Konseling
Hubungan personal antara konselor dengan konseli merupakan hal inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. Dalam kaitan itu, teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh.
Prinsip kerja teknik konseling gestalt: Penekanan tanggung jawab klien, konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu konseli tetapi tidak akan bisa mengubah konseli, konselor menekankan agar konseli mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. Orientasi sekarang dan disini, dalam proses konseling, konselor tidak merekontruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar, tetapi memfokuskan kaadaan sekarang. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. Orientasi eksperimental, konselor meningkatkan kesadaran konseli tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya, sehingga dengan demikian konseli mengintegrasikan kembali dirinya: (a) konseli mempergunakan kata ganti personal konseli mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan; (b) konseli mengambil peran dan bertanggung jawab; (c) konseli menyadari bahwa ada hal-hal positif dan atau negatif pada diri atau tingkah lakunya.









23
Teknik-teknik konseling gestalt:
Permainan Dialog, teknik ini dilakukan dengan cara konseli dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya: (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak; (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh; (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” (d) kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung; (e) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. Melalui dialog yang kontradiktif ini, menurut pandangan Gestalt pada akhirnya konseli akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi dimana ia berani mengambil resiko. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.
Latihan Saya Bertanggung Jawab, merupakan teknik yang dimaksudkanuntuk membantu konseli agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta koonseli untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian konseli menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat: “...dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Misalnya: “Saya merasa jenuh, dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu”, “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang, dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”, “Saya malas, dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”. Meskipun tampaknya mekanis, tetapi menurut gestalt akan membantu meningkatkan kesadaran konseli akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.



24
Bermain Proyeksi, proyeksi artinya memantulkan kepada oarang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Mengingkari parasaan-perasaan sendiri dengan cara mementulkannya kepada orang lain. Sering terjadi, perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupkan atribut yang dimilikinya. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada konseli untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.
Teknik Pembalikan, gejala-gejal dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta konseli untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Misalnya: konselor memberi kesempatan kepada konseli untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi konseli pemalu yang berlebihan.
Tetap dengan Perasaan, teknik ini dapatdigunakan untuk konseli yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Konselor mendorong konseli untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Kebanyakan konseli ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini konselor tetap mendorong konseli untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan parasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong konseli untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.




25
Tahap Konseling Gestalt.
Tahap-tahap pada proses konseling gestalt adalah:
a.       Tahap Pertama (the beginning phase)
Konselor menggunakan metode fenomologi untuk meningkatkan kesadaran konseli, menciptakan hubungan dialogis mendorong keberfungsian konseli secara sehat dan menstimulasi konseli untuk mengembangkan dukungan pribadi (personal support) dan lingkungannya (Joyce and Still 2001 dalam Safari 2005). Secara garis besar proses yang dilalui dalam konseling tahap pertama adalah: menciptakan tempat yang aman dan nyaman (safe container) untuk proses konseling, mengembangkan hubungan kolaboratif (working alliance), mengumpulkan data, pengalaman konseli, dan keseluruhan gambaran kepribadiannya dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab pribadi konseli, membangun sebuah hubungan yang dialogis, membuat prioritas dan kesimpulan diagnosis terhadap konseli.
b.      Tahap Kedua (clearing the ground)
Pada tahap ini proses konseling berlanjut pada strategi-strategi yang lebih spesifik. Konselor mengeksplorasi berbagai introyeksi, berbagai modifikasi kontak yang dilakukan dan unfinished business. Disini peran konselor adalah secara berkelanjutan mendorong dan membangkitkan keberanian konseli mengungkapkan eksperesi pengalaman dan emosi-emosinya dalam rangka meningkatkan kesadaranya, tanggung jawab pribadi dan memahami unfinished bisiness.




26
c.       Tahap Ketiga (the existensial encounter)
Pada tahap ini ditandai dengan aktifitas yang dilakukan konseli dengan mengeksplorasi masalahnya secara mendalam dan membuat perubahan-perubahan secara signifikan. Tahap ini merupakan fase tersulit karena pada saat ini konseli menghadapi kecemasan-kecemasanya sendiri, ketidakpastian dan ketakutan-ketakutan yang selama ini terpendam dalam diri. Selain itu, konseli menghadapi perasaan terancam yang kuat disertai dengan perasaan kehilangan harapan untuk hidup yang lebih mapan, pada fase ini konselor memberikan keyakinan ketika konseli cemas dan ragu-ragu menghadapi masalahnya.
d.      Tahap Keempat (integration)
Pada tahap ini konseli sudah mulai dapat mengatasi krisis-krisis yang dieksplorasi sebelumnya dan mulai mengintegrasikan keseluruhan diri (self), pengalaman dan emosi-emosinya dalam perspektif yang baru. Konseli telah mampu menerima ketidakpastian, kecemasan dan ketakutannya serta menerima tanggung jawab atas kehidupannya sendiri, tahap ini terdiri dari beberapa langkah sbb: membentuk kembali pola-pola hidup dalam bimbingan pemahaman baru dan insigt  baru, memfokuskan pada pembuatan kontak relasi yang memuaskan, berhubungan dengan masyarakat dan komunitas secara luas, menerima ketidakpastian dan kecemasan yang dapat menghasilkan makna-makna baru, menerima tanggung jawab untuk hidup  baru.





27
e.       Tahap Kelima (ending)
Pada tahap ini konseli siap untuk memulai kehidupan secara mandiri tanpa supervise konselor, yang ditandai oleh proses-proses berikut: berusaha untuk melakukan tindakan antisipasi akibat hubungan konseling yang telah selesai, memberikan proses pembahasan kembali isu-isu yang ada, merayakan apa yang telah dicapai, menerima apa yang belum tercapai, melakukan antisipasi dan perencanaan terhadap krisis dimasa depan, membiarkan pergi dan melanjutkan kehidupan.















28
1.6  Naskah Dialog Konseling
Konseli            : Tok… Tok… Tok… (mengetuk pintu ruang konseling)
Konselor          : “Ya, silahkan masuk” (menghentikan aktivitas menulis dan bersikap attending)
Konseli            : (membuka pintu dan memandang konselor sebelum masuk ke dalam ruangan)
Konselor          : “Oh Sesa Ayo masuk Nak, jangan berdiri saja di situ. Coba kesini…”
Konseli            : (mengangguk dan berjalan masuk ke ruangan)
Konselor          : (berdiri dan menyambut kedatangan Arda dengan senyum hangat)
“Nah, silahkan duduk.”
Konseli            : “baik bu “ (sambil duduk)
Konselor          : “Seminggu liburan tidak terasa juga ya? Sekarang semester baru sudah dimulai lagi. Anak-anak baru sudah mulai masuk sekolah dengan kegiatan inti, kakak-kakakmu yang kelas XII juga sudah mulai sibuk dengan persiapan Ujian Akhir Nasional mereka yang syarat kelulusannya lebih rumit dibandingkan dengan tahun lalu. Kamu dan teman-temanmu yang duduk di kelas XI pun sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan kalian yang baru ya? Teman baru, guru baru, materi-materi yang lebih spesifik, tahun ini kamu jadi masuk IPA kan Nak?
Konseli            : “Iya bu,...” (sambil menunduk lesu)




29
Konselor          : “Di tahun ajaran ini, masih tetap setia dengan ekskul basket? Ibu dengar, prestasi kamu di bidang basket benar-benar mengagumkan ya? Sampai kamu terpilih menjadi kapten basket puteri tim junior kita?”
Konseli            : “Ah, ibu bisa saja! Hanya tim basket junior kok, bukan tim basket inti. Dan saya rasa semua orang juga bisa menjadi kapten tim basket junior, bukan hanya saya. Kebetulan saja, kakak-kakak kelas dan pelatih basket kita memilih saya. Padahal kalau mau memilih yang lain juga banyak kok…”
Konselor          : “Meskipun kamu bilang hanya kebetulan, tapi ibu rasa keterampilan kamu dalam bidang basket itu bisa membuat kamu menjadi orang yang sukses lho nantinya. Jadi, kalau kamu tidak hanya memandang prestasi kamu sebagai suatu kebetulan, melainkan kamu memang mempunyai keinginan untuk menjadi yang terbaik dalam bidang basket, ibu rasa itu bukan sesuatu yang buruk. Kamu bisa menjadi pemain basket yang ahli nantinya.”
Konseli            : “Terimakasih bu, mungkin saya akan berusaha.”
Konselor          : “Jangan mungkin! Kamu harus berusaha! Kembangkan apa yang kamu bisa lakukan sesuai dengan porsi yang tepat.”
Konseli            : Baiklah bu, semoga saya bisa.”
Konselor          : “Nah, begitu akan lebih baik untuk kamu. O ya, sejak tadi kita sudah membicarakan mengenai liburan, dan juga prestasi kamu dalam bidang basket. Selanjutnya, apakah mungkin ada hal lain yang ingin kamu bicarakan pada ibu sehubungan dengan kedatangan kamu kesini? Kalau memang ada, bicarakanlah.”




30
Konseli            : “Terus terang saja memang ada yang ingin saya bicarakan dengan ibu. Untuk itu saya datang kemari menemui ibu.
Konselor          : “Nah, bicaralah Nak… ibu akan mendengarkan kamu, mendengarkan cerita kamu, dan pada akhirnya nanti akan membantu kamu supaya kamu bisa menemukan solusi sendiri atas masalah yang mungkin kamu hadapi saat ini. Sudah tugas ibu untuk membantu siswa-siswa di sini menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya.”
Konseli            : “Hhhh….” (menghela nafas panjang)
Konselor          : (Diam, membiarkan konseli berpikir sejenak)
Konseli            : “Saya ada masalah dengan Bapak saya bu,,”
Konselor          : “Hm…..”
Konseli            : “Sebenarnya masuk ke jurusan IPA kali ini bukanlah keinginan saya bu…,,”
Konselor          : “Bukan keinginan kamu?..”
Konseli            : “Ya Sungguh itu bukan keinginan saya sendiri. Saya justru ingin masuk jurusan IPS, yang menurut saya lebih sesuai dengan kemampuan dan jiwa saya. Saya tidak terlalu suka dengan pelajaran-pelajaran eksak yang akan saya temui di jurusan IPA, meskipun selama ini nilai-nilai saya selalu bagus. Saya justru lebih suka dengan ilmu sosial, yang menurut saya lebih nyata, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.”
Konselor          : (mengangguk-angguk)



31
Konseli            : “Tapi Bapak saya memaksa saya untuk masuk ke jurusan IPA. Kata Beliau, jurusan IPA adalah yang terbaik, memiliki nilai pandang yang lebih tinggi ketimbang jurusan IPS yang biasanya berisi anak-anak buangan. Sudah begitu, kata Bapak, anak IPS nakal-nakal pula. Jadilah saat ini saya terdampar di jurusan yang tidak sesuai dengan minat saya, sebenarnya.”
Konselor          : “Nah, nah, nah, kalau memang menurut kamu itu tidak sesuai dengan jiwa dan kemampuan kamu, mengapa kamu tetap menuruti permintaan Bapak untuk masuk ke jurusan IPA?”
Konseli            : “Selama ini saya tidak pernah bisa menolak keinginan Bapak saya, bu. Bapak saya punya sifat yang keras sekali. Kalau keinginan Beliau tidak bisa terkabul, contohnya saja saat Kakak saya menolak menikah dengan laki-laki yang dijodohkan oleh Ayah saya, Bapak tidak segan-segan untuk mengusir Kakak saya dari rumah. Saya tidak bisa menolak keinginan Ayah saya meskipun saya ingin.”
Konselor          : “Dari cerita kamu tadi, rasa-rasanya sekarang ini kamu sedang jengkel dengan diri kamu sendiri.”
Konseli            : “Bagaimana saya tidak jengkel dengan diri saya sendiri Bu? Saya ini perempuan. Yang saya tahu, perempuan punya kharisma. Punya otoritas. Tapi mana keberanian, kharisma, dan otoritas saya? Saya hanya berani tunduk di bawah ketiak Bapak saya.
Oke, kalau hanya masuk ke jurusan IPA, mungkin saya masih bisa menerima. Tapi Bapak sudah menargetkan saat kuliah nanti, saya harus bisa diterima di ITB, dengan jurusan yang sudah Beliau tetapkan pula. Padahal, saya sekarang ini masih duduk di



32
 kelas XI. Pelajaran di jurusan IPA itupun apa, saya belum bisa mengerti sepenuhnya. Saya bosan dengan kehidupan yang seperti ini.”
Konselor          : “Sesa, jika saya mengalami apa yang kamu alami, saya pun pasti akan merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan saat ini. Lalu…?”
Konseli            : “Saya datang kemari, untuk minta pertolongan pada ibu… Saya ingin berubah.”
Konselor          : “Berubah???”
Konseli            : “Saya ingin sekali saja bisa mengatakan tidak pada Bapak saya. Saya ingin mengaspirasikan apa yang sebenarnya saya inginkan, tapi saya juga tidak ingin membuat beliau marah. Di bangku sekolah, saya sudah harus memenuhi apapun yang diinginkan beliau, saat kuliah nanti, saya tidak ingin menyia-nyiakan diri saya lagi. Saya ingin kuliah sesuai dengan minat dan kemampuan saya. Karena di mana saya kuliah, akan berpengaruh terhadap kehidupan saya selanjutnya.”
Konselor          : “Secara singkatnya, kamu tidak mau begitu saja mengiyakan perintah Bapak kamu, kamu ingin mencoba menjadi diri kamu sendiri, tapi tidak ingin menerima resiko negative dari Bapak kamu.”
Konseli            : “Sekarang coba ibu pikir, saya selalu mengikuti keinginan Bapak saya, tanpa memperhatikan keinginan saya sendiri. Apa saya ini boneka?
Saya bukan boneka Bu… Saya manusia, yang punya perasaan dan keinginan.”
Konselor          : “Baiklah, yang menjadi sumber masalah di sini adalah, menurut kamu, Bapakmu senantiasa memaksakan apa yang beliau inginkan untuk kamu



33
 laksanakan, tidak peduli apakah kamu suka, mau atau tidak melaksanakannya. Dan sampai saat ini kamu tidak bisa mengatakan tidak pada Bapakmu, karena takut pengalaman yang terjadi pada Kakakmu, akan terulang sekali lagi?”
Konseli            : “Iya bu.
Konselor          : “Menurut kamu, selama ini kamu diperlakukan semena-mena oleh Bapakmu, sehingga kamu tidak bisa mengeluarkan pendapat kamu, tidak bisa memutuskan sedikit hal saja tanpa dibayang-bayangi oleh Bapakmu.”
Konseli            : “Benar bu.”
Konselor          : “Jika demikian, mari coba kita kaji lebih mendalam, apa sebenarnya yang menyebabkan kamu tidak berani mengeluarkan pendapat kamu dengan terus terang dan apa adanya.”
Konseli            :Sudah saya katakan kan bu, kalau saya takut dengan Bapak saya. Saya takut diusir dari rumah seperti Kakak…”
Konselor          : “Sudah pernahkah kamu mencoba untuk menolak keinginan Bapak kamu sekali saja?”
Konseli            : “Ibu saya selalu mengatakan ‘jangan nak, kasihan Bapak…’ yang akhirnya membuat saya tidak bisa menolak lagi bu…. Saya terpaksa harus mengikuti keinginan Bapak saya.”
Konselor          : “Kamu setuju dengan apa yang dilakukan Ibumu?”
Konseli            : “Saya ingin sekali tidak setuju, tapi bagaimana lagi? Saya tidak berani mencoba melawan Bu…”



34
Konselor          : “Nah, kalau kamu tidak mencoba, maka selamanya kamu akan seperti ini. Selalu harus mengikuti apa kemauan Bapak kamu. Tidak punya otoritas atas diri kamu sendiri, tidak punya kesempatan untuk mandiri, dan terus saja dibayang-bayangi oleh Bapak kamu.”
Konseli            : “Jadi sebenarnya saya harus melawan bu?”
Konselor          : “Hari ini saya akan mengajari kamu, bagaimana caranya supaya kamu bisa menjadi diri kamu sendiri, melawan otoritas Bapak kamu, dan tidak selamanya tunduk di hadapan beliau. Kita akan coba permainan dialog, atau yang lebih dikenal dengan sebutan empty chair.”
Konseli            : “Empty chair? Kursi kosong?”
Konselor          : “Benar....” (Konselor mengambil dua kursi yang ada di ruangan, diletakkan berhadapan).
“Kali ini kamu akan bermain peran dengan dua kursi ini sebagai medianya. Teknik ini sendiri akan kita laksanakan 2 kali. Yang pertama adalah teknik untuk mengetahui apa yang sebenarnya kamu inginkan sehubungan dengan pertentangan nilai antara kamu dan Bapakmu. Dalam pelaksanaan yang pertama ini, kamu tidak perlu menggunakan dua kursi. Satu kursi saja cukup untuk melaksanakan teknik yang pertama. Kali ini, kamu harus membayangkan, pertentangan batin yang kamu alami saat ini sehubungan dengan Bapakmu.
Bisa dimengerti?”





35
Konseli            : “Mmm… Saya masih bingung dengan apa yang mesti saya lakukan bu,,,”
Konselor          : “Baik. Begini… Saat ini kamu merasakan dua hal yang saling bertentangan dalam pikiran kamu. Yaitu, pikiran ingin melawan otoritas Bapakmu, dan pikiran akan ketakutan untuk melawan beliau, padahal kamu ingin. Benar?”
Konseli            : (Mengangguk-anggukkan kepala setuju.)
Konselor          : “Nah, yang akan kamu lakukan sekarang adalah, katakan apapun yang ada dalam pikiran kamu saat ini sehubungan dengan pertentangan tersebut. Anggap saja, pikiran yang menyuruh kamu melawan adalah posisi under dog kamu, sedangkan pikiran yang menyuruh kamu menuruti kata Bapakmu adalah posisi top dog mu. Dari sini, kita akan tahu, pikiran mana yang akan kamu menangkan, dan dari sini pula kita akan mengambil tindakan ke depan. Bagaimana? Mengerti?”
Konseli            : “Ya bu… Saya mengerti.”
Konselor          : “Baik, siapkan diri kamu sebelum kita benar-benar mulai. Jika sudah siap, katakana siap!”
Konseli            : “Saya siap bu…”
Konselor          : “Baiklah, sekarang pikirkan apa yang sebenarnya kamu inginkan saat ini sehubungan dengan keinginan-keinginan Bapakmu!”
Konseli            : “Mmm… Saya ingin mengatakan tidak pada Bapak saya…”
Konselor          : “Hanya itu yang kamu pikirkan?”




36
Konseli            : “Tapi saya juga tahu itu tidak mungkin.”
Konselor          : “Kata siapa tidak mungkin?”
Konseli            : “Mana mungkin saya bisa melawan Bapak? Bapak selalu bilang, tugas seorang anak adalah berbakti kepada orangtuanya. Dan salah satu wujud keberbaktian itu adalah dengan menuruti seluruh keinginan orangtuanya. Saya pikir itu benar…” (top dog).
Konselor          : “Ya… Itu memang benar. Tapi benarkah menuruti semua keinginan orangtua itu namanya berbakti? Kamu mau, jadi kerbau yang dicocok hidungnya terus menerus?”
Konseli            : “Tentu saja tidak mau seperti itu. Saya pun ingin melawan…” (under dog)
“Tapi tentu saja saya tidak berani. Tiap hari saya dikasih makan oleh Bapak, disekolahkan sampai saya bisa duduk di bangku SMA seperti sekarang. Punya ilmu, masa saya harus melawan…” ( top dog).
“Tapi mungkin kalau hanya melawan sekali saja, saya tidak akan berdosa..”(underdog) “Namun, kalau saya tidak dosa, saya pasti tetap akan diusir dari rumah karena tidak mau menuruti perintah Bapak…” ( top dog)
“Ah! Diusir kan juga masih ada rumah nenek yang bisa saya singgahi. Lagian saya kan anak laki-laki. Masa takut dengan ancaman macam itu? Saya harus melakukan perubahan! Jangan sampai Bapak bersikap seperti ini terus. Kapan saya bisa maju kalau hanya begini terus?” (under dog)



37
Konselor          : “Tidak ada satupun harapan bagi orang yang takut berusaha. Dan kamu pun demikian! Selamanya kamu akan tetap menjadi bebek, mengikuti kemana saja Bapak mu menggiringmu!”
Konseli            : “Tidak mau! Saya harus bisa menjadi diri saya sendiri, dan sukses dengan pilihan saya!”
Konselor          : “Bagus! Cukup dulu sesa… Nah, dari sini kita tahu bahwa sebenarnya kamu percaya pada dirimu, kamu mengatakan bahwa kamu bisa. Dan kita bisa ambil kesimpulan, bahwa kamu memang benar-benar harus bisa melawan otoritas Bapakmu, kan?”
Konseli            : “Betul bu, hanya saya tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan itu semua pada Bapak….”
Konselor          : “Nah, di sinilah kita akan melaksanakan teknik empty chair yang kedua, yang mana kamu akan menjalankan peranmu dan peran Bapakmu dengan bantuan dua buah kursi. Anggap saja, kursi yang ada di sebelah kanan Bapak, adalah kursi top dog, kursi tempat peran untuk Bapakmu. Sedangkan kursi yang di sebelah kiri ini, sebagai kursi under dog, yaitu kamu sendiri. Kamu harus berperan berganti-ganti menjadi diri kamu sendiri dan menjadi Bapak kamu sesuai dengan instruksi saya. Dengan metode ini, Bapak berpengalaman untuk membantu siswa menyelesaikan konflik dirinya sehubungan dengan masalah-masalah yang tidak bisa selesai di waktu lalu. Kamu pun juga akan belajar untuk mengatakan tidak, melalui teknik ini. Bagaimana, kamu bersedia untuk mencoba?”
Konseli            : “Tentu saja mau bu!”



38
Konselor          : “Baik, persiapkan diri kamu dari sekarang. Atur pernafasan sebaik mungkin, usahakan untuk rileks, dan silahkan duduk di kursi under dog sini.”
Konseli            : (mengikuti apa yang dikatakan konselor sampai dia benar-benar siap).
Konselor          : “Siap?...”
Konseli            : (menggangguk-angguk)
Konselor          : “Bayangkan ini adalah ruangan rumah kamu yang biasanya menjadi tempat favorit Bapakmu. Dan kamu sedang duduk di kursi itu, siap untuk mendapatkan wejangan yang berisi instruksi dari Bapak kamu. Bayangkan, saat ini Beliau sedang berada di mana, dengan baju apa, dengan dandanan yang seperti apa, dan melakukan apa.”
Konseli            : (menghela nafas panjang). “Bapak saya memakai kaos dalam buntung tanpa lengan warna putih, dengan celana pendek berwarna biru, sambil menyulut rokoknya di kursi goyang kesayangannya.”
Konselor          : “Nah, bagus. Sekarang, coba kamu pindah ke kursi top dog, dan katakanlah apa yang Bapak kamu katakana sebagai wejangan untukmu.”
Konseli            : “(pindah ke kursi top dog) Kamu ini sebagai anak Bapak, harus menjadi kebanggan Bapak. Bapak hanya punya kamu sebagai anak laki-laki Bapak. Maka, kamu tidak boleh mempermalukan Bapak. Lulus SMA nanti, kamu harus diterima di ITB. Dengan jalur PMDK akan lebih baik lagi. Supaya teman-teman Bapak ini berdecak-decak kagum melihat kamu.”
Konselor          : “Lanjutkan dengan kursi under dog mu.”



39
Konseli            : (pindah ke kursi under dog). “Tapi syarat masuk ITB kan susah Bu…”
Konselor          : “Katakan kata-kata Bapakmu yang lebih keras lagi.”
Konseli            : (pindah ke kursi top dog). “Justru karena susah itu yang Bapak harapkan bisa kamu tempuh. Kalau teman-teman kamu yang lain nggak bisa masuk ke sana, dan ternyata kamu bisa, otomatis kan kamu bisa jadi unggulan to?”
Konselor          : “Lanjutkan dengan kursi under dog mu, dan lakukan terus itu sampai kamu bisa mengatakan tidak.”
Konseli            : (pindah ke kursi under dog). “Iya Bu… Tapi kan masuk ke ITB bukan semudah membalikkan telapak tangan. Lagipula saya tidak ingin masuk ke sana kok.” (pindah ke kursi top dog). “Apa?!
(pindah ke kursi under dog). “Saya ingin masuk Universitas Airlangga saja Pak… Lebih dekat dengan sini” (pindah ke kursi top dog). “Bapak tidak mau tahu. Pokoknya Bapak ingin kamu masuk ke sana.”
(pindah ke kursi under dog). “Bapak pikir saya siapa? Saya bukan robot Pak… Saya bisa menentukan apa yang harus saya jalani sendirian, tanpa perintah dari Bapak.”
(pindah ke kursi top dog). “Ooo, kamu mau jadi anak durhaka rupanya ya? Mahal-mahal sekolah, bisanya hanya seperti ini. Melawan pada Bapaknya.”
(pindah ke kursi under dog). “Saya bukan melawan Pak… Saya hanya ingin sekali saja menjadi diri saya sendiri. Saya tidak mau menjalani hidup saya dengan terpaksa.”




40
 (pindah ke kursi top dog). “Terpaksa kata kamu? Menuruti keinginan orangtua itu terpaksa?”
(pindah ke kursi under dog). “Ya. Selama ini pernahkah Bapak memberikan ruang gerak untuk saya berpikir dan menentukan nasib saya sendirian? Pernahkan Bapak mengizinkan saya untuk melakukan apa yang saya inginkan?” (pindah ke kursi top dog). “Ya itu semua kan demi kebaikan kamu. Kamu ini anak ingusan! Apa yang kamu tahu tentang kehidupan? Nggak ada to? Bapak ini lebih pinter daripada kamu!”
(pindah ke kursi under dog). “Kalau Bapak memang lebih pinter, tentunya Bapak tidak akan memaksakan kehendak Bapak untuk saya. Bapak mestinya memberikan semacam kebebasan untuk saya berpendapat dan memilih jalan hidup saya sendiri.” (pindah ke kursi top dog). “Ooo kamu ini memang sekarang sudah keblinger ya?!”
(pindah ke kursi under dog). “Bukan keblinger Pak… Saya ini justru terpenjara. Terpaksa mengikuti keinginan Bapak. Saya yang sekolah, Bapak yang senang. Saya yang juara, Bapak yang bangga. Saya memperoleh penghargaan, Bapak yang bisa mengunggul-unggulkannya di depan teman-teman Bapak. Sedang saya sendiri tidak pernah merasakan hal semacam itu. Kalau saya tidak mengambil tindakan seperti ini, lama-lama saya hanya tinggal kentut!”
(pindah ke kursi top dog). “Maksud kamu apa?” (pindah ke kursi under dog). “Saya tidak mau lagi mengikuti keinginan Bapak yang serba semaunya Bapak. Saya ingin menjadi diri saya sendiri. Biarlah untuk sementara Bapak katakan saya anak durhaka. Tapi saya akan buktikan, kalau saya bisa menjadi diri saya sendiri.





41
 Kalau saya bisa berjaya dengan pilihan saya. Dan saya tetap bisa membuat Bapak bangga dengan pilihan saya.”
(pindah ke kursi top dog). “Kamu mau mengikuti jejak Kakak kamu, keluar dari rumah ini?”
(pindah ke kursi under dog). “Saya tidak takut dengan ancaman itu. Sekali lagi saya akan menentukan pilihan saya sendiri. Dengan atau tanpa persetujuan Bapak. Saya akan tetap menjadi yang terbaik.”
Konselor          : “Cukup!”
Konseli            : (menghela nafas panjang-panjang dan mengerjap-ngerjapkan matanya). “Ternyata saya bisa!”
Konselor          : “Nah, kamu sendiri bisa menyimpulkan kan? Kalau kamu mau mencoba, maka kamu pasti bisa melakukannya. Namun, Bapak tekankan di sini, jangan secepat itu mengambil kesimpulan tentang kuliah kamu. Perjalanan untuk menuju ke sana masih jauh. Mungkin nanti kamu akan jadi suka dengan pilihan Bapak kamu. Latihan di sini tadi, adalah latihan untuk membuat kamu lebih tegas dalam segala hal, bukan hanya masalah kuliah. Kamu harus menjadi diri kamu yang otonom, dan tidak bergantung orang lain.”
Konseli            : “Terimakasih bu,,,,”
Konselor          : “Baiklah, sepertinya, konseling harus kita akhiri dulu, karena Bapak ada janji dengan temanmu yang lain. Ingat pesan Bapak! Jadilah dirimu sendiri!”
Konseli            : “Sekali lagi, terimakasih bu…,”



42
BAB III
PENUTUP
1.      Simpulan 
Pendekatan konseling gestalt merupakan pendekatan dalam layanan konseling yang memandang manusia sebagai keseluruhan, bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian kepribadian. Terapi ini untuk membantu individu yang mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan diri dalam kehidupan dan lingkungannya, sedang individu tersebut memiliki gangguan psikologis dan potensi yang dimiliki itu tidak dapat berkembang secar wajar. Inti dari terapi ini adalah penyadaran individu, penyadaran ini menunjuk kepada suatu jenis pengalaman saat ini dan berkembang karena hubungan individu dengan lingkungannya dan penyadaran ini mencakup pikiran dan perasaan berdasarkan persepsi individu pada saat sekarang terhadap situasi sekarang atau atau bahwa yang paling prinsip adalah membantu individu untuk mencapai kesadaran akan dirinya dan lingkungannya.
Praktek konseling gestalt yang efektif melibatkan hubungan pribadi ke ppribadi antar konselor dengan konseli. Yang penting adalah konseling secara aktif berbagi persepsi-persepsi dan pengalaman sekarang ketika ia menghadapi konseli disini dan sekarang. Disamping itu konselig memberi umpan balik, terutama yang berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh konseli melalui tubuhnya. Konselor harus menghadapi konseli tanpa menolak konseli sebagai pribadi.






                                                43

Proses membangkitkan perasaan pada konseli dapat dicapai dengan cara mengembangkan hubungan atau aliansi terapeutik yang kondusif, manusiawi dan menekankan pada aspek-aspek personal konseli. Karena jika konseli dapat memperoleh kesadaran tentang masalah-masalah yang tak terselesaikan, maka mereka
akan menemukan jalan yang mudah menuju peemecahan masalah dan mencapai perkembangan dan aktualisasai diri. Hubungan yang ditekankan dalam konseling gestalt adalah hubungan yang unik yang mereka sebut “saya dan kamu’ hubungan ini menuntut konselor dan konseli untuk sepenuhnya menghayati keadaan pada tataran “disini dan sekarang”. Konselor bekerja dengan tulus dengan menyadari sepenuhnya perasaan, pengalaman, dan persepsi mereka sendiri, serta membangun aklim yang dapat mendorong konseli mengembangkan kepercayaan, kesadaran dan kesediaan untuk mencoba cara-cara baru dalam merasa, berfikir dan bertindak.
2.      Saran
Dalam pendekatan Gestalt diharapakan untuk pembuat makalah ataupun pembaca makalah dapat memahami benar berbagai tujuan yang harus dilakukan konselor untuk konselinya dalam  konseling.










44

Tidak ada komentar:

Posting Komentar